Jun 1, 2011
Membaca Rasa...
Seandainya rasa ini bisa dituliskan dengan kata-kata, sungguh bahagia sekali bisa menikmatinya lain waktu dari membacanya.....
May 18, 2011
My Baby's Way
1. Saat melihat saya menarik uang dari ATM, dia berkata, “Ayah ayo ambil lagi yang banyak, biar bisa buat jajan!”.:)......$$$$$@@@@
2. Saat belajar mengeja, “C A ca, B E be”. “Jadi apa dek?”. Sambil melirik ke gambar, dia menjawab, “Lombok!”
3. “Dedek, kalau nanti besar jadi Bu Dokter kayak tante ya.”
“Nggak mau Mama Aku mau jadi pelayan penumpang di pesawat!”
“Lho itu kan pramugari, enakan jadi Dokter!”
“Nggak mau mama, aku mau jadi pramugari!”
“Udah jadi Pilot aja, lebih enakan ya Dek?”
“Nggak mau Mama. Aku mau jadi Pramugari!”
4. Saat diajak foto kopi, dia menjelaskan kepada kakaknya dengan peragaan. Pertama dia melakukan gerakan memfoto. Kedua, dia melakukan gerakan menyeruput kopi. Sambil berkata,” Blurp….. foto kopi jadinya.”
5. Suatu kali dia datang membawa koin, kemudian meletakkan koinnya menutupi matanya, dan berkata ‘’Mata Duitan!”
6. Saat naik pesawat dia berkata, “Nanti kalau pesawatnya jatuh gimana?”
“Hushhhhhh,… ndak boleh bilang gitu dek!”
7. “Mama nanti kalau pergi, tolongin beliin boneka Barbie 2 ya!. Satu untukku, satu untuk temanku. Dia kemarin bilang sama aku, minta dibeliin. Soalnya nggak dibeliin sama mamanya!”.
Dia tidak tahu bahwa boneka Barbie harganya Rp. 300 ribuan!
Be happy like a baby...
2. Saat belajar mengeja, “C A ca, B E be”. “Jadi apa dek?”. Sambil melirik ke gambar, dia menjawab, “Lombok!”
3. “Dedek, kalau nanti besar jadi Bu Dokter kayak tante ya.”
“Nggak mau Mama Aku mau jadi pelayan penumpang di pesawat!”
“Lho itu kan pramugari, enakan jadi Dokter!”
“Nggak mau mama, aku mau jadi pramugari!”
“Udah jadi Pilot aja, lebih enakan ya Dek?”
“Nggak mau Mama. Aku mau jadi Pramugari!”
4. Saat diajak foto kopi, dia menjelaskan kepada kakaknya dengan peragaan. Pertama dia melakukan gerakan memfoto. Kedua, dia melakukan gerakan menyeruput kopi. Sambil berkata,” Blurp….. foto kopi jadinya.”
5. Suatu kali dia datang membawa koin, kemudian meletakkan koinnya menutupi matanya, dan berkata ‘’Mata Duitan!”
6. Saat naik pesawat dia berkata, “Nanti kalau pesawatnya jatuh gimana?”
“Hushhhhhh,… ndak boleh bilang gitu dek!”
7. “Mama nanti kalau pergi, tolongin beliin boneka Barbie 2 ya!. Satu untukku, satu untuk temanku. Dia kemarin bilang sama aku, minta dibeliin. Soalnya nggak dibeliin sama mamanya!”.
Dia tidak tahu bahwa boneka Barbie harganya Rp. 300 ribuan!
Be happy like a baby...
May 9, 2011
Jejaring Sosial
Membaca status teman-teman di jejaring sosial, sungguh menjadi hiburan tersendiri. Ada yang sekedar tulis, share ilmu dengan serius, religious, marah-marah, cenderung menyalahkan Negara sendiri, bahkan sampai narsis ttg diri sendiri, dan kebanggaan lain.
Satu teman, saya perhatikan menulis status dengan segala hal positifnya. Tanpa kesan pamer, kesan hebat, kesan birokrat, kesan bossy. Tanpa pernah mengeluh, mencaci apalagi menyudutkan orang lain. Statusnya diisi dengan isian netral, foto, informasi dan hal-hal positif lain.
Beberapa teman lain, sebaliknya!!!!
Tanpa sadar, kita sering lupa bahwa dengan ikut jejaring sosial, kita sama saja halnya dengan membuka diri sebebas-bebasnya. Bahkan salah seorang tokoh menyebutkan bahwa dunia intelijen tidak pernah mengalami masa keemasan dalam mencari data orang, hingga muncul jejaring sosial. Semua identitas diri, keluarga, foto, CV, hobby, kesenangan, gaya hidup, alamat, bahkan keberadaan real time nya bisa dimonitor oleh orang banyak.
