Nov 6, 2015

Batam, Singapura dan Bintan

Keliling Batam dulu sambil mengerjakan tugas
Makan malam dulu

Nyari seafood

Dari Batam naik ferry ke singapore

Creatif


Creatiffff
Singanya berkabut

Di garden bay

Naik flyer

Pantai bintang cantik bro


tak kalah dengan Bali
Makannan  sehat

 Wisata mangrove
 Shopping centre bintan
Naik flyer


Lihat mangrove

Mejeng aja nggak nyoba


Hmmm

Visiting Kangaroo Land

Berangkat dg Qantas selama sekitar 7 jam lebih bersama Istri, tidak menyisakan kelelahan karena excited banget.
Sesampai di hotel IBIS World Square, kami langsung berjalan-jalan ke icon2 Sydney yang terkenal.
 Musim menjelang summer tidak memerlukan penyesuaian yang banyak, bagi kami.



 Setelah puas jalan-jalan waktunya beraktifitas dengan rekan2 dari Aussie...
Untungnya cakap-cakap dalam bahasa Inggris masih belum lupa sehingga nggak bengong-bengong amat...
Di sela-sela kesibukan, masih sempat selfie di pantai...


Meski mencoba makanan variatif dari negeri Kangaroo, namun makanan asia tetap enak di lidah.

Jul 28, 2015

Ujian Masuk PTN; Antara Kepintaran Akademis dan Strategi Mengenali Diri


Terakhir ikut UMPTN tahun 1991, membuat saya minder saat harus ikut “pusing”memikirkan anak pertama yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Semua ternyata berubah,  mulai dari proses pendaftaran, pembayaran, pengumuman sampai pengisian biodata, yang semuanya sudah online....:).

Jeleknya saya, selama ini seluruh hal terkait dengan pendidikan si sulung saya serahkan sepenuhnya kepada mamanya, sehingga saat dibutuhkan, saya harus belajar dari awal.

Just info, ditahun 2015 ini sistem penerimaan mahasiswa baru di PT Negeri pada dasarnya dibagi 3 yaitu: SNMPTN (penelusuran dari nilai Raport dan Prestasi), SBMPTN (Ujian Nasional) dan Ujian Mandiri dari masing-masing Perguruan Tinggi Negeri.

Setelah babak pertama di SNMPTN si teteh "belum beruntung", saya terus terang mulai kepikiran dan khawatir, bagaimana jika nanti nggak keterima di SBMPTN. Melihat semangat sekolah si teteh, timbul semangat saya untuk ikut nimbrung.

Sejak itu, saya mulai mempelajari seluk beluk SBMPTN, termasuk meneliti secara mendalam berbagai jurusan yang tepat serta cocok dengan putri saya. Dari riset kecil-kecilan tersebut saya akhirnya yakin dengan sebuah kesimpulan bahwa ternyata untuk bisa diterima di PTN, tidak hanya diperlukan kepintaran diatas rata-rata, namun strategi memilih jurusan juga mempengaruhi, karena terkait erat dengan pemetaan kekuatan diri. 

Kecenderungan umum adalah jurusan favorit di UN favorit pasti akan dicoba oleh mereka yang sangat unggul dibidang akademik. Untuk mereka yang secara akademik sangat luar biasa, hal ini tentunya tidak menjadi masalah, sekalian uji nyali dan uji posisi. Namun bagi calon mahasiswa yang “hanya”diatas rata-rata, maka harus pandai-pandai mengukur kemampuan vs. ketersediaan kursi vs. jumlah calon peminat.

Dari hasil evaluasi dan belajar tentang ujian masuk PTN tersebut serta evaluasi kenapa di SNMPTN sebelumnya dia tidak tembus, saya akhirnya memberanikan diri untuk berdiskusi kelompok dengan istri dan si kecil kami, termasuk materi diskusi tersebut adalah pengenalan kemampuan dan ngematch-kan dengan jurusan yang akan dipilih. Termasuk didalamnya kami beranikan diri untuk meng-adjust jurusan apa dan PTN apa yang akan dipilih, tentunya tanpa mengorbankan minat dan bakat dan dengan persetujuan si teteh.

