Melihat kambing yang sehari hari dipiara dikorbankan, terungkap pertanyaan kepada sang Bapak, kasihan dan kenapa?
Dengan tenang beliau menjawab bahwa dengan cara bermanfaat bagi yang lain dia bisa terbang ke surga…
Sep 10, 2016
Apr 26, 2016
Kasar asal jujur?
Akhir-akhir ini kita dibenturkan dengan permainan kata yang
jadi ramai karena terkait politik.
“Biar kasar, tidak sopan, arogan asal jujur dan tidak
korupsi, daripada sopan tapi korupsi dan tidak jujur”
Masyarakat kita seakan disuruh memilih diantara 2 pilihan yang
sebenarnya sama-sama bukan pilihan yang ideal.
Yang jadi perhatian saya bukan memilih yang mana, tapi sebuah
kenyataan bahwa kita mengorbankan karakter universal demi sebuah tujuan jangka
pendek yang dalam waktu lama akan merusak bangsa ini jika diikuti oleh massa. Dan ini semakin menunjukkan betapa
bahayanya jika semua harus dihalalkan demi politik.
Sopan dan Tidak Arogan adalah sebuah hal yang universal. Demikian
juga dengan Jujur dan Tidak Korupsi adalah hal yang universal kebenarannya. Setiap
dari kita seharusnya melakukan hal itu.
Manakala kedua karakter tersebut ditempelkan dengan syarat, maka akan muncul kondisi yang tidak mendidik dan tidak memberi pencerahan kepada masyarakat. JADI, Sopan dan Tidak Arogan harus dilakukan tanpa dikasih embel-embel “tapi korupsi”. Sama halnya dengan Jujur dan Tidak Korupsi, harus dilakukan tanpa harus “Kasar, tidak sopan dan Arogan”. Ya karena keduanya nggak usah dipaksa untuk berhubungan satu sama lain. Jujur, tidak korupsi, sopan, tidak arogan tidak tergantung satu sama lain.
Manakala kedua karakter tersebut ditempelkan dengan syarat, maka akan muncul kondisi yang tidak mendidik dan tidak memberi pencerahan kepada masyarakat. JADI, Sopan dan Tidak Arogan harus dilakukan tanpa dikasih embel-embel “tapi korupsi”. Sama halnya dengan Jujur dan Tidak Korupsi, harus dilakukan tanpa harus “Kasar, tidak sopan dan Arogan”. Ya karena keduanya nggak usah dipaksa untuk berhubungan satu sama lain. Jujur, tidak korupsi, sopan, tidak arogan tidak tergantung satu sama lain.
Jika sesorang tersebut jujur namun sampai saat ini masih
tidak sopan dan arogan, ya sebaiknya untuk sementara dimaklumi karena mungkin karakternya
seperti itu, dan hendaknya ybs mau berubah atau kita semua khususnya pendukungnya mau menasihati dan mendoakan agar
idolanya berubah menjadi sopan. Bukan di justifikasi bahwa hal tersebut bagus yang penting jujur
dan tidak korupsi.
Menurut saya pribadi ini adalah salah satu tanggung jawab kita sebagai warga negara dalam berperan serta menjaga karakter bangsa kita sebagai bangsa yang sopan dan jujur, agar tidak berubah menjadi "tidak sopan asal jujur"!!
Menurut saya pribadi ini adalah salah satu tanggung jawab kita sebagai warga negara dalam berperan serta menjaga karakter bangsa kita sebagai bangsa yang sopan dan jujur, agar tidak berubah menjadi "tidak sopan asal jujur"!!
Tentunya yang paling ideal adalah “Sopan dan Jujur serta tidak
korupsi dan tidak arogan”. Dan saya yakin masih banyak orang Indonesia yang
berkarakter seperti itu. Jadi saran saya, pilihlah yang Sopan, tidak arogan,
jujur dan tidak korupsi”
Lagi-lagi, mari kita gunakan nurani dalam memandu keseharian kita..!
