Dec 29, 2008

Kejujuran “Kecil” Vs. Kebohongan "Kecil"

Pernahkah kita mengalami atau mendengar kejadian/percakapan seperti berikut:

1. Penanya: “Bisakah nanti sore ke tempat saya?”
Penjawab (Mungkin Kita) : “Wah maaf mas, aku ada acara. (Padahal faktanya: “Maaf mas saya agak malas”)

2. Penanya: “Tolong pak, sumbangan untuk masjid dan anak yatim.”
Penjawab (Mungkin Kita) : “Wah, kemarin saya sudah bantu!”/ “Wah saya nggak ada uang! (Padahal faktanya: “Nih orang beneran nggak ya cari sumbangan untuk anak yatim? Nggak tipu-tipu kah?”)

3. Penanya: “Lho tadi malam kemana, kok nggak hadir di undangan kami?”
Penjawab (Mungkin Kita): “Pak, mohon maaf kami ada acara keluarga dadakan! (Padahal faktanya: Saya ketiduran)

4. Penanya: “Selamat Pagi Pak, kenapa kok telat?”
Penjawab (Mungkin Kita): “Maaf jalanan macet Pak!” (Padahal faktanya: Saya ngantar anak sekolah dulu, karena mamanya agak sakit)

5. Dan kebohongan-kebohongan “kecil” dikeseharian kita……

Kebohongan-kebohongan kecil diatas, akan memberi kepuasan sesaat. Kepuasan karena kita tidak mengatakan kejujuran yang menurut kita merepotkan dan menyakitkan, serta membuat orang lain kecewa. Kepuasan semu yang pada akhirnya akan mengecewakan dan mencelakakan, khususnya bagi “kesehatan personal” kita.

Padahal, kebohongan "kecil" tersebut sering lebih menguras energi yang berkepanjangan daripada kejujuran “kecil “ yang menyakitkan di awal. Karena kebohongan "kecil" kita tersebut akan menuntut kita untuk melakukan kebohongan-kebohongan lain guna menutupi kebohongan "kecil" kita sebelumnya.

Kebohongan "kecil" yang sering tanpa sadar kita lakukan akan membudaya dalam kehidupan sehari-hari kita, menjadi mindset, menjadi sebuah excuse atas ketidakberdayaan kita untuk berkata jujur, dan celakanya akan menjadi salah satu value kehidupan kita.

Dan kebohongan "kecil", pada saatnya nanti akan berakumulasi menjadikan kita sebuah pembohong handal yang tidak merasa bersalah (baca berdosa) atas kebohongan tersebut.
So, sebelum terlambat, mari dengan sekuat tenaga kita katakan "kejujuran kecil", apa adanya (tentunya dengan cara yang baik, sopan dan memenuhi etika umum), meski kadang harus diikuti dengan “kesakitan”, kekecewaan dan extra effort dalam menyampaikannya.

Kelihatannya, akan lebih baik sakit di depan tapi setelah itu ada “kenyenyakan dalam tidur “ kita, daripada ada kepuasaan semu diawal tapi dikuti dengan ketidaknyamanan , rasa bersalah dan “kesakitan-kesakitan” yang lain dibelakang waktu nanti. (written for http://busori.blogspot.com/)

Dec 22, 2008

(Selamat) Hari IBU

Kekaguman saya terhadap peran seorang wanita semakin mendalam ketika suatu kali sekitar 4 tahun lalu, saya kirimkan ucapan selamat hari IBU kepada beberapa rekan para ibu sekaligus pekerja.

Salah satu dari mereka bukannya berterima kasih, malah diam dan mempertanyakan apa maksud ucapan tersebut, sembari menunjukkan rasa kurang berkenannya. Saya yang selama ini merasa telah ”master” tentang wanita, bingung tak terkira.

Satu hal yang akhirnya saya tahu, para Ibu mungkin tidak pernah memandang jasanya yang tak ternilai tersebut sebagai sebuah sumbangsih besar dalam sebuah lingkaran kehidupan. Bukti sebuah ketulusan yang tanpa pamrih.

Ibu adalah permata, maka tak heran nilainya tiga kali lipat dari seorang ayah,
Sorgapun rela berada dibawah telapaknya,
Ibu bak tongkat estapet peradaban,
Dan yang pasti, Ibu adalah Ibu yang tulus untuk anak, suami, dan keluarganya.

.....................................
Namun masih ada orang yang berpendapat bahwa seorang wanita adalah ”sejenis penyakit..” Terbukti adanya sebuah tulisan di papan seorang Dokter, ”Specialist in Woman and Other Diseases”.....

(Selamat) Hari IBU
Maafkan saya yang lebih bisa diam dalam mengucapkan terima kasih kepadamu daripada hanya dengan sebuah kata-kata (selamat)...

Dec 5, 2008

Asyiknya Berbagi

Saya tak ingat sudah berapa kali pohon jambu air di belakang rumah itu berbuah, sejak sekitar 4 tahun lalu ketika pertama kali kami tempati rumah perusahaan. Tapi yang selalu teringat bahwa ketika jambu air itu berbuah, buahnya yang merah menggiurkan, sangat lebat. Meski rasanya tidak terlalu manis, agak asem dan berair, namun rona warna merahnya dan lebatnya menggoda siapapun yang melihatnya untuk mampir dan minta.

Mungkin karena merasa tidak menanamnya (tinggalan penghuni rumah sebelumnya), dan melihat buahnya yang sangat lebat seakan tak pernah habis, selama ini kami biarkan saja buah jambu air itu berjatuhan, dan menjadi kompos. Kecuali pak Kebun dan mbak Cuci yang mengambil, kadang pemotong rumput yang kebagian rejeki.

Hingga pagi tadi, saat rasa bosen tinggal didalam rumah terus menggerogoti, kami keluar ke belakang rumah. Lagi-lagi kulihat pohon jambu air yang hampir semua batangnya dipenuhi warna merah buahnya. Selintas ingatku melayang ke seorang teman yang sedang hamil dan sedang lembur. “Mbak, mau jambu, nih banyak sekali jambu air sedang berbuah. Kalau ada yang lain ajak ya teman-teman, bawa karung pun pasti nggak muat!”, kuhubungi dia lewat handphone yang selalu saya sakui, karena pemanggil rasanya tak pernah mengenal hari libur.