Tibalah hari ujian. Segala cara sudah kami tempuh, termasuk mengikutkan si teteh ke BIMBEL yang katanya terkenal cespleng di Bandung selama satu bulan. Tinggal doĆ” yang bisa kami panjatkan agar dia diberikan yang terbaik!!.

Dan Alhamdulillah, setelah satu bulan ujian, hasil SBMPTN diumumkan. Putri kami berhasil lolos ke jurusan yang memang dia minati. Kegembiaraan tersebut ternyata tidak berhenti sampai disitu. Beberapa hari kemudian, dari hasil ujian mandiri di PTN terkenal di Yogya, si Teteh juga dinyatakan diterima di jurusan yang dia minati. Tanpa sadar Mamanya anak-anak melompat gembira dan tak henti-hentinya mengucap syukur atas berita gembira tersebut.

Membaca ulasan di berbagai media, terdapat lebih dari 600 ribu  calon mahasiswa yang mencoba masuk ke PTN, dan hanya sekitar 20 % yang diterima. Adalah kebahagiaan dan kesyukuran yang luar biasa bahwa si Teteh mampu masuk ke PTN favorit dan ke Jurusan yang dia minati.
Benar teori saya diatas, yang seperti dikuatkan oleh sebuah harian di Jawa Timur dimana dikatakan bahwa masih banyak calon mahasiswa pintar yang tidak keterima di PTN khususnya di Jurusan favorit dan PTN favorit. Bukan karena mereka tidak pintar, mereka bahkan secara akademik sangat pintar. Masalahnya adalah 100 seat harus diperebutkan katakanlah 10.000 anak terpintar di Indonesia, sehingga harus ada 9900 anak pintar yang tidak diterima.

Dari pengalaman mengikuti putri pertama kami mengikuti proses seleksi PTN, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak terkait..:)

Bagi calon mahasiswa, setelah menunjukkan usaha belajar yang semaksimal mungkin, kebesaran hati  untuk mengukur kemampuannya secara jujur dan tidak egois adalah hal yang sangat penting sehingga pilihan jurusan, pilihan PTN dapat realistis meski tanpa mengorbankan minat dan bakatnya.

Untuk orang tua, masa penerimaan PTN adalah masa kritikal bagi si buah hati. Tatapan mata sedih mereka saat tidak diterima akan membuat kita menyesal jika tidak mendampingi mereka dari awal. Dan tatapan bahagia serta senyum sumringah mereka saat diterima adalah kebahagiaan yg tidak ternilai harganya. Jangan memilihkan mereka jurusan yang kita minati, karena yang akan kuliah adalah mereka. Kita hanya menemani, memberi advise dan memfasilitasi mereka. Mereka kita berikan tanggung jawab atas masa depan kehidupannya.

Untuk sekolah SMA atau yg sederajat, tidak hanya bertanggung jawab atas prestasi akademik anak didiknya, namun juga dibutuhkan dukungan yang lebih besar lagi dalam mensupport para lulusan saat akan apply ke PTN, dengan memberi masukan yang akurat dan menyeluruh terkait strategi masuk dan memilih jurusan yang tepat.

Dan untuk Pemerintah, masih banyak calon mahasiswa yang kecewa karena belum bisa diterima di PTN padahal mereka mungkin memiliki kemampuan yang lebih dan semangat yang tinggi. Adalah tanggung jawab pemerintah agar mereka yang sekitar 80% ini mendapatkan pendidikan yang baik meski tidak mendapatkannya di PTN.

Mar 21, 2015

Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG

Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG: KERJASAMA: Msalah Keamanan di lingkungan Badak LNG butuh kerjasama semua pihak. (ist) BONTANG - Beberapa kendaraan berhenti sejenak s...

Feb 12, 2015

Pertanyaan Terakhir

Mengutip pertanyaan seorang filsuf setelah mendalami semua proses kehidupannya, ada satu pertanyaan penting yang akhirnya harus segera dijawab yaitu:  "Kenapa saya dilahirkan?"

Best wishes to you all my friend!
Busori S.

Jun 27, 2014

Ketika menghujat menjadi biasa

Menghujat, menjatuhkan, mengolo akhir-akhir ini menjadi sebuah hal yang biasa di media kita. Imbasnya masyarakat pembaca dan pemirsa secara otomatis menjadikan hal tersebut sebuah kebiasaan.