Tanpa sadar kita hanyut dalam kondisi dimana, perlahan-lahan tidak ada lagi kekawatiran akan terbukanya semua informasi tentang diri kita. Bahkan tanpa sadar kelemahan kita atau yang lebih ironis lagi atasan kita, perusahaan kita dan lain-lain info yang tidak seyogyanya dijaman dulu sebelum ada jejaring soisal tidak diperuntukkan untuk umum, saat ini dengan mudah menjadi konsumsi khalayak. Kita tidak lagi keberatan (atau tidak sadar), kalau teman atau bahkan orang lain (jika setting profilenya tidak ketat) akan dengan mudah membuat kesimpulan berdasarkan tampilan status kita; tentang sifat, kesukaan, gaya hidup, dan kondisi psikologis kita. Dan semua itu bisa dilakukan dengan simple. Hanya dengan membuka komputer, dan melihat info, wall, dan profile kita.
Mungkin memang saat ini, kondisi ini tidak bisa lagi dibendung. Namun dengan mencontoh teman saya yang selalu posting hal positif, paling tidak hal tersebut bisa menjadi usaha atau pertahanan terakhir agar kita tidak sampai "telanjang bulat", dan dilihat orang banyak. Minimal, perlu dipertimbangkan agar bekas "cacar air" yg ada di punggung kita tidak sampai ketahuan rekan lain…..
Anyway.. selamat berposting ria...
Anyway.. selamat berposting ria...
Apr 26, 2011
Ketulusan Ala Jalanan
Bagi Bapak - Ibu yang selama ini merasa sudah jagoan dalam melibas jalanan, baik jalur selatan maupun utara pulau Jawa, jangan dulu sombong sebelum bisa melibas jalanan Kalimantan. Ambil simpelnya, nyopiri antara Bontang – Samarinda – Balikpapan atau sebaliknya.
Berbeda dengan jalanan di Jawa, yang cenderung lurus, lengkap dengan rambu, datar, dan ramai….. (ambil contoh) jalanan Bontang - Samarinda pasti akan membuat anda terbelalak. Kondisi jalan naik turun, berkelok-kelok, pandangan tidak akan pernah bebas dalam waktu lama, dengan lebar sempit dan kontur tanah yang sering anjlok.
Sepanjang perjalanan yang rata-rata menempuh waktu 2,5 – 3 jam pada kecepatan 60 – 100 Km/jam, anda tidak akan bisa bermanja-manja dengan pemandangan tepi jalan yang ramai seperti di Jawa. Kecuali anda hanya akan melihat hutan-hutan yang sekarang tinggal belukar. Sesekali, ada warung makan atau tempat isi bensin yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat.
Sisa-sisa kecelakaan tidak akan sulit ditemukan disepanjang sisi jalan. DISINI, selain tentunya Takdir di tangan Allah SWT, nasib anda 50% ditentukan oleh ketrampilan anda dalam berkendara dan sisanya oleh ketrampilan pengendara lain. Karena, tidak jarang beberapa kali kami yang sudah sangat berhati-hati, namun karena pengemudi di lain arah ceroboh, maka nasib anda menjadi taruhan.
Namun demikian di kondisi seperti ini, saya masih sering menemukan orang-orang baik di jalanan, ketulusan ala jalanan. Misalnya; saat mau menyalib, mereka sering dengan gampang memberi jalan. Saat mau menyalib, kadang sopir depan memberi sign kanan, mengingatkan kita bahwa ada kendaraan lain di depan yang akan lewat. Saat anda atau mobil anda bermasalah, tidak segan-segan sopir lain atau pemakai jalan lain membantu.
Sebuah pemandangan yang kadang kalau direnungkan sungguh mengharukan, karena persepsi kita selama ini sering mengatakan bahwa, orang jalanan adalah orang yang “menakutkan”. Ternyata ketulusan bisa didapatkan dimana-mana, termasuk di jalanan yang cenderung mempunyai kondisi “keras”
Berbeda dengan jalanan di Jawa, yang cenderung lurus, lengkap dengan rambu, datar, dan ramai….. (ambil contoh) jalanan Bontang - Samarinda pasti akan membuat anda terbelalak. Kondisi jalan naik turun, berkelok-kelok, pandangan tidak akan pernah bebas dalam waktu lama, dengan lebar sempit dan kontur tanah yang sering anjlok.
Sepanjang perjalanan yang rata-rata menempuh waktu 2,5 – 3 jam pada kecepatan 60 – 100 Km/jam, anda tidak akan bisa bermanja-manja dengan pemandangan tepi jalan yang ramai seperti di Jawa. Kecuali anda hanya akan melihat hutan-hutan yang sekarang tinggal belukar. Sesekali, ada warung makan atau tempat isi bensin yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat.