*ilustrasi diambil dari https://esfandynamic.wordpress.com/2013/10/19/budaya-keramahan-dan-sopan-santun-di-indonesia/
Lagi-lagi, mari kita gunakan nurani dalam memandu keseharian kita..!
*ilustrasi diambil dari https://esfandynamic.wordpress.com/2013/10/19/budaya-keramahan-dan-sopan-santun-di-indonesia/
Feb 23, 2016
Jiwa yang mencari.
Di bawah sunyi,
diriku terpisah.
hiruk,
pikuk,
marah,
sedih,
ego,
nikmat,
kuasa,
tersinggung,
takut.
pikuk,
marah,
sedih,
ego,
nikmat,
kuasa,
tersinggung,
takut.
fana,
hampa,
hati,
mati,
pasrah,
rela,
salah,
kasih,
simpati,
derita,
hidup sementara yang memabukkan.
Meski tak pernah pasti, entah setelah itu kemana?
Nov 15, 2015
Nov 6, 2015
Batam, Singapura dan Bintan
Keliling Batam dulu sambil mengerjakan tugas
Creatiffff
tak kalah dengan Bali
Wisata mangrove
Shopping centre bintan
Lihat mangrove
Hmmm
Makan malam dulu
Nyari seafood
Dari Batam naik ferry ke singapore
Creatif
Creatiffff
Singanya berkabut
Di garden bay
Naik flyer
Pantai bintang cantik bro
tak kalah dengan Bali
Makannan sehat
Wisata mangrove
Shopping centre bintan
Naik flyer
Lihat mangrove
Mejeng aja nggak nyoba
Hmmm
Visiting Kangaroo Land
Berangkat dg Qantas selama sekitar 7 jam lebih bersama Istri, tidak menyisakan kelelahan karena excited banget.
Sesampai di hotel IBIS World Square, kami langsung berjalan-jalan ke icon2 Sydney yang terkenal.
Musim menjelang summer tidak memerlukan penyesuaian yang banyak, bagi kami.Setelah puas jalan-jalan waktunya beraktifitas dengan rekan2 dari Aussie...
Untungnya cakap-cakap dalam bahasa Inggris masih belum lupa sehingga nggak bengong-bengong amat...
Di sela-sela kesibukan, masih sempat selfie di pantai...
Meski mencoba makanan variatif dari negeri Kangaroo, namun makanan asia tetap enak di lidah.
Jul 28, 2015
Ujian Masuk PTN; Antara Kepintaran Akademis dan Strategi Mengenali Diri
Terakhir ikut UMPTN tahun 1991, membuat saya minder saat harus ikut “pusing”memikirkan anak pertama yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Semua ternyata berubah, mulai dari proses pendaftaran, pembayaran, pengumuman sampai pengisian biodata, yang semuanya sudah online....:).
Jeleknya saya, selama ini seluruh hal terkait dengan pendidikan si sulung saya serahkan sepenuhnya kepada mamanya, sehingga saat dibutuhkan, saya harus belajar dari awal.
Just info, ditahun 2015 ini sistem penerimaan mahasiswa baru di PT Negeri pada dasarnya dibagi 3 yaitu: SNMPTN (penelusuran dari nilai Raport dan Prestasi), SBMPTN (Ujian Nasional) dan Ujian Mandiri dari masing-masing Perguruan Tinggi Negeri.
Setelah babak pertama di SNMPTN si teteh "belum beruntung", saya terus terang mulai kepikiran dan khawatir, bagaimana jika nanti nggak keterima di SBMPTN. Melihat semangat sekolah si teteh, timbul semangat saya untuk ikut nimbrung.