Sebuah fenomena sosial unik ini semakin menguatkan teori ttg betapa powerful nya media dalam membentuk sebuah budaya.

Jadi make sure bahwa anda tidak terbawa latah.

Feb 7, 2014

Muhibah ke Brunei


Bepergian ke Brunei, mungkin bagi sebagian orang agak “nanggung”. Kita lebih cenderung ke Singapura, Malaysia, Bangkok atau sekalian yang jauh semisal Australia, Eropa atau ke Benua Amerika dan Timur Tengah.

Karena tugas, saya dan rombongan berkesempatan ke Brunei. Perjalanan ke Brunei seyogyanya bisa ditempuh dengan cepat, karena kota asal saya adalah Bontang. Jika melihat peta, dan kita tarik garis lurus dari Bontang ke utara menuju Brunei harusnya jaraknya kurang lebih antara Bontang dengan Balikpapan atau Banjarmasin. Namun karena kendala transportasi, itinerary jadi agak muter-muter yaitu melewati Jakarta baru menuju Brunei Darussalam.

Rombongan besar kami dengan jumlah sekitar 45 orang . Bepergian dengan rombongan besar tentunya banyak keuntungan. Antara lain, perjalanan sudah dikoordinir dan yang pasti kekawatiran traveling sendirian tidak akan ditemui, misalnya takut tersesat, feeling lonely dan takut dikerjain orang. 

Kami berangkat dari Bontang tanggal 23 Januari, melalui jalan darat ke Balikpapan yang menempuh waktu tempuh sekitar 6 jam. Berangkat jam 01 dini hari tidak banyak yg bisa dinikmati selain tidur. Sesampai di Balikpapan sekitar jam 6 pagi, kami masih harus menunggu penerbangan ke Jakarta jam 09.00. Semalam kemudian kami menginap di Hotel FM7 di daerah Tangerang di belakang airport karena keesokan harinya kami harus berangkat dengan penerbangan Royal Brunei Flight 738 jam 04.50 waktu Jakarta. 

Salah satu yang berbeda antara Royal Brunei dengan penerbangan lain, sebelum berangkat Video pertama yang diputar adalah Video doa-doa perjalanan… hmmm sungguh menentramkan. Sampai di Brunei Intl Arpt (BWN) Bandar Seri Begawan sekitar jam 8.10 waktu Brunei/Wita. Airport Brunei yang besar terkesan sepi pengunjung, mungkin tidak banyak penerbangan yang dilayani. Berbeda dengan airport2 yang ada di Indonesia, dibangun sebesar apapun tidak berapa lama kemudian akan kembali menyempit oleh banyaknya orang.
Dari Airport kami naik Bas Khas, menuju hotel Rizqun. Untungnya kami langsung dapat kamar. The Rizqun Hotel, tempat acara sekaligus kami menginap berlokasi di tempat yang strategis, karena hotel ini langsung connect dengan The Mall, yang kelihatannya mall terbesar di kota.
Setelah check-in dan registrasi, kami langsung makan siang (setengah pagi, karena hari Jumat) di sebuah rumah makan Thailand. Yang unik, seluruh pekerja restoran adalah perempuan berkulit putih berkerudung islami yang rapi sekali, sehingga kami beranggapan mereka adalah muslim. Tapi jangan kaget dulu saat rekan protocol kami menanyakan ke mereka, ternyata hampir semuanya adalah warga Filipina dan karena dress code Negara Islam, maka mereka pakai Jilbab… It’s okay…

Selesai Jum’atan, kami melakukan kegiatan-kegiatan persiapan untuk keesokan harinya. Malam hari acara dilanjutkan dengan Welcome Dinner The 7th Borneo LNG Conference and Golf.

Keesokan harinya,  adalah waktunya acara perusahaan yang memakan waktu hampir sehari penuh, dan pada saat malamnya, hari itu ditutup dengan dinner di restoran sea food pinggir pantai. Lagi-lagi saat ngobrol dengan pekerja perempuan di restoran tersebut, kami dapati mereka rata-rata berasal dari Indonesia. Good job…rek!  Kekenyangan dan kecapekan, sesampai di hotel saya langsung menuju lautan kapuk….

