Sep 10, 2016

Berkorban

Melihat kambing yang sehari hari dipiara dikorbankan, terungkap pertanyaan kepada sang Bapak, kasihan dan kenapa?

Dengan tenang beliau menjawab bahwa dengan cara bermanfaat bagi yang lain dia bisa terbang ke surga…

Apr 26, 2016

Kasar asal jujur?



Akhir-akhir ini kita dibenturkan dengan permainan kata yang jadi ramai karena terkait politik.
“Biar kasar, tidak sopan, arogan asal jujur dan tidak korupsi, daripada sopan tapi korupsi dan tidak jujur”
Masyarakat kita seakan disuruh memilih diantara 2 pilihan yang sebenarnya sama-sama bukan pilihan yang ideal.

Yang jadi perhatian saya bukan memilih yang mana, tapi sebuah kenyataan bahwa kita mengorbankan karakter universal demi sebuah tujuan jangka pendek yang dalam waktu lama akan merusak bangsa ini jika diikuti oleh massa. Dan ini semakin menunjukkan betapa bahayanya jika semua harus dihalalkan demi politik.
Sopan dan Tidak Arogan adalah sebuah hal yang universal. Demikian juga dengan Jujur dan Tidak Korupsi adalah hal yang universal kebenarannya. Setiap dari kita seharusnya melakukan hal itu.

Manakala kedua karakter tersebut ditempelkan dengan syarat, maka akan muncul kondisi yang tidak mendidik dan tidak memberi pencerahan kepada masyarakat. JADI, Sopan dan Tidak Arogan harus dilakukan tanpa dikasih embel-embel “tapi  korupsi”. Sama halnya dengan Jujur dan Tidak Korupsi, harus dilakukan tanpa harus “Kasar, tidak sopan dan Arogan”. Ya karena keduanya nggak usah dipaksa untuk berhubungan satu sama lain. Jujur, tidak korupsi, sopan, tidak arogan tidak tergantung satu sama lain.

Jika sesorang tersebut jujur namun sampai saat ini masih tidak sopan dan arogan, ya sebaiknya untuk sementara dimaklumi karena mungkin karakternya seperti itu, dan hendaknya ybs mau berubah atau kita semua khususnya pendukungnya mau menasihati dan mendoakan agar idolanya berubah menjadi sopan. Bukan di justifikasi bahwa hal tersebut bagus yang penting jujur dan tidak korupsi.

Menurut saya pribadi ini adalah salah satu tanggung jawab kita sebagai warga negara dalam berperan serta menjaga karakter bangsa kita sebagai bangsa yang sopan dan jujur, agar tidak berubah menjadi "tidak sopan asal jujur"!!

Tentunya yang paling ideal adalah “Sopan dan Jujur serta tidak korupsi dan tidak arogan”. Dan saya yakin masih banyak orang Indonesia yang berkarakter seperti itu. Jadi saran saya, pilihlah yang Sopan, tidak arogan, jujur dan tidak korupsi”

Lagi-lagi, mari kita gunakan nurani dalam memandu keseharian kita..!

*ilustrasi diambil dari  https://esfandynamic.wordpress.com/2013/10/19/budaya-keramahan-dan-sopan-santun-di-indonesia/

Feb 23, 2016

Jiwa yang mencari.


Di bawah sunyi,
diriku terpisah.
 
 Jernih memandang;
hiruk,
pikuk,
marah,
sedih,
ego,
nikmat,
kuasa,
tersinggung,
takut.
                                Seringnya jiwa melupakan;
fana,
hampa,
hati,
mati,
pasrah,
rela,
salah,
kasih,
simpati,
derita,
hidup sementara yang memabukkan.

Meski tak pernah pasti, entah setelah itu kemana?

Nov 6, 2015

Batam, Singapura dan Bintan

Keliling Batam dulu sambil mengerjakan tugas
Makan malam dulu

Nyari seafood

Dari Batam naik ferry ke singapore

Creatif


Creatiffff
Singanya berkabut

Di garden bay

Naik flyer

Pantai bintang cantik bro


tak kalah dengan Bali
Makannan  sehat

 Wisata mangrove
 Shopping centre bintan
Naik flyer


Lihat mangrove

Mejeng aja nggak nyoba


Hmmm

Visiting Kangaroo Land

Berangkat dg Qantas selama sekitar 7 jam lebih bersama Istri, tidak menyisakan kelelahan karena excited banget.
Sesampai di hotel IBIS World Square, kami langsung berjalan-jalan ke icon2 Sydney yang terkenal.
 Musim menjelang summer tidak memerlukan penyesuaian yang banyak, bagi kami.