5 menit kemudian, 4 teman datang, dan seperti mereka yang pernah melihat buah jambu kami, teman2 pun pada ternganga melihat lebatnya jambu air. Tak menunggu waktu lama, ketiga dari mereka langsung memanjat pohon jambu sambil berseloroh ramai dan ngobrol kesana-kemari.

Di tengah asyiknya memanjat, tiba-tiba mas Budi berteriak-teriak, karena diserbu oleh kumpulan ”klanceng” si tawon kecil. Terpontang-panting dia turun, memegangi kepalanya sambil ditertawai oleh rekan-rekan yang lain. Sambil meringis kesakitan dan kepanasan karena sengatan lebah kecil yang berjumlah puluhan, dia masih belum puas mengisi kresek besarnya, mencari cabang lain untuk segera memenuhi kresek hitamnya.

Setelah sekitar 5 kresek besar penuh oleh jambu merah, kami teruskan minum es kelapa muda bergula jawa. Hasil kebun samping rumah juga. Kebetulan kemarin pak Kebun kami minta memanen kelapa kuning yang juga berbuah lebat disebelah rumah. Meski masih muda, namun nggak apa-apa daripada keduluan si tupai, yang biasanya cuma ninggalin kami kelapa bolong.

Setelah puas ngobrol sambil menikmati es kelapa muda, rekan-rekan pun kembali ke kantor sambil masing-masing membawa kresek besar penuh berisi jambu air merah. Jambu air yang selama ini kami biarkan berjatuhan dan terkesan tak bernilai, ternyata bernilai juga dalam menyambung silaturahmi. Saat berbagi, ukuran kecil besar, sedikit banyak ternyata tidak lagi menjadi sebuah masalah. Yang lebih penting, didalamnya ada ketulusan, persahabatan, persaudaraan, silahturahmi dan rasa berbagi. Asyik kan!!!!!

Aplikasi Terbaik WM 6.1 untuk HTC Touch Diamond



PDA Personal Pocket PC, adalah layaknya sebuah PC/Laptop dilihat dari segi kemampuannya. Hanya bentuknya saja yang compact.

Aplikasi yang dibenamkan juga hampir sejenis dengan PC. Kali ini kebetulan yang ada ditangan adalah PPC PDA HTC Touch Diamond yang berbasis Windows Mobile Pro 6.1.

Terus terang, PPC ini sangat luar biasa. Mulai dari cameranya dengan setting lengkap (termasuk panorama), kemampuan Office toolnya sampai kemampuan dasarnya untuk panggilan dan sms (threaded view). Belum lagi tekhnologi Touch Flow 3D nya yang pasti akan membuat terkagum-kagum. Tak kalah dengan smartphone lain yang lagi ngetrend, fitur push multi e-mailnya, mulai dari email kantor, yahoo, gmail dan outlooknya juga ok.

Selain aplikasi bawaannya yang memang luar biasa, asyiknya HP berbasis WM ini kompatibel dengan ratusan bahkan ribuan aplikasi di pasaran, sehingga fungsinya kian lengkap. Saking banyaknya aplikasi tambahan yang bisa dibenamkan, anda tidak akan sadar, saat peringatan keterbatasan Memory muncul.

Berikut adalah contoh aplikasi yang sudah saya coba di HTC diamond. Beberapa diantaranya berbayar, namun sepadan dengan fungsinya. Salah satunya yang akan saya ulas secara mendetail adalah aplikasi terkait gravity sensor.

=================
Accelerometer yang di pasang pada HTC Touch Diamond adalah komponen hardware yang sangat bermanfaat. Dengan nya anda, antara lain, bisa memutar beberapa aplikasi di HTC Diamond sesuai keinginan (landscape atau potret).

Sayangnya secara default, HTC Diamond hanya mengaktifkan G-Sensor untuk aplikasi tertentu semisal Opera Mobile, HTC Photo Album atau game Teeter. Aplikasi lain belum mengaplikasikan mode ini, sehingga tidak bisa auto rotate.

Untungnya hal ini bisa dipecahkan dengan menambahkan satu software tambahan yang bisa di download secara gratis. Software gratis SKKV bernama GSEN yang memecahkan masalah tersebut. Dengan memakai software ini, anda bisa menjalankan beberapa aplikasi dg Gsensor, sehingga aplikasi di HTC Diamond anda bisa dalam mode landscape. Yang paling terbantu dengan software tambahan ini adalah Office Mobile (Word, Excell, Note, PPT), selain tentunya SMS, MMS, Internet Explorer.

HTC Diamond ku setelah dipasang dengan G Sensor.


Dengan memasangnya di HTC Diamond kesayangan, akhirnya saya bisa memutar aplikasi-aplikasi dalam bentuk landscape/potret kemanapun tangan diarahkan. Dan dari beberapa freeware gratisan yg pernah saya coba di HTC Diamond, freeware ini kelihatannya the best so far. Mau mencoba. Silahkan download software nya di link ini. Download GSen.

Selain GSen untuk bisa memutar layar, bisa memakai applikasi lain misalnya Changescreen, dan lain-lain.

+++++++++++++++++++++++++++++

Beberapa aplikasi yang telah terpasang di HTC Diamond saya adalah:

1. Call Firewall/SmartBlock: untuk blacklist dan whitelist
2. Sun/Moon Compass: Penunjuk arah berdasar matahari dan bulan
3. Imobiler: Untuk memindahkan screen HP ke Komputer
4. Penpower WorldCard Mobile: Identifikasi Kartu Nama langsung masuk Contact
5. Dinarsoft Memmaid: Repair
6. Mobile SMS Export: Menyimpan SMS
7. ShakeandSave: Menyimpan tampilan screen
8. Mobiletag: Identifikasi Reader
9. English Dictionary
10. Flash Player
11. GoogleMaps
12. Magicall
13.IntaComputer ACR
14. Changescreen
15. GARMIN XT: Untuk navigasi
16. Shazam
17. Waktu Sholat
18. Mobile AR (Augmented Reality)]
19. Smart Lyrics
20. Qur'an
21. Lighter, dan lain-lain

Masih banyak lagi software untuk HP berbasis Windows Mobile yang sangat membantu....