Sejak itu, saya mulai mempelajari seluk beluk SBMPTN,
termasuk meneliti secara mendalam berbagai jurusan yang tepat serta cocok
dengan putri saya. Dari riset kecil-kecilan tersebut saya akhirnya yakin dengan sebuah
kesimpulan bahwa ternyata untuk bisa diterima di PTN, tidak hanya diperlukan
kepintaran diatas rata-rata, namun strategi memilih jurusan juga mempengaruhi, karena terkait
erat dengan pemetaan kekuatan diri.
Kecenderungan umum adalah jurusan favorit di UN favorit
pasti akan dicoba oleh mereka yang sangat unggul dibidang akademik. Untuk
mereka yang secara akademik sangat luar biasa, hal ini tentunya tidak menjadi
masalah, sekalian uji nyali dan uji posisi. Namun bagi calon mahasiswa yang “hanya”diatas
rata-rata, maka harus pandai-pandai mengukur kemampuan vs. ketersediaan kursi
vs. jumlah calon peminat.
Dari hasil evaluasi dan belajar tentang ujian masuk PTN tersebut
serta evaluasi kenapa di SNMPTN sebelumnya dia tidak tembus, saya akhirnya
memberanikan diri untuk berdiskusi kelompok dengan istri dan si kecil kami,
termasuk materi diskusi tersebut adalah pengenalan kemampuan dan ngematch-kan
dengan jurusan yang akan dipilih. Termasuk didalamnya kami beranikan diri untuk meng-adjust jurusan apa dan PTN apa yang akan dipilih, tentunya tanpa mengorbankan
minat dan bakat dan dengan persetujuan si teteh.
Tibalah hari ujian. Segala cara sudah kami tempuh, termasuk mengikutkan si teteh ke BIMBEL yang katanya terkenal cespleng di Bandung selama satu bulan. Tinggal doá yang bisa kami panjatkan agar dia diberikan yang terbaik!!.
Dan Alhamdulillah, setelah satu bulan ujian, hasil SBMPTN diumumkan. Putri kami berhasil lolos ke jurusan yang memang dia minati. Kegembiaraan tersebut ternyata tidak berhenti sampai disitu. Beberapa hari kemudian, dari hasil ujian mandiri di PTN terkenal di Yogya, si Teteh juga dinyatakan diterima di jurusan yang dia minati. Tanpa sadar Mamanya anak-anak melompat gembira dan tak henti-hentinya mengucap syukur atas berita gembira tersebut.
Dan Alhamdulillah, setelah satu bulan ujian, hasil SBMPTN diumumkan. Putri kami berhasil lolos ke jurusan yang memang dia minati. Kegembiaraan tersebut ternyata tidak berhenti sampai disitu. Beberapa hari kemudian, dari hasil ujian mandiri di PTN terkenal di Yogya, si Teteh juga dinyatakan diterima di jurusan yang dia minati. Tanpa sadar Mamanya anak-anak melompat gembira dan tak henti-hentinya mengucap syukur atas berita gembira tersebut.
Membaca ulasan di berbagai media, terdapat lebih dari 600 ribu calon mahasiswa yang mencoba masuk ke PTN, dan hanya sekitar 20 % yang
diterima. Adalah kebahagiaan dan kesyukuran yang luar biasa bahwa si Teteh
mampu masuk ke PTN favorit dan ke Jurusan yang dia minati.
Benar teori saya diatas, yang seperti dikuatkan oleh sebuah
harian di Jawa Timur dimana dikatakan bahwa masih banyak calon mahasiswa pintar
yang tidak keterima di PTN khususnya di Jurusan favorit dan PTN favorit. Bukan
karena mereka tidak pintar, mereka bahkan secara akademik sangat pintar.
Masalahnya adalah 100 seat harus diperebutkan katakanlah 10.000 anak terpintar
di Indonesia, sehingga harus ada 9900 anak pintar yang tidak diterima.
Dari pengalaman mengikuti putri pertama kami mengikuti proses seleksi PTN, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak terkait..:)
Bagi calon mahasiswa, setelah menunjukkan usaha belajar yang semaksimal mungkin, kebesaran hati untuk mengukur kemampuannya secara jujur dan tidak egois adalah hal yang sangat penting sehingga pilihan jurusan, pilihan PTN dapat realistis meski tanpa mengorbankan minat dan bakatnya.