 Setelah puas jalan-jalan waktunya beraktifitas dengan rekan2 dari Aussie...
Untungnya cakap-cakap dalam bahasa Inggris masih belum lupa sehingga nggak bengong-bengong amat...
Di sela-sela kesibukan, masih sempat selfie di pantai...


Meski mencoba makanan variatif dari negeri Kangaroo, namun makanan asia tetap enak di lidah.

Jul 28, 2015

Ujian Masuk PTN; Antara Kepintaran Akademis dan Strategi Mengenali Diri


Terakhir ikut UMPTN tahun 1991, membuat saya minder saat harus ikut “pusing”memikirkan anak pertama yang akan masuk perguruan tinggi negeri. Semua ternyata berubah,  mulai dari proses pendaftaran, pembayaran, pengumuman sampai pengisian biodata, yang semuanya sudah online....:).

Jeleknya saya, selama ini seluruh hal terkait dengan pendidikan si sulung saya serahkan sepenuhnya kepada mamanya, sehingga saat dibutuhkan, saya harus belajar dari awal.

Just info, ditahun 2015 ini sistem penerimaan mahasiswa baru di PT Negeri pada dasarnya dibagi 3 yaitu: SNMPTN (penelusuran dari nilai Raport dan Prestasi), SBMPTN (Ujian Nasional) dan Ujian Mandiri dari masing-masing Perguruan Tinggi Negeri.

Setelah babak pertama di SNMPTN si teteh "belum beruntung", saya terus terang mulai kepikiran dan khawatir, bagaimana jika nanti nggak keterima di SBMPTN. Melihat semangat sekolah si teteh, timbul semangat saya untuk ikut nimbrung.

Sejak itu, saya mulai mempelajari seluk beluk SBMPTN, termasuk meneliti secara mendalam berbagai jurusan yang tepat serta cocok dengan putri saya. Dari riset kecil-kecilan tersebut saya akhirnya yakin dengan sebuah kesimpulan bahwa ternyata untuk bisa diterima di PTN, tidak hanya diperlukan kepintaran diatas rata-rata, namun strategi memilih jurusan juga mempengaruhi, karena terkait erat dengan pemetaan kekuatan diri. 

Kecenderungan umum adalah jurusan favorit di UN favorit pasti akan dicoba oleh mereka yang sangat unggul dibidang akademik. Untuk mereka yang secara akademik sangat luar biasa, hal ini tentunya tidak menjadi masalah, sekalian uji nyali dan uji posisi. Namun bagi calon mahasiswa yang “hanya”diatas rata-rata, maka harus pandai-pandai mengukur kemampuan vs. ketersediaan kursi vs. jumlah calon peminat.

Dari hasil evaluasi dan belajar tentang ujian masuk PTN tersebut serta evaluasi kenapa di SNMPTN sebelumnya dia tidak tembus, saya akhirnya memberanikan diri untuk berdiskusi kelompok dengan istri dan si kecil kami, termasuk materi diskusi tersebut adalah pengenalan kemampuan dan ngematch-kan dengan jurusan yang akan dipilih. Termasuk didalamnya kami beranikan diri untuk meng-adjust jurusan apa dan PTN apa yang akan dipilih, tentunya tanpa mengorbankan minat dan bakat dan dengan persetujuan si teteh.

Tibalah hari ujian. Segala cara sudah kami tempuh, termasuk mengikutkan si teteh ke BIMBEL yang katanya terkenal cespleng di Bandung selama satu bulan. Tinggal doá yang bisa kami panjatkan agar dia diberikan yang terbaik!!.

Dan Alhamdulillah, setelah satu bulan ujian, hasil SBMPTN diumumkan. Putri kami berhasil lolos ke jurusan yang memang dia minati. Kegembiaraan tersebut ternyata tidak berhenti sampai disitu. Beberapa hari kemudian, dari hasil ujian mandiri di PTN terkenal di Yogya, si Teteh juga dinyatakan diterima di jurusan yang dia minati. Tanpa sadar Mamanya anak-anak melompat gembira dan tak henti-hentinya mengucap syukur atas berita gembira tersebut.

Membaca ulasan di berbagai media, terdapat lebih dari 600 ribu  calon mahasiswa yang mencoba masuk ke PTN, dan hanya sekitar 20 % yang diterima. Adalah kebahagiaan dan kesyukuran yang luar biasa bahwa si Teteh mampu masuk ke PTN favorit dan ke Jurusan yang dia minati.
Benar teori saya diatas, yang seperti dikuatkan oleh sebuah harian di Jawa Timur dimana dikatakan bahwa masih banyak calon mahasiswa pintar yang tidak keterima di PTN khususnya di Jurusan favorit dan PTN favorit. Bukan karena mereka tidak pintar, mereka bahkan secara akademik sangat pintar. Masalahnya adalah 100 seat harus diperebutkan katakanlah 10.000 anak terpintar di Indonesia, sehingga harus ada 9900 anak pintar yang tidak diterima.