Anda tertarik? Klik dan download di sini: http://wmpoweruser.com/?p=1320

Nov 30, 2008

Pesta di Atas Atap - Roof Top Party -

Malam ini, sehabis berputar-putar di seputaran Bandung Timur, aku coba menghibur diri dengan ikut sebuah pesta sekaligus makan malam di atas atap hotel. Alunan live musik dan suara merdu penyanyi ternyata tidak juga menarik minatku untuk duduk tenang. Sehabis makan malam, terasa tidak ada lagi yang menarik.

Perlahan aku bergeser keluar arena, ke pinggiran atap. Sekeliling selepas pandangan mata, terlihat lampu malam yang menerangi kota Bandung seakan tak pernah padam, baik yang berasal dari gedung2 pencakar langit maupun penerangan city walk atau apalah istilahnya.

Namun kali ini, tidak seperti pemandangan malam2 sebelumnya dari kamar hotel, langit malam tampak tak kalah terang oleh kelap-kelip bintang dan bulan.

Kelipnya tanpa sadar membawaku kembali ke sekitar 20-an tahun lalu, ketika di setiap musim kemarau, aku selalu ikut kakakku menjaga air untuk mengaliri tanaman jagung. Jika tidak ditunggui, jatah air bisa-bisa mengalir ke sawah tetangga.

"Dik, lihat itu yang paling besar dan terang sinarnya!. Itu bintang penunjuk arah selatan". Tiba2 suara kakak seakan mampir di telinga. Malam-malam seperti ini, dulu, kami sering telentang diatas rumput berbalut sarung yg sekaligus digunakan untuk shalat berjamah di musholla. Favorit kami adalah berbaring di atas rumput teki, di pinggir jalan masuk ke desa, diseberang sawah, sambil melihat luasnya langit. Sang bulan yang terlihat sebagian belang, sering mengusik pikiran kecilku, ttg cerita bidadari yang cantik jelita.

Ah,.... pada kemana ya teman-temanku dulu yang sering nakut-nakuti dengan suara aneh di malam2 seperti ini?????? Pasti salah satu dari mereka sedang melihat bulan yang sekarang aku lihat itu, sehingga seakan ada tali penghubung ke kenangan itu....

Tiba-tiba, lamunanku dibuyarkan oleh tepukan halus di punggung, "Mas, ayo kembali ke kamar. Sudah jam satu nih......"

Download Ebook, Peta, Tools Gratis

I. Peta

1. Peta Samarinda Download

2. Wisata Kaltim Download

3. Peta Mudik Jawa Download

4. Peta Bandung Download

5. Peta Malang Download

6. Peta Jogya Download

7. Peta Jakarta & Sekitarnya Download

8. Peta Semarang Download

9. Peta Busway Download

10. Peta Mudik Jawa Sumatra Download

11. Peta Jalur Kereta & Busway Download

12. Peta Interaktif Yogyakarta Download

13. Peta Tempat Makan Yogyakarta Download


II. AGAMA ISLAM

1. Alqur'an dan Terjemahan Download

2. Hadis Download

3. Kisah Hidup Nabi Muhammad Download

4. 40 Hadis Qudsi Download

5. Kisah Para Nabi Download

6. Dajjal Download

7. Indeks Alqur'an Download

8. Sifat Wudlu Nabi Download

9. Qadla & Qadhar Download

10. Alqur'an & Terjemahan untuk HP Symbian Download

11. The Choice Download

12. Hakikat Tasawuf Download

13. Sifat Rasulullah Download


III. Personal Development

1. Test Kemampuan Umum Download

2. Kuis ttg Amerika Download

3. Tes Motivasi Download


IV. RESEP

1. Aneka Jus Download

2. Formula Download

3. Ice Cream Download


V. Ebook & Tools Gratis

1. Waktu Dunia Download

2. Sulap dan Teori Download

3. Kamasutra Download

4. BhagavadGita Download

5. Arti Mimpi Download

Nov 20, 2008

Suatu Malam di Jakarta

“Penumpang yang terhormat. Sesuai peraturan penerbangan sipil, kami akan memperagakan bla, bla, bla………”.. Remang-remang suara Pramugari yang sedang memperagakan pemakaian sabuk pengaman dan hal-hal terkait safety memudar dari pendengaran. Selanjutnya seperti biasanya, sehabis mengencangkan sabuk pengaman, waktu penerbangan Balikpapan- Jakarta terisi dengan tidur lelap, tanpa mimpi apapun.

Sekitar 6-7 jam sebelumnya, sekitar setengah jam aku berargumen dengan Bos, menolak ditugaskan ke Jakarta. Info dinas baru diberikan jam 12.00 saat makan siang, padahal dari tempat kerja; Bontang, ke Balikpapan dimana bandara internasional/nasional berada, perlu waktu 5 jam lewat darat. Kalau pagi sih masih bisa pakai pesawat charter perusahaan yg hanya butuh waktu 35 menit dari Bontang ke Balikpapan. Sayangnya hari itu pesawat charter perusahaan hanya terbang pagi jam 07.00.

Terbayang capeknya lewat darat, padahal penerbangan terakhir dari BPP ke JKT jam 06.30 malam. Belum lagi tugas ke JKT hanya mengikuti rapat yg sebenarnya bisa ku monitor dari jauh, baik lewat telepon, email maupun mode informasi lain.

Namun benar kata pepatah, “Boss is not always right, but Boss is still Boss”. Meski setengah mati aku kasih argument ttg tidak perlunya harus hadir secara fisik, Boss tetap berkeputusan “You must go, and tomorrow morning attend the meeting at 8.30. If you can’t catch the flight to JKT, you fly to Surabaya and stay overnight there. Early in the morning you catch the first flight to attend the meeting. TITIK!.”

Jam 13.00 saya mulai naik taxi. Karena rata-rata taxi perlu 5 jam dari Bontang ke Balikpapan, kebayang betapa kencangnya itu pak Sopir mengendarai si sedan tua nya. Di taxi, aku sempatkan hubungi travel agent untuk booking hotel, sambil kuminta menungguku sampai jam 18.00. Jangan tutup dulu. Juga ku kontak perwakilan Balikpapan untuk konfirmasi tiket, dg embel-embel ancaman yg menyertai jawaban perwakilan Balikpapan, ” Mas, kalau sampeyan nggak nyampek jam 18.00 di sini, kemungkinan sampeyan akan ketinggalan”.