Hari kedua, program bagi non golfer, termasuk saya, adalah Tour. Dalam acara tour di Brunei, tidak banyak tempat yang bisa dilihat. Pertama kami berkunjung ke Muzium Brunei, kemudian ke Musium lain dimana didalamnya disimpan barang-barang pribadi milik Sultan Brunei, termasuk keris kerajaan dan kucing emas kiriman dari Raja Majapahit waktu itu, serta barang-barang terkait dengan kerajaan yang sungguh luar biasa.


Selanjutnya kami diajak menuju Masjid Sultan Brunei dimana tidak hanya kubah nya yang berlapis emas, bahkan emblem yang menempel di sepanjang  pagarnya pun menurut pemandu kami adalah berlapis emas. Hmmm ...., dan tanpa ada polisi yang menjaga.. wow….

Dan memang salah satu yang membuat saya merasa agak aneh adalah ketiadaan polisi di tempat-tempat strategis misalnya diperempatan, atau ditempat lain. Kelihatannya peran polisi sudah tergantikan oleh CCTV camera yang hampir bisa ditemui disetiap tempat. Hanya sekali saya lihat ada polisi saat mengawal (kata teman2) pangeran Brunei untuk membukakan jalan bagi Lamborgini yang ditumpangi beliau.

Kami hanya sekedar lewat depan istana Sultan yang diceritakan oleh pemandu kami konon mempunyai kamar 1000 lebih. Tidak bisa kami masuk karena biasanya hanya dibuka saat Idul Fitri, Idul Adha atau saat Ulang Tahun Sultan, sehingga cukup kami lihat menara nya dari jauh.

Selanjutnya adalah berkunjung ke kampong Ayer, lokasi awal penduduk Brunei sama halnya Bontang Kuala di Bontang. Setelah menyebrangi sungai dengan speed boat, akhirnya kami sampai di kampong ayer. Bedanya Kampung Ayer di Brunei dengan di Bontang adalah manajemennya. 




Kampong Ayer sungguh ditata dengan sangat rapi, seragam dan tidak beda bahkan lebih baik dari pada lokasi pemukiman yang ada di darat. Jika kita perlu benchmark tentang penaataan kawasan pemukiman diatas air, saya yakin Kampung Ayer Brunei adalah tempat benchmark yang paling bagus. Selain kondisinya sendiri yg luar biasa bagusnya, juga pengaturannya sebagai kawasan wisata telah tertata dengan sangat baik.

Para penduduk kampong ayer disiapin dengan sebuah tempat parkir mobil yang sangat luas diseberang sungai untuk mengakomodir parkir mobil mereka saat malam hari atau saat tidak beraktifitas didarat.  

Dan for your info, kondisi mobil di Brunei sungguh luar biasa kondisinya. Rata-rata baru dengan brand menengah ke atas. Dan anda jangan terlalu berharap akan menemukan sepeda motor dijalanan Brunei, karena hampir semuanya memakai mobil!. 

Sebelum pulang ke Hotel, kami masih sempat berkunjung ke Taman Bunga yang sangat luas dan rapi. Brunei berusaha maksimal menarik wisatawan dengan dibangunnya banyak hal-hal menarik
semacam ini. Meskipun kata orang –orang, mereka nggak terlalu tertarik dengan devisa dari turis karena nggak signifikan sebagai masukan...:)


Setelah seharian penuh kami tour, waktu istirahatpun tiba. Sebelum packing nanti malam, kami sempatkan mencari cindera mata selama di Brunei. Dollar Brunei mempunyai kurs yang sama dengan Dollar Singapura. Biaya hidup termasuk tinggi, bahkan saya rasa lebih tinggi daripada di Bontang. 


Dan dengan jumlah penduduk yang hanya 411.000 orang dengan sumber pendapatan dari LNG dan Minyak, disertai dengan pengelolalan Negara yang bijak oleh Sultan, bisa kita bayangkan betapa makmurnya orang Brunei.