Dari pengalaman mengikuti putri pertama kami mengikuti proses seleksi PTN, ada hal-hal yang perlu diperhatikan oleh berbagai pihak terkait..:)

Bagi calon mahasiswa, setelah menunjukkan usaha belajar yang semaksimal mungkin, kebesaran hati  untuk mengukur kemampuannya secara jujur dan tidak egois adalah hal yang sangat penting sehingga pilihan jurusan, pilihan PTN dapat realistis meski tanpa mengorbankan minat dan bakatnya.

Untuk orang tua, masa penerimaan PTN adalah masa kritikal bagi si buah hati. Tatapan mata sedih mereka saat tidak diterima akan membuat kita menyesal jika tidak mendampingi mereka dari awal. Dan tatapan bahagia serta senyum sumringah mereka saat diterima adalah kebahagiaan yg tidak ternilai harganya. Jangan memilihkan mereka jurusan yang kita minati, karena yang akan kuliah adalah mereka. Kita hanya menemani, memberi advise dan memfasilitasi mereka. Mereka kita berikan tanggung jawab atas masa depan kehidupannya.

Untuk sekolah SMA atau yg sederajat, tidak hanya bertanggung jawab atas prestasi akademik anak didiknya, namun juga dibutuhkan dukungan yang lebih besar lagi dalam mensupport para lulusan saat akan apply ke PTN, dengan memberi masukan yang akurat dan menyeluruh terkait strategi masuk dan memilih jurusan yang tepat.

Dan untuk Pemerintah, masih banyak calon mahasiswa yang kecewa karena belum bisa diterima di PTN padahal mereka mungkin memiliki kemampuan yang lebih dan semangat yang tinggi. Adalah tanggung jawab pemerintah agar mereka yang sekitar 80% ini mendapatkan pendidikan yang baik meski tidak mendapatkannya di PTN.

Mar 21, 2015

Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG

Bontang Post: Mengintip Kebijakan Pengamanan di Badak LNG: KERJASAMA: Msalah Keamanan di lingkungan Badak LNG butuh kerjasama semua pihak. (ist) BONTANG - Beberapa kendaraan berhenti sejenak s...

Feb 12, 2015

Pertanyaan Terakhir

Mengutip pertanyaan seorang filsuf setelah mendalami semua proses kehidupannya, ada satu pertanyaan penting yang akhirnya harus segera dijawab yaitu:  "Kenapa saya dilahirkan?"

Best wishes to you all my friend!
Busori S.

Jun 27, 2014

Ketika menghujat menjadi biasa

Menghujat, menjatuhkan, mengolo akhir-akhir ini menjadi sebuah hal yang biasa di media kita. Imbasnya masyarakat pembaca dan pemirsa secara otomatis menjadikan hal tersebut sebuah kebiasaan.

Sebuah fenomena sosial unik ini semakin menguatkan teori ttg betapa powerful nya media dalam membentuk sebuah budaya.

Jadi make sure bahwa anda tidak terbawa latah.

Feb 7, 2014

Muhibah ke Brunei


Bepergian ke Brunei, mungkin bagi sebagian orang agak “nanggung”. Kita lebih cenderung ke Singapura, Malaysia, Bangkok atau sekalian yang jauh semisal Australia, Eropa atau ke Benua Amerika dan Timur Tengah.

Karena tugas, saya dan rombongan berkesempatan ke Brunei. Perjalanan ke Brunei seyogyanya bisa ditempuh dengan cepat, karena kota asal saya adalah Bontang. Jika melihat peta, dan kita tarik garis lurus dari Bontang ke utara menuju Brunei harusnya jaraknya kurang lebih antara Bontang dengan Balikpapan atau Banjarmasin. Namun karena kendala transportasi, itinerary jadi agak muter-muter yaitu melewati Jakarta baru menuju Brunei Darussalam.

Rombongan besar kami dengan jumlah sekitar 45 orang . Bepergian dengan rombongan besar tentunya banyak keuntungan. Antara lain, perjalanan sudah dikoordinir dan yang pasti kekawatiran traveling sendirian tidak akan ditemui, misalnya takut tersesat, feeling lonely dan takut dikerjain orang. 