Syukurlah sampai di Bandara jam 18.15 dengan selamat (mengingat nggak karuannya kecepatan p. sopir), langsung nyamber tiket. Sempat-sempatnya rekan baikku diperwakilan BPP pesan kaos dr JKT. Segera aku berlari ke arah pintu masuk saat kudengar pengumuman, ” Mohon perhatian, pesawat bla,bla,bla jurusan Jakarta mengalami penundaaan sekitar 30 menit…….”. Alhamdulillah…….. Baru kali ini aku bersyukur atas ditundanya penerbangan. Sebelum-sebelumnya, kalau nggak marah2 dalam hati ya ngedumel….. Yang lebih hebat lagi ternyata nggak hanya ditunda 30 menit… bahkan aku dikasih diskon sampai lebih dari 1 jam penundaaan. (Kalau ini sih sudah keterlaluan, dan aku kembali ngedumel lagi)

“Mas, permisi mas. Bisa geser sedikit”
Aduhh… siapa sih nih orang. Kenapa tadi sebelum naik pesawat nggak ke toilet dulu supaya nggak ngganggu orang saat tidur gini. Ganggu tidur aja! Kulihat dari ujung mata, seorang wanita setengah baya sekitar umur 32-40-an, terlihat rapi, mau masuk ke tempat duduk di sebelah jendela. Wah darimana nih orang? Nggak lihat keluarnya, kok tiba-tiba tahu baliknya doang. Apa saking lelapnya tidurku ya……

Kelihatannya dia merasakan kekesalanku, “Maaf ya mas, ngganggu”.

Karena nggak tega atas rasa bersalahnya, ku jawab sekenanya, sesopan-sopannya, “Silahkan mbak, ndak pa-pa”.

“Mau permen mas,” Aduh ini orang baiknya nggak ketulungan sampai bikin jengkel. Terpaksa kubuka mata, untuk praktik kesopanan. Cilakanya kuambil juga itu permen. Maklum di penerbangan ini jangankan permen, minumpun modal sendiri. “Terima kasih Mbak”

“Mas, mau kemana kok kelihatannya gelisah sekali. Baru pertama ya ke Jakarta. Atau karena ada urusan sangat penting”, Sempat kulihat sekilas wajahnya. Terlihat wajahnya yang ayu, khas wajah Sunda, temaram oleh penerangan pesawat yang nggak terlalu terang. Jangan-jangan inipun biar penghematan, pakai lampu kabin temaram… Mungkin karena penerbangan murah!!!!. Cara berpakaiannya yang rapi dan serasi, dan ketika sekilas kulirik aksesoris yg dipakai menunjukkan bahwa si Mbak adalah orang berkelas.

“Eh, kok malah ngelamun mas?” Weleh-weleh, aku makin terdesak. Jangan2 nih orang bisa mbaca pikiranku lagi.

“Sudah berkali- kali sih ke Jakarta, tapi ya itu, capek mbak kalau bepergian ke Jakarta. Mana mendadak lagi”, tanpa sadar kutumpahkan kekesalanku pada Bos yg secara "semena-mena" menyuruhku berangkat tanpa persiapan kepada siMbak…….

Dengan senyumnya yang manis, si Mbak dg santainya menenangkan kegalauanku.

“Ah, biasa mas, kalau urusan pekerjaan biasanya sih memang gitu. Tak mengenal waktu. Eh, ngomong-ngomong kita belum kenalan ya…. Nama saya Wulandari Kurniasari. Saya sih asli Jakarta, jadi kalau mas mau bareng saya ke tempat tujuan bisa sekalian jalan. Kita searah kok, daripada naik Taxi, malam-malam gini.”

Eit, perasaan perkenalan kami baru saja, belum 30 menit. Tapi kesannya kok sudah lama ya. Dan kami sudah nggak terlalu kikuk lagi. Apa karena seirama ya? Bahkan tidak ada kesan “murahan” saat dia menawarkan tumpangan, meski baru kenal.

Dan dia kok tahu hotel yang ku booking ya? Oh iya ya… tadi tanpa sadar aku keceplosan kalau sudah pesan sebuah kamar di hotel seputaran Jl. MH Thamrin. Kusambut uluran tangan perkenalan Mbak Wulandari sambil kusebutkan namaku.

Sempat kulihat lebih jelas Wulan saat kami berjabatan tangan. Tangannya yg halus menunjukkan bahwa sehari-hari dia tidak pernah kerja kasar. Kulitnya yang bersih, pasti menghabiskan banyak makeup. Rambutnya sepundak dicat agak kecoklatan tidak mencolok, membuatnya semakin klasik. Jari tangannya dihiasi dua buah cincin. Sedang arloji yg dipakai juga gemerlap tersinari lampu kabin. Pikiranku yg melayang nggak karuan buyar manakala dia menggoyang-goyangkan tangannya yang masih kupegang.

“Mas, ngelamun ya…..”

He,he,he….. dasar mantan buaya…. nggak bisa lihat cewek rapi… teriakku kepada diriku sendiri,,, tentunya dalam hati…….

“Gimana, biar aku antar saja ke Hotel, daripada nanti kesasar lho…..”, tak sengaja masih kulihat kedipan matanya yg semakin indah,,… atau aku yang semakin mabuk ya…….. Bulu matanya yang lentik, pasti rutin dirawat disalon mahal….

Ah aku terlalu GR!, Aku yakin dia wanita baik-baik yang dengan ikhlas mau membantuku. Setelah kupikir-pikir, nggak ada salahnya juga aku nebeng dia. Toh identitasnya jelas. Dia punya rumah di Balikpapan, habis mengunjungi saudaranya yg bisnis di sana. Tapi dia bersuami belum ya…bisa-bisa disabet sama suaminya gue……..