Untuk orang tua, masa penerimaan PTN adalah masa kritikal bagi si buah hati. Tatapan mata sedih mereka saat tidak diterima akan membuat kita menyesal jika tidak mendampingi mereka dari awal. Dan tatapan bahagia serta senyum sumringah mereka saat diterima adalah kebahagiaan yg tidak ternilai harganya. Jangan memilihkan mereka jurusan yang kita minati, karena yang akan kuliah adalah mereka. Kita hanya menemani, memberi advise dan memfasilitasi mereka. Mereka kita berikan tanggung jawab atas masa depan kehidupannya.
Bagi calon mahasiswa, setelah menunjukkan usaha belajar yang semaksimal mungkin, kebesaran hati untuk mengukur kemampuannya secara jujur dan tidak egois adalah hal yang sangat penting sehingga pilihan jurusan, pilihan PTN dapat realistis meski tanpa mengorbankan minat dan bakatnya.
Untuk orang tua, masa penerimaan PTN adalah masa kritikal bagi si buah hati. Tatapan mata sedih mereka saat tidak diterima akan membuat kita menyesal jika tidak mendampingi mereka dari awal. Dan tatapan bahagia serta senyum sumringah mereka saat diterima adalah kebahagiaan yg tidak ternilai harganya. Jangan memilihkan mereka jurusan yang kita minati, karena yang akan kuliah adalah mereka. Kita hanya menemani, memberi advise dan memfasilitasi mereka. Mereka kita berikan tanggung jawab atas masa depan kehidupannya.
Untuk sekolah SMA atau yg sederajat, tidak hanya bertanggung jawab atas prestasi akademik anak didiknya, namun juga dibutuhkan dukungan yang lebih besar lagi
dalam mensupport para lulusan saat akan apply ke PTN, dengan memberi masukan
yang akurat dan menyeluruh terkait strategi masuk dan memilih jurusan yang
tepat.
Dan untuk Pemerintah, masih banyak calon mahasiswa yang
kecewa karena belum bisa diterima di PTN padahal mereka mungkin memiliki
kemampuan yang lebih dan semangat yang tinggi. Adalah tanggung jawab pemerintah
agar mereka yang sekitar 80% ini mendapatkan pendidikan yang baik meski tidak
mendapatkannya di PTN.
Mar 21, 2015
Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG
Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG: KERJASAMA: Msalah Keamanan di lingkungan Badak LNG butuh kerjasama semua pihak. (ist) BONTANG - Beberapa kendaraan berhenti sejenak s...
Feb 12, 2015
Pertanyaan Terakhir
Mengutip pertanyaan seorang filsuf setelah mendalami semua proses kehidupannya, ada satu pertanyaan penting yang akhirnya harus segera dijawab yaitu: "Kenapa saya dilahirkan?"
Best wishes to you all my friend!
Busori S.
Best wishes to you all my friend!
Busori S.
Nov 26, 2014
Jun 27, 2014
Ketika menghujat menjadi biasa
Menghujat, menjatuhkan, mengolo akhir-akhir ini menjadi sebuah hal yang biasa di media kita. Imbasnya masyarakat pembaca dan pemirsa secara otomatis menjadikan hal tersebut sebuah kebiasaan.
Sebuah fenomena sosial unik ini semakin menguatkan teori ttg betapa powerful nya media dalam membentuk sebuah budaya.
Jadi make sure bahwa anda tidak terbawa latah.
Sebuah fenomena sosial unik ini semakin menguatkan teori ttg betapa powerful nya media dalam membentuk sebuah budaya.
Jadi make sure bahwa anda tidak terbawa latah.
