Setelah agak menyesal karena nggak sempat
menuliskan pengalaman menyusuri kota-kota di benua selatan (Australia) sekitar 2
tahun lalu, kali ini saya coba menuliskan pengalaman perjalanan saya menyusuri
kota-kota tua di benua Eropa, tepatnya di Vienna dan Budapest, agar tidak lupa untuk dijadikan kenangan.
Seperti biasanya, saat bepergian ke luar negeri, pertama yang perlu diperhatikan adalah syarat masuknya, apakah bebas visa atau tidak. Untuk Eropa, Indonesia sayangnya masih harus mengurus visa. Dan karena perlu biomterik dan cap jari, maka kita harus langsung hadir. Karena sekalian di Eropa , saya mengurus Visa Schengen Staaten sehingga bisa masuk ke seluruh negara Eropa.
Setelah hadir di Kuningan City untuk foto dan cap jari visa, kami perlu sekitar 15 hari kerja untuk menunggu apakah diperlbolehkan masuk...dan Alhamdulillah ok.
----------------------------
Sebelum hari H keberangkatan, saya pastikan dulu
reservasi paket internet eropa dari Telkomsel untuk 7 hari dengan biaya sekitar
1.1 juta telah siap. Salah satu kemudahan Telkomsel (sorry bukan promo ya) adalah
bisa reservasi duluan untuk aktifasi paket.
Perjalanan saya mulai dari Jakarta
tanggal 19 September malam jam 20.50 dengan Turkish Airlines. Kenapa memilih
maskapai ini, selain karena rekomendasi travel agent, juga karena masukan dari
yang pernah memakai pesawat ini yg mempunyai kesan baik. Turkish Air terbang ke
Istambul dari Jakarta hampir sekitar 7 jam. Turun di Istambul sekitar 4 jam
untuk connecting flight ke Vienna dg pesawat yg lebih kecil. Sehingga lumayan masih bisa
menikmati airport Istambul yang kesannya memanjang dipenuhi dengan fasilitas belanja, untuk sekian lama. Setelah terbang sekitar 2 jam lebih kami
akhirnya mendarat di Vienna. Tidak sebesar yg kami bayangkan, mungkin bandara
Vienna nampak seperti bandara Juanda Surabaya.
Di bandaraVienna, kami tidak lupa tukar uang
Euro dan mencari kartu SIM tambahan handphone satunya agar komunikasi selama di
Eropa dengan keluarga dan kolega tetap lancar. Dan kebetulan dapat unlimited
SIMCARD Eropa minus Turki seharga 40 Euro.
Karena membawa bagasi 4 buah untuk 3
orang, kami diskusi dengan petugas yang menangani taksi agar dicarikan mobil
yang agak besar. Kami dapat mobil sedan dengan bagasi lapang dan kondisi yg
sangat nyaman. Driver sempat memacu kecepatan sampai 150 km/jam dan tetap dalam
kondisi nyaman. Sekitar 40 menit taksi sampai ke Hotel Mercure Wien City yg
sudah saya booking seminggu sebelumnya dg argo sekitar 40 Euro.
Karena satu kamar belum siap, terpaksa saya
menunggu sekitar 1 jam. Suhu sekitar 9 derajat Celcius membuat saya belum
berani langsung jalan tanpa persiapan dan menyesal telah mengeluarkan syal dari
koper saat hendak berangkat.
Hari itu setelah sore baru kami
berjalan-jalan ke pasar tradisional, mengenal kota, tentunya dengan persiapan
yg lengkap. Yang menarik dengan Vienna adalah bangunannya yang sebagian besar
adalah bangunan model tua. Bahkan toko pun tidak seperti toko kebanyakan di
Indonesia, semua dalam gaya bangunan tua. Pasar tradisional hampir sama dengan
Indonesia, bedanya sangat bersih dan higines….
Saya habiskan sore hari dalam cuaca yg
dingin mengelilingi area sekitar hotel dengan jalan kaki. Dan tanpa sadar, mata
yang sebelumnya melihat kesana kemari tiba-tiba terpaku pada café Howler;
sebuah café yang menyajikan Kebab….:) tanpa diskusi lama, kami langsung masuk
dan duduk… Hmmmm ternyata porsinya jumbo.
Sore hari kami selesaikan jalan-jalan
dengan belanja kebutuhan, khususnya buah di Supermarket SPAR, sebuah
supermarket terkenal yang menyediakan buah, sayur, keju, makanan ringan, aqua
termasuk beer….. Ambil secukupnya, dan saat belanja jangan lupa bawa tas dari
rumah, krn disana tas untuk belanjaan harus beli. Euro yang mahal, yaitu
sekitar 15.900 rupiah per Euro, membuat kita harus hati-hati mengeluarkan
recehan kecil karena sering silap jika tidak teliti dengan 1 cent, sampai 50
cent.
Malam hari kami habiskan waktu untuk tidur
karena besok pagi-pagi sekali kami perlu lihat venue untuk acara.