“Nggak usah khawatir mas, saya niat nolong beneran nih. Lagian dirumah nggak ada yg nunggu saya kok. Jadi saya bebas”……

My God, betul-betul nih mbak Wulan bisa baca pikiranku. Seperti terhipnotis, akupun nggak kuasa menolak ajakannya. Kuanggukkan kepala tanda setuju.

Kulirik Wenger ku hadiah perusahaan yg saat itu menunjukkan pukul 21.35 Wita. Artinya 20.35 waktu Jakarta. Tanpa kesusahan, kami keluar tanpa menunggu bagasi, karena memang tidak ada bagasi.

Dia tarik tanganku menyebrang jalan depan airport, seperti seorang ibu yg menggenggam tangan anaknya agar tidak lari. Erat dan hangat. Aku berjalan mengiringi Wulan,terasa agak jauh, namun nggak tahu kenapa jarak bukan lagi sebuah masalah, hingga akhirnya sampai tempat parkir khusus nginap (Di Bandara Soekarno Hatta, jika anda bepergian tidak terlalu lama, bisa menitipkan mobil lebih dari satu hari). Aku agak terkejut manakala dia berhenti didepan sebuah mobil mewah yang sekarang mulai digunakan untuk taksi di ibukota. Tahu keraguanku, dia malah membukakan pintu mobil depan, dan meyilahkanku masuk. “Masuk Mas!, Jangan ngelamun aja!” Suaranya yg lembut lagi-lagi seakan menghipnotisku.

Ala mak, mimpi apa aku semalam. Atau karena berani sama Bos sehingga aku kualat seperti ini. Gue janji deh nggak akan berani ngeyel sama boss lagi (atau malah sering-sering ya kalau kualatnya kayak gini) Seumur-umur naik pesawat nggak pernah ditolong oleh cewek cakep dan baik hati kayak gini. Atau jangan-jangan dia ini hantu ya… kayak- di film-film itu. Atau nyai Blorong ya…… ah… nyai Blorongpun mana mau sama aku…..

“Mas, masih sore mas. Kita makan dulu ya……..!” Lho padahal sudah tinggal belok kanan masuk hotelku, kok dia malah nyelonong masuk kawasan Apartemen.

“Kita makan di apartemenku mas”. Dan aku nggak sempat menolak.

Di samping bangunan apartemen yang menjulang dia berhenti dan memarkirkan mobilnya, membuka pintu mobil disebelahku dan menarik tanganku….. masuk lobby apartemen, senyum sama security, nggesek card keamanan, masuk lift dan kulihat mencet lantai 27.

Masih digenggamnya tanganku erat-erat. Suara sepatu hak tingginya seakan irama music jazz yang sering dimainkan teman-teman Services di MPB saat Sabtu malam, membuatku semakin hanyut. Terseret-seret mengikuti jalannya yang semakin cepat , masih sempat tercium bau parfumnya yang lembut dan mendebarkan, membuatku semakin melayang.

Tubuhnya yang semampai, sedikit lebih pendek dariku, sekitar 172 m, langsing dibalut pakaian warna lembut kesukaanku makin membuatku tak sempat berpikir panjang, untuk mengekornya. Sampai didepan kamar pojok, dia menggesek cardnya sekali lagi dan terbuka apartemennya. Nggak terlalu luas, tapi cukup elegan, dengan ruang tamu sederhana tapi berkesan mewah, ruang makan, ruang santai terlihat 2 kamar tidur, 1 toilet dan kelihatannya 1 gudang. Kulihat di meja makan, sudah tersedia cukup makan malam untuk kami berdua.

“Tadi di bandara aku sempatkan telpon restoran di bawah untuk makan malam kita. Aku mandi dulu ya mas. Maklum seharian dijalan nggak enak. Please enjoy, sorry sepi. Nggak ada siapa-siapa sih, karena adikku baru dua hari lalu pindah ke apartemennya yg baru”. What a coincidence! Sebuah kebetulan yang indah.

Makan malam, kami santap dengan santai, sambil bincang sana-sini. Sesekali dia menanyakan pekerjaanku. Tapi selebihnya ngobrol ttg Jakarta, dan perkenalan ttg diri kami pribadi.

“Gimana, mau ke Hotel sekarang atau sekalian besok pagi saja?”. Ya ampun,……. Kenapa sih tawarannya kok susah sekali dijawab……. Untungnya, aku masih sempat ingat wajah galak boss yg seakan-akan ngingatin untuk tidak terlambat hadir besok pagi-pagi sekali ke acara Meeting.

Aku memutuskan pergi, meski dengan berat hati sekali. Dia tampak kecewa, namun senyumnya yang manis menunjukkan bahwa dia mengerti kekawatiranku.

Turun dengan baju casual dan agak terawang, dia kembali menuju ke tempat parkir. “Mas, pakai mobil yg ini aja ya. Yang tadi kelihatannya agak bau karena diparkir di bandara semalaman.”

Aku sudah nggak bisa berpikir. ” Mau coba nyopir?”. Kugelengkan kepala. Jangankan nyopir di Jakarta. Naik taksi aja masih sering nyasar (Apalagi kalau sopir taksi yg nggak jelas. Nggak malah diarahkan, malah dikerjain).

Sekitar 10 menit kemudian sampai kami di Hotel.

“Mas, aku antar ke atas ya. Di apartemen nggak ada siapa-siapa, mending kita ngobrol2 dulu ya”. Ampun, aku sudah berada dibatas kesadaran!

Hampir saja kuanggukkan kepalaku, ketika tiba-tiba anehnya malah gelengan kepalaku yang muncul. Oh my God, kenapa kewarasanku muncul disaat seperti ini.

Dengan lembut, tangannya yang sudah menggenggam tanganku sekian lama sejak berhenti diparkiran sampai lobby hotel ini, kulepaskan. “Wulan, aku harus buat presentasi. Aku kuatir nggak bisa kelar besok pagi kalau ada kamu nemani. Paling nanti kita ngobrol kesana-kemari. Aku janji deh, besok segera setelah meetingku selesai aku akan hubungi kamu by HP ya. Sorry ya… Sampai ketemu besok. Terimakasih tumpangannya dan makan malamnya”. Kujabat tangannya sekali lagi dan kucium tangannya yang masih ada digenggamanku, sebagai rasa terima kasih dan penghormatanku kepadanya. Agak terkejut Wulan dan tersipu malu, terlihat dari pipinya yang diselimuti warna merah tipis yang semakin merona.