Sisa-sisa kecelakaan tidak akan sulit ditemukan disepanjang sisi jalan. DISINI, selain tentunya Takdir di tangan Allah SWT, nasib anda 50% ditentukan oleh ketrampilan anda dalam berkendara dan sisanya oleh ketrampilan pengendara lain. Karena, tidak jarang beberapa kali kami yang sudah sangat berhati-hati, namun karena pengemudi di lain arah ceroboh, maka nasib anda menjadi taruhan.
Namun demikian di kondisi seperti ini, saya masih sering menemukan orang-orang baik di jalanan, ketulusan ala jalanan. Misalnya; saat mau menyalib, mereka sering dengan gampang memberi jalan. Saat mau menyalib, kadang sopir depan memberi sign kanan, mengingatkan kita bahwa ada kendaraan lain di depan yang akan lewat. Saat anda atau mobil anda bermasalah, tidak segan-segan sopir lain atau pemakai jalan lain membantu.
Sebuah pemandangan yang kadang kalau direnungkan sungguh mengharukan, karena persepsi kita selama ini sering mengatakan bahwa, orang jalanan adalah orang yang “menakutkan”. Ternyata ketulusan bisa didapatkan dimana-mana, termasuk di jalanan yang cenderung mempunyai kondisi “keras”
Apr 22, 2011
Casio Protrek PRG-500T : Teman Setia dalam Perjalanan
Bagi mereka yg sering traveling, perjalanan akan semakin nyaman dengan adanya teman, baik teman dalam artian sesungguhnya (istri/keluarga,kolega, sahabat, dan lain-lain) maupun teman dalam artian “alat bantu”, yang fungsinya mempermudah perjalanan kita.
Teman dalam artian alat bantu, saat ini ketersediaannya sungguh menakjubkan. Yang paling klasik adalah alat penunjuk peta semacam GPS dan alat komunikasi lain, baik untuk bertelepon maupun untuk data.
Yang mungkin agak aneh, jika saya katakan bahwa jam adalah salah satu alat bantu yang bermanfaat sebagai teman perjalanan!!!!!
Lha!!!,
Selain sebagai alat bantu waktu, jam modern telah dilengkapi dengan berbagai fitur lain. Mulai dari fitur tanggal, hari, bulan, siang-malam, flask disk, bluetooth, sampai dengan jam yang dilengkapi dengan camera dan perekam.
Setelah menjajal koleksi arloji, baik dari Eropa maupun Jepang, baru-baru ini, saya berkesempatan menjajal koleksi baru, sebuah jam Casio ProTrek PRG-500T, meski pada awalnya sebenarnya saya kurang terlalu suka dengan model digital.
ProTrek-500T, adalah salah satu produk jajaran atas dari Casio, yang mempunyai fungsi analog dan digital. Lebih khusus, diperuntukkan untuk mereka yang sering traveling, karena fitur-fiturnya yang sangat mendukung mereka yang bepergian.
Kita mulai dari huruf T yang merupakan kependekan dari Titanium. Pertama mengeluarkan jam dari kotaknya, ada keterkejutan yang sangat saat merasakan betapa entengnya jam tangan ini. Dibanding Wenger saya yang diameternya lebih kecil, terasa ProTrek seakan sebuah mainan, saking entengnya. Tentunya karena dia terbuat dari Titanium, yang selain ringan juga sangat kuat.
PRG-500T juga dilengkapi dengan tiga sensor yang tipikal diperlukan oleh mereka yang bepergian, khususnya trekking atau hiking atau petugas lapangan lainnya. Yaitu altimeter (mengukur ketinggian), barometer (mengukur tekanan udara sekaligus bisa meramalkan cuaca berdasarkan trend barometer nya) dan thermometer (mengukur suhu) serta yang tidak kalah seksinya Compass, jika-jika anda tak tahu arah kemana melangkah.
Agar tidak terlalu tergantung pada baterai, arloji yang diameternya tidak cocok untuk mereka yg bertangan kecil ini, didayai dengan though solar (sinar matahari atau sinar-sinar lainnya). Sehingga semakin lengkaplah tugasnya sebagai jamnya orang yang suka bepergian, karena pemakainya tak perlu pusing dengan penggantian baterai yg normalnya habis sekitar 2 tahunan.
Untuk mereka yang sering bepergian jauh khususnya keluar negeri, jam ini dilengkapi dengan 29 world time plus pengoperasian yang mudah...... Dan masih banyak lagi fitur-fitur menarik lainnya..
Untuk anda yang bekerja diair, sering renang, diving, surfing atau sekedar cuci tangan, kehujanan dan berwudlu, tidak usah terlalu repot lagi harus mencopot jam ini.
Atau untuk kita yang mau menikmati musim dingin dibelahan bumi utara atau selatan, Protrek kelihatannya mampu bertahan di suhu ekstrim.