-----------------------
Habis Sholat Subuh, kami langsung keluar
jalan kaki dan sekaligus mencari lokasi acara yang akan dimulai sore hari jam
16.30 local time. Keluar dari pintu hotel, angin dingiiin langsung menerpa
leher dan telinga yang telanjang tanpa penutup. Dinginnya sangat sensasional,
seandainya saja rasa dingin itu bisa dituliskan dengan kata-kata…hmmmm////
Berjalan menyeberangi sungai Danube yang
bersih dan friendly terhadap pejalan kaki, kami tempuh jarak sekitar 950 meter
dalam 15 menit. Bantuan google map sungguh luar biasa karena dia mampu
menunjukkan lokasi dengan sangat akurat. Bahkan saat sebelum berangkat, ketika
mencari hotel yg dekat dengan venue saya sudah menggunakan google maps untuk
mendapatkan hotel terdekat. Kebetulan saya member Le Accor grup hotel mercure,
ibis, novotel, dll sehingga bisa dengan mudah booking menggunakan aplikasi
jauh-jauh hari.
Sore hari, kami ke acara dan semua berjalan
lancar. Selama tiga hari kami ketemu para akademisi dari berbagai negara dari 5
benua untuk saling menyampaikan konsep dan praktik CSR. Sebuah kebahagiaan
tersendiri bisa ketemu dengan mereka dan belajar banyak ttg konsep-konsep CSR.
Di sela-sela kegiatan resmi, kami sempatkan
jalan-jalan sepanjang Vienna. Kesempatan untuk City Tour sangat gampang karena
disana tersedia penyedia jasa bis city tour HOP ON HOP OFF dengan pilihan jalur
yang bervariasi. Dengan 25 euro anda bisa sepuasnya berkeliling Vienna. Sebuah
contoh penataan wisata yang patut ditiru oleh negara kita yang modal keindahannya tidak kalah
menariknya.
Kami juga sempatkan membeli berbagai
souvenir meski dengan nilai yang agak mahal. Dan selfie jangan sampai
terlupa.
=============
Tanpa terasa waktu berpisah dari Vienna
telah sampai pada waktunya. Setelah 4 hari menjelajahi Vienna, kami meneruskan
perjalanan ke Budapest, Hungaria dengan menggunakan Kereta. Dari hotel ke
Station lumayan lancar. Kebetulan kami sudah pesan tiket dan check in tiket sebelumnya, sehingga sesampai disana kami tinggal mencari platform untuk RJ 61
jurusan Munchen-Budapest. Jam 11.50 tepat kereta tiba dan tak lama kemudian
berangkat meuju Budapest. Meski ekonomi, namun tak kalah dengan kualitas kereta
executive di Indonesia, tentunya karena harganya juga lebih mahal dibanding
kereta eksekutif dengan lama perjalanan 2.5 jam sejauh Jakarta-Bandung kalau di
kita.
Lancar dan akhirnya kami tiba di Stasiun
Budapest Keleti. Kedatangan kami disambut oleh wajah stasiun yang terkesan kuno
dan besar. Taksi sangat mahal, sehingga dianjurkan jika tidak membawa barang
bawaan banyak lebih baik naik bis atau kereta kota. Dan ternyata betul dugaan
saya, "Seharusnya you telpon taksi resmi, krn kalau naik di pinggir jalan pasti
akan overcharged", kata receptionist di Hotel Soho tempat kami menginap.
Awalnya
kami underestimate dengan Budapest krn terkesan kota tua dan agak kotor
dibanding Vienna. Namun keesokan harinya saat kami naik bis HOP ON HOP OFF
keliling Budapest, termasuk dalam tiket adalah wisata sungai Danube, kami baru
menyadari bahwa Budapest lebih menarik untuk object wisatanya. Kami sempatkan
ke pasar traditional yang bersih dan rapi, dan ternyata berdasarkan obrolan penjual disana, Indonesia lumayan
terkenal disana…. Khususnya karena suka belanja….
Sepanjang hari kami keliling-keliling kota
termasuk dari arah sungai, sampai terasa puas menikmati bangunan-bangunan tua
dan keindahan arsitektur kota Budapest. Sebuah achievement yang luar biasa
mengingat bangunan-bangunan tua tersebut termasuk jembatan nya dibangun sekitar era 1800 an. Mengingatkan bangunan tua kreasi kolonial Belanda yang ada di Indonesia, yang kualitasnya sampai saat inipun masih terjaga dengan baik.
Selama di Eropa satu hal yang perlu
diperhatikan adalah menu makanan. Bagi saya yang sudah lama diet nasi mungkin
tidak terlalu bermasalah. Namun bagi teman yang masih tergantung nasi, mungkin
tips kolega saya yang membawa kompor portable dan beras, makanan kecil termasuk rendang dari Indonesia patut
ditiru.
Hari-hari di hotel, kami nikmati breakfast
dengan makan telur rebus, salad, roti, buah karena semua yang lain tidak yakin halalnya.
Kecuali makan siang atau malam dimana kami bisa menemukan banyak masakan timur
tengah yang kebanyakan dikelola oleh pendatang dari Pakistan atau Turki, sehingga dapat lumayan
mengobati kangen dengan masakan Indonesia.
to be continued