Menyudahi acara di Brunei, malam terakhir diadakan farewell dinner dengan berbagai hiburan. Hiburan yang disajikan baik dari Brunei maupun Malaysia juga hampir tak berbeda dengan model hiburan kalimantan, baik musik maupun tarinya. Ya... meski beda disana-sini, ada satu hal yang tidak bisa membedakan antara kami, bahwa sebagai negara serumpun, yang bahkan mungkin kakek moyangnya juga sempat bertemu jaman dulu, nafas kesamaan diberbagai hal masih kental terlihat.

Keesokan paginya kami meninggalkan Brunei dengan Royal Brunei. Dan transit sekitar dua jam di KLIA Malaysia untuk pindah ke Penerbangan Garuda. Waktu satu jam memberi kami kesempatan untuk mencari belanjaan duty-free di Bandara yang semarak dengan shopping arcadenya itu. Dan setelah waktunya, kami melanjutkan dengan Garuda, menginap satu malam di Jakarta dan pada tanggal 28 Januari kami pulang ke Bontang.
Sebelum saya akhiri titian muhibah ini ada info yg juga penting yang perlu saya sampaikan untuk mereka yang akan ke Brunei. Pergi ke Brunei serasa tidak pergi keluar negeri. Selain memang kondisi geografisnya yang masih di Borneo dan penduduknya yang serumpun,  juga memang disana banyak ditemui warga Indonesia. Sejak keberangkatan saya dari Jakarta, duduk disebelah kanan saya adalah calon TKI dari Tanjung Priok yang akan berangkat ke Brunei, yang kebetulan masih kesulitan mengisi isian Imigrasi yg berbahasa Inggris. 
Sopir bis kami yang melayani sehari-hari ternyata dari Jawa Timur. Salah satu Manager hotel Rizqun adalah kangmas dari Pati yang setiap 4 bulan sekali pulang ke Jawa. Pekerja di Mall yang semula saya kira dari Tiongkok ternyata dari Pontianak. Pekerja restoran sea food yang ada diujung Brunei di pinggir pantai sana juga ternyata dari Tulung Agung… 

Saya respek sekali dengan mereka; saudara-saudara kita, yang untuk hidup harus berjuang, mandiri tanpa merepotkan orang lain dan Pemerintah, serta berusaha mati-matian mencari penghasilan halal tidak korupsi, kolusi dan manipulasi meski dengan pengorbanan perasaan dan terpaksa jauh dari keluarga serta negeri sendiri. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.

Sep 22, 2013

Sertifikasi CPHR


Setelah sekian lama tidak belajar dengan sangat serius, dua minggu lalu akhirnya saya diberi kesempatan oleh Perusahaan untuk memaksa otak guna belajar keras lagi, dengan mengikuti Sertifikasi CPHR (Certified Professional Human Resource)

Sebenarnya yang dipelajari bukan ilmu baru, sebagian sudah saya dapatkan saat saya menempuh S2 di Magister Management, atau membaca literature saat bekerja di keseharian. Namun yang bikin serius adalah waktunya yang singkat dan ada kemungkinan tidak lulus...:(.

Harusnya program tersebut dilakukan selama 7 hari, karena ini program cepat maka hanya dipelajari selama tiga hari. Konsekuensinya setiap hari rata-rata kami pulang pukul 17.00 sore. Belum lagi lalu lintas Jakarta yang pada saat sore hari  sungguh tidak bersahabat.

Sebenarnya lagi tidak seratus persen salah kemacetan. Cuma karena saya memilih menginap ditempat yang agak jauh, sehingga berkontribusi terhadap hambatan lalu lintas. Kegiatan sertifikasi yang dilakukan di Menara Hijau MT Haryono Jakarta, dari segi lalu lintas mungkin pada pagi harinya tidak ada masalah meski saya menginap di Sari Pan Pacific. Namun saat pulang, lalu lintas Jakarta benar-benar menunjukkan wajah aslinya. Macet luar biasa!!!

Selain itu, yang agak bikin "stress", untuk bisa certified dan menyandang title CPHR, saat ujian sertifikasi dihari terakhir, peserta harus mendapatkan nilai minimal 60 dari 100 soal.

Soal ujian yang dikerjakan dalam waktu 3 jam dan boleh buka apa saja, kecuali diskusi (karena nggak mungkin sempat) betul-betul menguras energy. Empat modul yang dipelajari selama tiga hari sebenarnya sangat membantu banyak, namun untuk menghapal detail, rasanya butuh otak yang lebih encer lagi... heehehehe....