Dengan menunjukkan wajah sedikit kecewa, dia lagi-lagi memahami kondisiku “Ok janji ya, besok kita ketemuan, bisa di sini atau di apt. ku”.

Kuanggukkan kepala. Terlihat dengan berat kaki dia melangkah keluar lobby dan melambaikan tangan serta melepas senyumnya yg aku yakin pasti menawan siapapun yang melihatnya. Masih sempat kulihat ujung gaunnya berkibaran ditiup blower /ac di depan pintu lobby.

Segera setelah termangu beberapa menit, aku ke resepsionis, kutunjukkan voucher hotel dan dapat kamar. Naik, mandi, Sholat Maghrib dan Isya di Jamak. Tertidur. Mimpiku malam itu betul-betul kacau. Nggak jelas. Sesuai kebiasaanku, jam 03.00 aku bangun. Kulihat di HP sudah ada SMS nya Wulan saying “have a nice dream” dan mengingatkanku untuk jaga kesehatan serta agar tidak lupa besok janji ketemuan.

Sepagian (mulai jam 03.00 – habis subuh) aku merenungkan pertemuanku dengan Wulandari. Tekat sudah kutetapkan. Aku tidak yakin apakah aku yang terlalu GR atau negative thinking atau Wulan yang terlalu baik. Namun rasanya, dalam perkenalan kami ada yang kurang wajar.

Habis makan pagi di Hotel, aku bawa barang2ku semua. Kutemui resepsionis, dan minta check out saat itu juga. Kucabut kartu pasca bayarku yg sehari sebelumnya nomornya kuberikan pada si Wulan. Aku pesan taksi, menuju tempat meetingku di Jl. Gatot Subroto. Saat di taksi, masih kusempatkan booking di sebuah Hotel, tidak jauh dari hotelku sebelumnya. Siapa tahu……….. Wulan menyempatkan diri mencari??????. Agar nggak jauh-jauh……… Siapa tahu aku yg terlalu negative thinking.

® EVOLUSI KORESPONDENSI

Dahulu kala, merpati adalah alat korespondensi paling canggih dijamannya.......
Hingga akhirnya....... sebuah (R) Evolusi terjadi….

=@@@@@@@@@@@@@@@@@@@@

Tentu tidak pernah kita lupakan kehebatan telex di jamannya. Mulai dari dokumen resmi versi militer, sampai panggilan kerja pada saat itu sangat tergantung pada fungsinya. Berbarengan, telegram juga menjadi idola dijamannya. Mulai dari fungsinya sebagai ”Telegram Rahasia” sampai menjelang akhir masanya dimanfaatkan untuk fungsi sampingan semisal mengirim tulisan yang sedikit berwarna. Salah satu dari kita pasti pernah menikmati kemewahan telegram indah saat mengucapkan ucapan lebaran.

Di saat pesawat telepon hanya berfungsi untuk kebutuhan komunikasi suara paling dasar, diperlukan alat yang bisa digunakan ”setengah” resmi dan tertulis untuk berkomunikasi.

Faksimile adalah fungsi yang lebih maju dibanding pendahulu-pendahulunya. Namun untuk bisa berfaksimili, diperlukan sebuah perangkat extra untuk saat itu, sehingga hanya dinikmati oleh kalangan terbatas yg mampu. Komunikasi semakin mudah saat kita disuguhi dengan munculnya telepon umum koin, yang disusul dengan telepon umum kartu, sekitar 93-an.

Kartu lebaran atau ucapan peringatan hari khusus, yang mengandalkan kurir (jaman itu mungkin hanya Kantor Pos ya) dan merupakan idola saat itu, pun makin kesini semakin tergeser. Kartu pos sudah tidak praktis lagi manakala, muncul teknologi SMS dan MMS yang semakin berwarna. Sekarang telepon umum, bahkan box nya pun, tak berbekas. Telpon rumah yg dulunya menunjukkan prestise sebuah keluarga mampu, kini hampir tak pernah terjamah kecuali untuk jaringan internal.

Surat dan amplopnya serta perangkonya yang pernah menjadi benda paling bermanfaat di jamannya sekaligus paling favorit, mungkin saat ini hanya bisa dihitung dengan jari pemakaiannya. Kalaupun ada kiriman lewat kurir, maka kebanyakan hanya dokumen asli, bukan lagi surat resmi, apalagi surat kangen-kangenan dan surat cinta...

Faksimile yang selanjutnya mengambil alih beberapa fungsi surat sebagai media korespondensi pun rasanya tak akan bertahan hidup lama lagi, manakala dokumen resmi bisa di scan dan dikirim lewat e-mail, baik lewat modem (internet) maupun GPRS atau HSDPA (PDA/HP). Di saat alat-alat komunikasi ”kuno” semakin terbengkalai, percepatan evolusi korespondensi semakin menjadi-jadi. Persetujuan resmi, yang dulunya harus langsung dilakukan di hardcopy, sekarang bahkan bisa diapprove lewat email dan fasilitas elektronik lainnya. Tender yang dulu harus dengan disertai dokumen tebal-tebal sekarangpun bisa lewat e-procurement. Lamaran yang dulu harus ditulis tangan dan dikirim via pos dengan catatan batas waktu cap pos, kini bisa dikirim dari segala penjuru dunia dalam hitungan detik, baik melalui e-mail maupun fasilitas elektronik lainnya.

Dulu beli rumah pun harus datang ke tempat/lokasi, sekarang cukup bisa dilakukan lewat mode korespondsi email, video call, MMS, 3G dan lain-lain.

Dulu untuk bisa mengumpulkan peserta rapat harus lewat telex dan telegram, sekarang cukup dengan video conference yg menghubungkan para peserta dimana saja, pada saat itu juga. Dulu jika anda kangen, harus kirim surat berwana merah muda, sekarang cukup pakai software tertentu dengan memakai webcam dan bisa saling menyapa.........