Feb 7, 2014
Muhibah ke Brunei
Bepergian ke Brunei, mungkin bagi sebagian orang agak “nanggung”. Kita lebih cenderung ke Singapura, Malaysia, Bangkok atau sekalian yang jauh semisal Australia, Eropa atau ke Benua Amerika dan Timur Tengah.
Karena tugas, saya dan rombongan
berkesempatan ke Brunei. Perjalanan ke Brunei seyogyanya bisa ditempuh dengan
cepat, karena kota asal saya adalah Bontang. Jika melihat peta, dan kita tarik
garis lurus dari Bontang ke utara menuju Brunei harusnya jaraknya kurang lebih antara
Bontang dengan Balikpapan atau Banjarmasin. Namun karena kendala transportasi,
itinerary jadi agak muter-muter yaitu melewati Jakarta baru menuju Brunei
Darussalam.
Rombongan besar kami dengan jumlah sekitar
45 orang . Bepergian dengan rombongan besar tentunya banyak keuntungan. Antara
lain, perjalanan sudah dikoordinir dan yang pasti kekawatiran traveling
sendirian tidak akan ditemui, misalnya takut tersesat, feeling lonely dan takut
dikerjain orang.
Kami berangkat dari Bontang tanggal 23
Januari, melalui jalan darat ke Balikpapan yang menempuh waktu tempuh sekitar 6
jam. Berangkat jam 01 dini hari tidak banyak yg bisa dinikmati selain tidur.
Sesampai di Balikpapan sekitar jam 6 pagi, kami masih harus menunggu
penerbangan ke Jakarta jam 09.00. Semalam kemudian kami menginap di Hotel FM7
di daerah Tangerang di belakang airport karena keesokan harinya kami harus
berangkat dengan penerbangan Royal Brunei Flight 738 jam 04.50 waktu Jakarta.
Salah satu yang berbeda antara Royal Brunei
dengan penerbangan lain, sebelum berangkat Video pertama yang diputar adalah
Video doa-doa perjalanan… hmmm sungguh menentramkan. Sampai di Brunei Intl Arpt
(BWN) Bandar Seri Begawan sekitar jam 8.10 waktu Brunei/Wita. Airport Brunei
yang besar terkesan sepi pengunjung, mungkin tidak banyak penerbangan yang
dilayani. Berbeda dengan airport2 yang ada di Indonesia, dibangun sebesar
apapun tidak berapa lama kemudian akan kembali menyempit oleh banyaknya orang.
Dari Airport kami naik Bas Khas, menuju
hotel Rizqun. Untungnya kami langsung dapat kamar. The Rizqun Hotel, tempat
acara sekaligus kami menginap berlokasi di tempat yang strategis, karena hotel
ini langsung connect dengan The Mall, yang kelihatannya mall terbesar di kota.
Setelah check-in dan registrasi, kami langsung
makan siang (setengah pagi, karena hari Jumat) di sebuah rumah makan Thailand.
Yang unik, seluruh pekerja restoran adalah perempuan berkulit putih berkerudung
islami yang rapi sekali, sehingga kami beranggapan mereka adalah muslim. Tapi
jangan kaget dulu saat rekan protocol kami menanyakan ke mereka, ternyata hampir
semuanya adalah warga Filipina dan karena dress code Negara Islam, maka mereka
pakai Jilbab… It’s okay…
Selesai Jum’atan, kami melakukan
kegiatan-kegiatan persiapan untuk keesokan harinya. Malam hari acara
dilanjutkan dengan Welcome Dinner The 7th Borneo LNG Conference and
Golf.
Keesokan harinya, adalah waktunya acara perusahaan
yang memakan waktu hampir sehari penuh, dan pada saat malamnya, hari itu ditutup dengan dinner
di restoran sea food pinggir pantai. Lagi-lagi saat ngobrol dengan pekerja
perempuan di restoran tersebut, kami dapati mereka rata-rata berasal dari Indonesia. Good job…rek!
Kekenyangan dan kecapekan, sesampai di hotel saya langsung menuju lautan
kapuk….