Tiga jam waktu ujian jadi terasa cepat, belum lagi rasa kawatir yang sesekali membayangi, kalau-kalau.... tidak lulus? Betapa “malu”dan ruginya saya... hehehe...

Selesai jam 18.00, saya tinggalkan ruangan tes, nyari taksi dan lagi-lagi dihadang kemacetan yang semakin menjadi. Hanya doa yang tersisa, yang bisa menolong score saya!

Karena hasil tes baru diumumkan satu minggu kemudian, satu hal yang harus saya lakukan "lupakan". I have done all my best, and what will be will be....let's enjoy the nite with sleeping...!

=================finally, good news======

JumĆ”t kemarin, saat saya sedang makan lontong balap, seorang rekan sertifikasi BBM saya menanyakan skore yg katanya sudah diemail. Dengan berdegup kencang, saya buka email di BB tua yang setia... Sebenarnya saya hanya perlu kata pertama, jika  "Ə am sorry”, maka ya sudah....

Dan kata pertama yang saya lihat adalah, "Congratulations... ". Alhamdulillah!!!

Berikut lengkapnya :



Dear Mr. Busori,
Congratulations on Completing CPHR examination on
12 September 2013.

Your CPHR examination's score ......... is
while the highest score of your group is .......
Starting from now you are entitled to use CPHR
end of your name as your professional recognition
in Human Resource Management field.
 
Your certification will valid for 3 (three) years.
We'll inform you later the Recertification process.
The certificate will be send by TIKI soon.
 
Once again, congratulations and welcome
to our network. We look forward to being
a part of your ongoing success!

Sincerely,
Certification Committee
QQ International
 
==============
 
 
Happy Ending..:)
 
Best regards,
Busori, S.Pd, MM, CPHR

 

 

Jun 30, 2013

Kawah Putih

Setelah sekian lama tidak menemukan tempat seindah Bromo, saya mencoba sebuah tempat yang menurut beberapa orang keindahannya hampir sama dengan keindahan kawah gunung Bromo. Bedanya kalau gunung Bromo berada diujung timur pulau Jawa, sedangkan tempat yang saya tuju kali ini di ujung barat nya; yakni Kawah Putih.

Sebenarnya tujuan utama kami adalah menuruti permintaan si kecil yang minta diajak ke kebun strawberry . Maka untuk memenuhi keinginan si kecil yang tahun ini juara 1 di kelas sekaligus sebagai hadiah, kami putuskan untuk pergi bersama memetik strawberry di Ciweday sekalian menuju kawah putih dan situ patengang yang terkenal dengan batu cintanya.

Jam 9.30 kami mulai berangkat dari Bumi Panyawangan, Cileunyi dimana kami tinggal, keluar ke jalan tol purbaleunyi. Sesampai di gate toll KOPO, kami keluar menuju Soreang; ibu kota Kabupaten Bandung. Tepat  turun dari tol, di depan pasar, sayangnya kami dihadang macet lebih dari 30 menit, sehingga mengurangi waktu plesir yang sudah kita rencanakan.
Selepas macet kami langsung tancap gas menuju Ciweday. Mendekati Ciweday, jalan mulai menanjak. Untuk menghemat waktu dan mencegah rengekan dedek kecil yang selalu menanyakan kapan sampai di kebu strawberry, akhirnya kami berhenti di sebuah kebun strawberry yang sayangnya buahnya sudah hampir habis .  Untungnya disela2 tanaman buah strawberry kami disuguhi tanaman buah Blackberry, yang teryata waktu saya kecil dulu sering saya sebut sebagai buah arbei; makanan ulat  sutera...heheehhe.