Kami berangkat dari Bontang tanggal 23 Januari, melalui jalan darat ke Balikpapan yang menempuh waktu tempuh sekitar 6 jam. Berangkat jam 01 dini hari tidak banyak yg bisa dinikmati selain tidur. Sesampai di Balikpapan sekitar jam 6 pagi, kami masih harus menunggu penerbangan ke Jakarta jam 09.00. Semalam kemudian kami menginap di Hotel FM7 di daerah Tangerang di belakang airport karena keesokan harinya kami harus berangkat dengan penerbangan Royal Brunei Flight 738 jam 04.50 waktu Jakarta. 

Salah satu yang berbeda antara Royal Brunei dengan penerbangan lain, sebelum berangkat Video pertama yang diputar adalah Video doa-doa perjalanan… hmmm sungguh menentramkan. Sampai di Brunei Intl Arpt (BWN) Bandar Seri Begawan sekitar jam 8.10 waktu Brunei/Wita. Airport Brunei yang besar terkesan sepi pengunjung, mungkin tidak banyak penerbangan yang dilayani. Berbeda dengan airport2 yang ada di Indonesia, dibangun sebesar apapun tidak berapa lama kemudian akan kembali menyempit oleh banyaknya orang.
Dari Airport kami naik Bas Khas, menuju hotel Rizqun. Untungnya kami langsung dapat kamar. The Rizqun Hotel, tempat acara sekaligus kami menginap berlokasi di tempat yang strategis, karena hotel ini langsung connect dengan The Mall, yang kelihatannya mall terbesar di kota.
Setelah check-in dan registrasi, kami langsung makan siang (setengah pagi, karena hari Jumat) di sebuah rumah makan Thailand. Yang unik, seluruh pekerja restoran adalah perempuan berkulit putih berkerudung islami yang rapi sekali, sehingga kami beranggapan mereka adalah muslim. Tapi jangan kaget dulu saat rekan protocol kami menanyakan ke mereka, ternyata hampir semuanya adalah warga Filipina dan karena dress code Negara Islam, maka mereka pakai Jilbab… It’s okay…

Selesai Jum’atan, kami melakukan kegiatan-kegiatan persiapan untuk keesokan harinya. Malam hari acara dilanjutkan dengan Welcome Dinner The 7th Borneo LNG Conference and Golf.

Keesokan harinya,  adalah waktunya acara perusahaan yang memakan waktu hampir sehari penuh, dan pada saat malamnya, hari itu ditutup dengan dinner di restoran sea food pinggir pantai. Lagi-lagi saat ngobrol dengan pekerja perempuan di restoran tersebut, kami dapati mereka rata-rata berasal dari Indonesia. Good job…rek!  Kekenyangan dan kecapekan, sesampai di hotel saya langsung menuju lautan kapuk….

Hari kedua, program bagi non golfer, termasuk saya, adalah Tour. Dalam acara tour di Brunei, tidak banyak tempat yang bisa dilihat. Pertama kami berkunjung ke Muzium Brunei, kemudian ke Musium lain dimana didalamnya disimpan barang-barang pribadi milik Sultan Brunei, termasuk keris kerajaan dan kucing emas kiriman dari Raja Majapahit waktu itu, serta barang-barang terkait dengan kerajaan yang sungguh luar biasa.


Selanjutnya kami diajak menuju Masjid Sultan Brunei dimana tidak hanya kubah nya yang berlapis emas, bahkan emblem yang menempel di sepanjang  pagarnya pun menurut pemandu kami adalah berlapis emas. Hmmm ...., dan tanpa ada polisi yang menjaga.. wow….

Dan memang salah satu yang membuat saya merasa agak aneh adalah ketiadaan polisi di tempat-tempat strategis misalnya diperempatan, atau ditempat lain. Kelihatannya peran polisi sudah tergantikan oleh CCTV camera yang hampir bisa ditemui disetiap tempat. Hanya sekali saya lihat ada polisi saat mengawal (kata teman2) pangeran Brunei untuk membukakan jalan bagi Lamborgini yang ditumpangi beliau.

Kami hanya sekedar lewat depan istana Sultan yang diceritakan oleh pemandu kami konon mempunyai kamar 1000 lebih. Tidak bisa kami masuk karena biasanya hanya dibuka saat Idul Fitri, Idul Adha atau saat Ulang Tahun Sultan, sehingga cukup kami lihat menara nya dari jauh.

Selanjutnya adalah berkunjung ke kampong Ayer, lokasi awal penduduk Brunei sama halnya Bontang Kuala di Bontang. Setelah menyebrangi sungai dengan speed boat, akhirnya kami sampai di kampong ayer. Bedanya Kampung Ayer di Brunei dengan di Bontang adalah manajemennya. 