Hari kedua, program bagi non golfer, termasuk
saya, adalah Tour. Dalam acara tour di Brunei, tidak banyak tempat yang bisa dilihat. Pertama
kami berkunjung ke Muzium Brunei, kemudian ke Musium lain dimana didalamnya disimpan
barang-barang pribadi milik Sultan Brunei, termasuk keris kerajaan dan kucing
emas kiriman dari Raja Majapahit waktu itu, serta barang-barang terkait dengan
kerajaan yang sungguh luar biasa.
Selanjutnya kami diajak menuju Masjid Sultan
Brunei dimana tidak hanya kubah nya yang berlapis emas, bahkan emblem yang
menempel di sepanjang pagarnya pun
menurut pemandu kami adalah berlapis emas. Hmmm ...., dan tanpa ada polisi yang
menjaga.. wow….
Kami hanya sekedar lewat depan istana
Sultan yang diceritakan oleh pemandu kami konon mempunyai kamar 1000 lebih.
Tidak bisa kami masuk karena biasanya hanya dibuka saat Idul Fitri, Idul Adha
atau saat Ulang Tahun Sultan, sehingga cukup kami lihat menara nya dari jauh.
Kampong Ayer sungguh ditata dengan sangat rapi, seragam dan tidak beda bahkan lebih baik dari pada lokasi pemukiman yang ada di darat. Jika kita perlu benchmark tentang penaataan kawasan pemukiman diatas air, saya yakin Kampung Ayer Brunei adalah tempat benchmark yang paling bagus. Selain kondisinya sendiri yg luar biasa bagusnya, juga pengaturannya sebagai kawasan wisata telah tertata dengan sangat baik.
Para penduduk kampong ayer disiapin dengan sebuah tempat parkir mobil yang sangat luas diseberang sungai untuk mengakomodir parkir mobil mereka saat malam hari atau saat tidak beraktifitas didarat.
Dan for your info, kondisi mobil di Brunei
sungguh luar biasa kondisinya. Rata-rata baru dengan brand menengah ke atas. Dan anda
jangan terlalu berharap akan menemukan sepeda motor dijalanan Brunei, karena
hampir semuanya memakai mobil!.
Sebelum pulang ke Hotel, kami masih sempat berkunjung ke Taman Bunga yang sangat luas dan rapi. Brunei berusaha maksimal menarik wisatawan
dengan dibangunnya banyak hal-hal menarik
semacam ini.
Meskipun kata orang –orang, mereka nggak terlalu tertarik dengan devisa dari
turis karena nggak signifikan sebagai masukan...:)
Setelah seharian penuh kami tour, waktu
istirahatpun tiba. Sebelum packing nanti malam, kami sempatkan mencari cindera mata selama
di Brunei. Dollar Brunei mempunyai kurs yang sama dengan Dollar Singapura.
Biaya hidup termasuk tinggi, bahkan saya rasa lebih tinggi daripada di Bontang.
Dan dengan jumlah penduduk yang hanya
411.000 orang dengan sumber pendapatan dari LNG dan Minyak, disertai dengan
pengelolalan Negara yang bijak oleh Sultan, bisa kita bayangkan betapa
makmurnya orang Brunei.
Menyudahi acara di Brunei, malam terakhir diadakan farewell dinner dengan berbagai hiburan. Hiburan yang disajikan baik dari Brunei maupun Malaysia juga hampir tak berbeda dengan model hiburan kalimantan, baik musik maupun tarinya. Ya... meski beda disana-sini, ada satu hal yang tidak bisa membedakan antara kami, bahwa sebagai negara serumpun, yang bahkan mungkin kakek moyangnya juga sempat bertemu jaman dulu, nafas kesamaan diberbagai hal masih kental terlihat.