Saat evolusi sudah menjadi revolusi, adalah bukan tidak mungkin jika suatu saat nanti anda cukup pencet sebuah tombol dan tiba-tiba anda, entah secara fisik atau hanya bayangan / hologram, tiba-tiba sudah berada di tempat lain untuk mengkomunikasikan ide-ide gila lainnya...... Kita tunggu saja.....

Nov 16, 2008

Indahnya SEPI itu.

Setiap mereka yang akan naik panggung, baik untuk presentasi, pidato, mengajar, dan lain keperluan, khususnya untuk yang pertama kali, pasti pernah mengalami rasa was-was, grogi dan kekawatiran. Namun kita tdk pernah sadar bahwa rasa itu, ternyata membawa manfaat untuk meningkatkan “kewaspadaan” serta menjaga agar “alert” system kita tetap tinggi. Dengan grogi, kita biasanya dituntut untuk lebih banyak persiapan, lebih mengantisipasi kemungkinan2 negatif yg mungkin muncul, dan berusaha tampil tanpa cela serta memuaskan audience.

Rasa sedih, kecewa, broken hearted, kesepian, penderitaan, dan kondisi menyesakkan yg lain, pada dasarnya memiliki fungsi yang sama dengan rasa grogi saat anda akan naik panggung.

Rasa ‘gagal” tak jarang berfungsi mengerem “laju” kehidupan kita yg tak kita sadari sebenarnya sering melelahkan. Rasa “sedih” tak jarang mengingatkan kita untuk lebih berhati-hati. Rasa “sepi” tak jarang memasukkan kita untuk “menyelami kesyahduan” hidup. Rasa brokenhearted pernah membuatku “terpacu” di bidang lain. “Penderitaan” sering menelurkan pribadi-pribadi yang tangguh. Rasa “terusir” jika dimanfaatkan ternyata meningkatkan apresiasi kita terhadap kehidupan “sosial”. Dan “Kemiskinan” masa kecil memberi cerita masa lalu bagi mereka-mereka yang sekarang menjadi dermawan. Sama halnya dengan sepi, senyap dan gelapnya malam yang malah “membangunkan” mereka yang jenuh dengan gemuruhnya sang siang………Dan masih banyak contoh lain…..

Nov 9, 2008

HTC Touch Diamond & M600i ku Tersayang

Akhirnya aku harus dengan berat hati "mengkhianati" SE karena sejak 3 minggu lalu, aku yang selama ini fanatik SE, harus beralih ke lain hati.

Sejak pertama ber HP, SE selalu menjadi favorit. Kalau nggak salah HP SE pertamaku adalah Sony T10 (atau apaan ya?), Sejak itu, setiap kali berganti HP, hanya SE yg menjadi pilihanku. Pernah sih sekali ganti HP ber TV Tuner, tapi nggak bertahan lama.....

Terakhir dan saat ini masih kupakai adalah SE M600i, sebuah PDA SE yang sungguh cocok sekali dengan kebutuhan, buktinya mungkin sudah 2 tahunan saya rela tak melepaskannya. Sayangnya satu; tak berkamera...

Hingga muncul kabar akan terbitnya PDA SE X1 Xperia, yg sudah kutunggu2 sekitar 6 bulanan,... saking fanatiknya. Tapi alamak..... harganya 8 jtaannnnnnnn.... Nggak kuat. Ah SE, kenapa lu nggak pengertian sama kantungku???????

Terpaksa aku khianati SE. Bukan karena nggak cinta, tapi karena sisi finansial.... saja



Karena perlu PDA baru, aku segera menemukan pujaan hati baru; sebuah PDA 3 Dimensi, HTC Touch Diamond. Si Cantik asal Taiwan ini ternyata luar biasa!!!! Mulai dari active stylusnya (jika dicabut langsung on, jika lagi bicara dicabut langsung muncul notes, dan bermagnet...), dan pakai Windows Mobile 6.1 (paling gress), internal storage 4 GB... Kamera 3.2 M

Yg lebih menggemparkan, Touch Flo 3 D nya. Geser tangan anda, dia akan bergerak. Putar searah jarum jam ke gambar, gambar sontak akan zoom in, dan sebaliknya. Dll..... Semuanya hebat kecuali batereinya, masih kalah dengan SE M600i ku....

Tapi kenapa ya, kenyamanan SE M600i ku tetap membuatku tak tega meninggalkannya........

Dan kini terpaksa aku selalu bawa kedua "cintaku" tersebut kemanapun.....

Kadang sih aku masih suka lirik-lirik si pujaan hati yg tak kesampaian, SE-X1...meski sudah kuupayakan kulupakan..... tapi kayaknya nggak bagus deh jika aku harus menduakan hatiku...Aku kini mulai belajar melupakannya....

Nov 5, 2008

Belajar dari Kekalahan


Tidak ada yg mengejutkan dari Pemilu AS. Hanya pidato kekalahan McCain yg betul-betul mengejutkan & menunjukkan semangat kenegaraan, yang patut di tiru. Berikut transkrip lengkap pidatonya dikutip dari CNN.


======


McCain: Thank you. Thank you, my friends. Thank you for coming here on this beautiful Arizona evening.

My friends, we have -- we have come to the end of a long journey. The American people have spoken, and they have spoken clearly.

A little while ago, I had the honor of calling Sen. Barack Obama to congratulate him.
To congratulate him on being elected the next president of the country that we both love.
In a contest as long and difficult as this campaign has been, his success alone commands my respect for his ability and perseverance. But that he managed to do so by inspiring the hopes of so many millions of Americans who had once wrongly believed that they had little at stake or little influence in the election of an American president is something I deeply admire and commend him for achieving.

This is an historic election, and I recognize the special significance it has for African-Americans and for the special pride that must be theirs tonight.
I've always believed that America offers opportunities to all who have the industry and will to seize it. Sen. Obama believes that, too.

But we both recognize that, though we have come a long way from the old injustices that once stained our nation's reputation and denied some Americans the full blessings of American citizenship, the memory of them still had the power to wound.
A century ago, President Theodore Roosevelt's invitation of Booker T. Washington to dine at the White House was taken as an outrage in many quarters.

America today is a world away from the cruel and frightful bigotry of that time. There is no better evidence of this than the election of an African-American to the presidency of the United States.