Kampong Ayer sungguh ditata dengan sangat rapi, seragam dan tidak beda bahkan lebih baik dari pada lokasi pemukiman yang ada di darat. Jika kita perlu benchmark tentang penaataan kawasan pemukiman diatas air, saya yakin Kampung Ayer Brunei adalah tempat benchmark yang paling bagus. Selain kondisinya sendiri yg luar biasa bagusnya, juga pengaturannya sebagai kawasan wisata telah tertata dengan sangat baik.

Para penduduk kampong ayer disiapin dengan sebuah tempat parkir mobil yang sangat luas diseberang sungai untuk mengakomodir parkir mobil mereka saat malam hari atau saat tidak beraktifitas didarat.  

Dan for your info, kondisi mobil di Brunei sungguh luar biasa kondisinya. Rata-rata baru dengan brand menengah ke atas. Dan anda jangan terlalu berharap akan menemukan sepeda motor dijalanan Brunei, karena hampir semuanya memakai mobil!. 

Sebelum pulang ke Hotel, kami masih sempat berkunjung ke Taman Bunga yang sangat luas dan rapi. Brunei berusaha maksimal menarik wisatawan dengan dibangunnya banyak hal-hal menarik
semacam ini. Meskipun kata orang –orang, mereka nggak terlalu tertarik dengan devisa dari turis karena nggak signifikan sebagai masukan...:)


Setelah seharian penuh kami tour, waktu istirahatpun tiba. Sebelum packing nanti malam, kami sempatkan mencari cindera mata selama di Brunei. Dollar Brunei mempunyai kurs yang sama dengan Dollar Singapura. Biaya hidup termasuk tinggi, bahkan saya rasa lebih tinggi daripada di Bontang. 


Dan dengan jumlah penduduk yang hanya 411.000 orang dengan sumber pendapatan dari LNG dan Minyak, disertai dengan pengelolalan Negara yang bijak oleh Sultan, bisa kita bayangkan betapa makmurnya orang Brunei.

Menyudahi acara di Brunei, malam terakhir diadakan farewell dinner dengan berbagai hiburan. Hiburan yang disajikan baik dari Brunei maupun Malaysia juga hampir tak berbeda dengan model hiburan kalimantan, baik musik maupun tarinya. Ya... meski beda disana-sini, ada satu hal yang tidak bisa membedakan antara kami, bahwa sebagai negara serumpun, yang bahkan mungkin kakek moyangnya juga sempat bertemu jaman dulu, nafas kesamaan diberbagai hal masih kental terlihat.

Keesokan paginya kami meninggalkan Brunei dengan Royal Brunei. Dan transit sekitar dua jam di KLIA Malaysia untuk pindah ke Penerbangan Garuda. Waktu satu jam memberi kami kesempatan untuk mencari belanjaan duty-free di Bandara yang semarak dengan shopping arcadenya itu. Dan setelah waktunya, kami melanjutkan dengan Garuda, menginap satu malam di Jakarta dan pada tanggal 28 Januari kami pulang ke Bontang.
Sebelum saya akhiri titian muhibah ini ada info yg juga penting yang perlu saya sampaikan untuk mereka yang akan ke Brunei. Pergi ke Brunei serasa tidak pergi keluar negeri. Selain memang kondisi geografisnya yang masih di Borneo dan penduduknya yang serumpun,  juga memang disana banyak ditemui warga Indonesia. Sejak keberangkatan saya dari Jakarta, duduk disebelah kanan saya adalah calon TKI dari Tanjung Priok yang akan berangkat ke Brunei, yang kebetulan masih kesulitan mengisi isian Imigrasi yg berbahasa Inggris. 
Sopir bis kami yang melayani sehari-hari ternyata dari Jawa Timur. Salah satu Manager hotel Rizqun adalah kangmas dari Pati yang setiap 4 bulan sekali pulang ke Jawa. Pekerja di Mall yang semula saya kira dari Tiongkok ternyata dari Pontianak. Pekerja restoran sea food yang ada diujung Brunei di pinggir pantai sana juga ternyata dari Tulung Agung… 

Saya respek sekali dengan mereka; saudara-saudara kita, yang untuk hidup harus berjuang, mandiri tanpa merepotkan orang lain dan Pemerintah, serta berusaha mati-matian mencari penghasilan halal tidak korupsi, kolusi dan manipulasi meski dengan pengorbanan perasaan dan terpaksa jauh dari keluarga serta negeri sendiri. Semoga Allah SWT memberkati kita semua.