Keesokan paginya kami meninggalkan Brunei dengan Royal Brunei. Dan transit sekitar dua jam di KLIA Malaysia untuk pindah ke Penerbangan Garuda. Waktu satu jam memberi kami kesempatan untuk mencari belanjaan duty-free di Bandara yang semarak dengan shopping arcadenya itu. Dan setelah waktunya, kami melanjutkan dengan Garuda, menginap satu malam di Jakarta dan pada tanggal 28 Januari kami pulang ke Bontang.
Sebelum saya akhiri titian muhibah ini ada info yg juga penting yang perlu saya sampaikan untuk mereka yang akan ke Brunei. Pergi ke Brunei
serasa tidak pergi keluar negeri. Selain memang kondisi geografisnya yang masih
di Borneo dan penduduknya yang serumpun, juga memang disana banyak ditemui warga
Indonesia. Sejak keberangkatan saya dari Jakarta, duduk disebelah kanan saya adalah
calon TKI dari Tanjung Priok yang akan berangkat ke Brunei, yang kebetulan
masih kesulitan mengisi isian Imigrasi yg berbahasa Inggris.
Sopir bis kami yang melayani sehari-hari ternyata dari Jawa Timur. Salah satu Manager hotel Rizqun adalah kangmas dari Pati yang setiap 4 bulan sekali pulang ke Jawa. Pekerja di Mall yang semula saya kira dari Tiongkok ternyata dari Pontianak. Pekerja restoran sea food yang ada diujung Brunei di pinggir pantai sana juga ternyata dari Tulung Agung…
Saya respek sekali dengan mereka; saudara-saudara kita, yang untuk hidup harus berjuang, mandiri tanpa merepotkan orang lain dan Pemerintah, serta berusaha mati-matian mencari penghasilan halal tidak korupsi, kolusi dan manipulasi meski dengan pengorbanan perasaan dan terpaksa jauh dari keluarga serta negeri sendiri. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.
Sebelum pulang ke Hotel, kami masih sempat berkunjung ke Taman Bunga yang sangat luas dan rapi. Brunei berusaha maksimal menarik wisatawan
Menyudahi acara di Brunei, malam terakhir diadakan farewell dinner dengan berbagai hiburan. Hiburan yang disajikan baik dari Brunei maupun Malaysia juga hampir tak berbeda dengan model hiburan kalimantan, baik musik maupun tarinya. Ya... meski beda disana-sini, ada satu hal yang tidak bisa membedakan antara kami, bahwa sebagai negara serumpun, yang bahkan mungkin kakek moyangnya juga sempat bertemu jaman dulu, nafas kesamaan diberbagai hal masih kental terlihat.
Keesokan paginya kami meninggalkan Brunei dengan Royal Brunei. Dan transit sekitar dua jam di KLIA Malaysia untuk pindah ke Penerbangan Garuda. Waktu satu jam memberi kami kesempatan untuk mencari belanjaan duty-free di Bandara yang semarak dengan shopping arcadenya itu. Dan setelah waktunya, kami melanjutkan dengan Garuda, menginap satu malam di Jakarta dan pada tanggal 28 Januari kami pulang ke Bontang.
Sopir bis kami yang melayani sehari-hari ternyata dari Jawa Timur. Salah satu Manager hotel Rizqun adalah kangmas dari Pati yang setiap 4 bulan sekali pulang ke Jawa. Pekerja di Mall yang semula saya kira dari Tiongkok ternyata dari Pontianak. Pekerja restoran sea food yang ada diujung Brunei di pinggir pantai sana juga ternyata dari Tulung Agung…
Saya respek sekali dengan mereka; saudara-saudara kita, yang untuk hidup harus berjuang, mandiri tanpa merepotkan orang lain dan Pemerintah, serta berusaha mati-matian mencari penghasilan halal tidak korupsi, kolusi dan manipulasi meski dengan pengorbanan perasaan dan terpaksa jauh dari keluarga serta negeri sendiri. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.
Subscribe to:
Posts (Atom)






