Puas memetik buah, lepaslah kami dari tanggung jawab dan rengekan si kecil. Kami langsung tancap gas menanjak sampai masuk area kawah putih.  Eitsss, jangan langsung bablas, di pintu gerbang anda harus beli karcis. 1 buah mobil dihargai 150 ribu rp. plus masing-masing penumpang harus beli karcis sekitar 25 ribu (kalau tidak salah ingat.) Jika anda tidak bawa mobil, tersedia angkot khusus yang dilengkapi dengan perlindungan untuk mencegah agar anda tidak jatuh saat menanjak atau berkelak kelok.
Dari gate masuk menuju kawah putih masih diperlukan jarak sekitar 5 kilo dengan medan tanjakan yang ekstrim. Sempat saya lirik altitude di jam tangan Protek saya yang menunjukkan ketinggian 2000 mdpl pada saat mendekati kawah. Kami coba buka kaca jendela mobil dan dinginnya mengalahkan dingin AC.

Sesampai ditempat parkir terakhir, sebelum turun ke kawah, jika anda ingin mengabadikan diri, bisa foto2 dengan latar tulisan Kawah Putih yang ditulis putih. Sebelum beranjak jangan lupa bawa masker, atau kalau anda sudah terlanjur lupa di sana banyak dijual masker seharga 5000-an.
Untuk sampai di kawah, diperlukan jalan kaki lagi. Sesampai di bibir kawah, anda perlu menuruni tangga untuk masuk ke kawah. Berbeda dengan Bromo dimana kita hanya sampai menanjak di bibir kawah karena untuk ke kawah sangat curam dan mungkin berbahaya , di kawah putih anda bisa langsung masuk kawah dan mencelupkan kaki ke danau belerang yang warnanya serba putih.

Sesampai disana, tiada kata yg terucap hanya "Subhanallah!." 

Kawahnya betul-betul putih! Pemandangan yang sungguh sangat mengagumkan. Jika pas langit ditutupi awan putih, akan terlihat betapa seakan keduanya menjadi satu lembar kertas. Jika langitnya berwarna biru semuanya terlihat seperti sebuah lukisan yang luar biasa cantiiiik. I was very surprised that  there is such a beautiful place! Saking cantiknya tak ingin rasanya saya kehilangan moment untuk diabadikan dengan camera (maklum camera baru beli...hehehe).
Sesuai pengumuman di papan saat turun ke kawah, dalam kondisi normal dihimbau agar pengunjung tidak berada dikawah lebih dari 15 menit, maka saya akhiri kunjungan di tengah kawah tersebut, meski bagi para penjaja belerang plastikan yang nongkrong di pinggir kawah, yang katanya belerangnya berkasiat untuk menghaluskan kulit, menghilangkan jerawat dll, dsb, mungkin sudah nongkrong di sana sejak pagi.
Sambil naik kembali menuju bibir kawah, sempat saya lihat situs gua belanda di lereng kawah.. (ngapain si Belanda dulu nongkrong di situ ya..hehehehe.)

Secara umum, kondisi sekitar kawah terlihat bersih dan rapi (harus ya, karena karcisnya mahal!), dan pengaturan serta prosedur wisata juga rapi.

Karena dikejar waktu, selepas dari area kawah putih kami langsung  menuju area wisata lain yang berjarak tidak terlalu jauh yaitu Telaga Patengan, dimana ditengahnya terdapat sebuah pulau dengan batu cinta.
Tidak terlalu jauh, mungkin sekitar 15-20 menit sampailah kami disana, dimana area wisata tersebut masuk dalam area PTP Nusantara VIII Rancabali. Dari ketinggian, telaga ini telihat indah dikelilingi perkebunan teh. Namun sayangnya masuk tempat parkir, pemandangan khas wisata Indonesia mulai telihat. Berbeda dengan Area Kawah Putih, tempat parkir telaga-Patengang terkesan kumuh dan crowded.
Dari tempat parkir menuju tempat naik perahu ke batu cinta, disepanjang  jalan disesaki oleh penjual, baik yang dadakan maupun permanen. Dan yang lebih parah lagi, untuk menyewa perahu ke batu cinta anda harus tawar menawar, tidak seperti di kawah putih yang langsung dipasang tarif. Karena alot, kami memutuskan tidak naik perahu, toh di Bontang sudah sering kita naik speed boat.

Sambil melepas lelah, kami sekedar duduk disekitar telaga sambil menikmati buah markisa yang kami beli dipintu masuk tadi. 

Telaga Patengang 

 
Pemandangan telaga yang cantik, cukup melipur lara kami, meski kami tidak sempat berkayuh perahu ke tengan pulau batu cinta.