Let there be no reason now for any American to fail to cherish their citizenship in this, the greatest nation on Earth.

Sen. Obama has achieved a great thing for himself and for his country. I applaud him for it, and offer him my sincere sympathy that his beloved grandmother did not live to see this day. Though our faith assures us she is at rest in the presence of her creator and so very proud of the good man she helped raise.

Sen. Obama and I have had and argued our differences, and he has prevailed. No doubt many of those differences remain.

These are difficult times for our country. And I pledge to him tonight to do all in my power to help him lead us through the many challenges we face.

I urge all Americans who supported me to join me in not just congratulating him, but offering our next president our good will and earnest effort to find ways to come together to find the necessary compromises to bridge our differences and help restore our prosperity, defend our security in a dangerous world, and leave our children and grandchildren a stronger, better country than we inherited.

Whatever our differences, we are fellow Americans. And please believe me when I say no association has ever meant more to me than that.

It is natural. It's natural, tonight, to feel some disappointment. But tomorrow, we must move beyond it and work together to get our country moving again.
We fought -- we fought as hard as we could. And though we fell short, the failure is mine, not yours.

I am so deeply grateful to all of you for the great honor of your support and for all you have done for me. I wish the outcome had been different, my friends.

The road was a difficult one from the outset, but your support and friendship never wavered. I cannot adequately express how deeply indebted I am to you.
I'm especially grateful to my wife, Cindy, my children, my dear mother and all my family, and to the many old and dear friends who have stood by my side through the many ups and downs of this long campaign.

I have always been a fortunate man, and never more so for the love and encouragement you have given me.

You know, campaigns are often harder on a candidate's family than on the candidate, and that's been true in this campaign.

All I can offer in compensation is my love and gratitude and the promise of more peaceful years ahead.

I am also -- I am also, of course, very thankful to Gov. Sarah Palin, one of the best campaigners I've ever seen, and an impressive new voice in our party for reform and the principles that have always been our greatest strength, her husband Todd and their five beautiful children for their tireless dedication to our cause, and the courage and grace they showed in the rough and tumble of a presidential campaign.

We can all look forward with great interest to her future service to Alaska, the Republican Party and our country.

To all my campaign comrades, from Rick Davis and Steve Schmidt and Mark Salter, to every last volunteer who fought so hard and valiantly, month after month, in what at times seemed to be the most challenged campaign in modern times, thank you so much. A lost election will never mean more to me than the privilege of your faith and friendship.
I don't know -- I don't know what more we could have done to try to win this election. I'll leave that to others to determine. Every candidate makes mistakes, and I'm sure I made my share of them. But I won't spend a moment of the future regretting what might have been.
This campaign was and will remain the great honor of my life, and my heart is filled with nothing but gratitude for the experience and to the American people for giving me a fair hearing before deciding that Sen. Obama and my old friend Sen. Joe Biden should have the honor of leading us for the next four years.

I would not -- I would not be an American worthy of the name should I regret a fate that has allowed me the extraordinary privilege of serving this country for a half a century.
Today, I was a candidate for the highest office in the country I love so much. And tonight, I remain her servant. That is blessing enough for anyone, and I thank the people of Arizona for it.
Tonight -- tonight, more than any night, I hold in my heart nothing but love for this country and for all its citizens, whether they supported me or Sen. Obama -- whether they supported me or Sen. Obama.

I wish Godspeed to the man who was my former opponent and will be my president. And I call on all Americans, as I have often in this campaign, to not despair of our present difficulties, but to believe, always, in the promise and greatness of America, because nothing is inevitable here.
Americans never quit. We never surrender.

Nov 3, 2008

Happy Inside

The popular question often asked by individuals is how to be happy in living our life. A man with riches doesn't automatically experience a happy life. While a man with all the things needed fulfilled often experiences a terrible life.

A lot of answers have been offered to this question, but I have one that I believe seriously; that it is me myself who controls the happiness.

Our heart is responsible to make us happy regardless any kinds of conditions of a life. Rp. 450,000.- a month didn't make me desperated then or millions doesn't guarantee my happiness. A soul living in a hut is not necessarily sad all the time. The quality of somebody's sleeping doesn't depend on the quality of a mattras. Even sometimes a big tree makes you sleep like a baby.

It is, again, our heart which is responsible to our happiness.

Nov 2, 2008

The Fall of Name Card

Beberapa saat lalu, sempat saya baca di SWA ttg mulai dipertanyakannya fungsi Kartu Nama. Artikel tsb mengingatkan saya pengalaman beberapa tahun lalu, saat berkesempatan mengikuti pelatihan di Jogya.

Seperti biasa, sambil menunggu registrasi, para calon peserta mulai berkenalan secara informal, menanyakan asal Perusahaan, tempat nginap dan lain sebagainya. Suasana “Gayeng” tersebut berlanjut sampai saat ada salah satu peserta yang berinisiatif mendistribusikan kartu namanya. Maksudnya mungkin baik, supaya identitasnya diidentifikasi oleh peserta lain. Otomatis rekan-rekan peserta lain pun saling bertukar kartu.

Kartu Nama ternyata tidak hanya menunjukkan Nama, tapi tertera di situ al. jabatan sang pemilik termasuk tentunya Perusahaan di mana dia bekerja. Saya masih ingat, salah satu pemilik kartu nama adalah seorang senior Manager BUMN terkenal di Indonesia, sedang peserta lain berkisar mulai dari Officer, Supervisor, Koordinator dan Manager.

Efek Kartu nama mulai membuat “sekat” diantara kami. Para peserta mulai mengukur “kekuatan lawan" berdasarkan bonafiditas perusahaan dan tingginya Jabatan. Hubungan yang semula tak berbatas, mulai menunjukkan “formalitas” nya.




Sejak saat itu, saya adalah orang yang paling susah mengasih kartu nama. Jika memungkinkan, saya lebih suka memberi nomor handphone atau alamat email secara informal/pribadi, daripada menyodorkan Kartu Nama yang penuh dg embel-embel formalitas.

Atau akhir-akhir ini, saya mulai membuat dua versi kartu nama, yaitu versi formal dan versi personal. Sehingga pada saat diperlukan, tinggal mengambil mana kartu nama yang pas untuk diberikan….