Jadi kesimpulannya, jam ini, memang cukup pas digunakan untuk anda yang suka traveling, paling tidak dia bisa membantu mengetahui arah, posisi dan tujuan kita…… Dan bukankah 3 hal tersebut adalah poin2 penting saat kita menempuh suatu perjalanan?...
Teman dalam artian alat bantu, saat ini ketersediaannya sungguh menakjubkan. Yang paling klasik adalah alat penunjuk peta semacam GPS dan alat komunikasi lain, baik untuk bertelepon maupun untuk data.
Yang mungkin agak aneh, jika saya katakan bahwa jam adalah salah satu alat bantu yang bermanfaat sebagai teman perjalanan!!!!!
Lha!!!,
Selain sebagai alat bantu waktu, jam modern telah dilengkapi dengan berbagai fitur lain. Mulai dari fitur tanggal, hari, bulan, siang-malam, flask disk, bluetooth, sampai dengan jam yang dilengkapi dengan camera dan perekam.
Setelah menjajal koleksi arloji, baik dari Eropa maupun Jepang, baru-baru ini, saya berkesempatan menjajal koleksi baru, sebuah jam Casio ProTrek PRG-500T, meski pada awalnya sebenarnya saya kurang terlalu suka dengan model digital.ProTrek-500T, adalah salah satu produk jajaran atas dari Casio, yang mempunyai fungsi analog dan digital. Lebih khusus, diperuntukkan untuk mereka yang sering traveling, karena fitur-fiturnya yang sangat mendukung mereka yang bepergian.
Kita mulai dari huruf T yang merupakan kependekan dari Titanium. Pertama mengeluarkan jam dari kotaknya, ada keterkejutan yang sangat saat merasakan betapa entengnya jam tangan ini. Dibanding Wenger saya yang diameternya lebih kecil, terasa ProTrek seakan sebuah mainan, saking entengnya. Tentunya karena dia terbuat dari Titanium, yang selain ringan juga sangat kuat.
PRG-500T juga dilengkapi dengan tiga sensor yang tipikal diperlukan oleh mereka yang bepergian, khususnya trekking atau hiking atau petugas lapangan lainnya. Yaitu altimeter (mengukur ketinggian), barometer (mengukur tekanan udara sekaligus bisa meramalkan cuaca berdasarkan trend barometer nya) dan thermometer (mengukur suhu) serta yang tidak kalah seksinya Compass, jika-jika anda tak tahu arah kemana melangkah.
Agar tidak terlalu tergantung pada baterai, arloji yang diameternya tidak cocok untuk mereka yg bertangan kecil ini, didayai dengan though solar (sinar matahari atau sinar-sinar lainnya). Sehingga semakin lengkaplah tugasnya sebagai jamnya orang yang suka bepergian, karena pemakainya tak perlu pusing dengan penggantian baterai yg normalnya habis sekitar 2 tahunan.
Untuk mereka yang sering bepergian jauh khususnya keluar negeri, jam ini dilengkapi dengan 29 world time plus pengoperasian yang mudah...... Dan masih banyak lagi fitur-fitur menarik lainnya..Untuk anda yang bekerja diair, sering renang, diving, surfing atau sekedar cuci tangan, kehujanan dan berwudlu, tidak usah terlalu repot lagi harus mencopot jam ini.
Atau untuk kita yang mau menikmati musim dingin dibelahan bumi utara atau selatan, Protrek kelihatannya mampu bertahan di suhu ekstrim.
Jadi kesimpulannya, jam ini, memang cukup pas digunakan untuk anda yang suka traveling, paling tidak dia bisa membantu mengetahui arah, posisi dan tujuan kita…… Dan bukankah 3 hal tersebut adalah poin2 penting saat kita menempuh suatu perjalanan?...
Apr 2, 2011
Be the Best of Whatever You Are
By Douglas Malloch
If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.
If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!
We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.
If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!
If you can’t be a pine on the top of the hill,
Be a scrub in the valley — but be
The best little scrub by the side of the rill;
Be a bush if you can’t be a tree.
If you can’t be a bush be a bit of the grass,
And some highway happier make;
If you can’t be a muskie then just be a bass —
But the liveliest bass in the lake!
We can’t all be captains, we’ve got to be crew,
There’s something for all of us here,
There’s big work to do, and there’s lesser to do,
And the task you must do is the near.
If you can’t be a highway then just be a trail,
If you can’t be the sun be a star;
It isn’t by size that you win or you fail —
Be the best of whatever you are!
Feb 12, 2011
Catatan ke Padang; Segelas Kopi di atas Danau Maninjau
Menelusuri beberapa wilayah Sumatera Barat, mulai dari Padang, Padang Panjang, Padang Pariaman, Bukit Tinggi, Lubuk Basung, Maninjau dan lain-lain, memberi satu catatan khas tentang pentingnya kopi bagi orang Minangkabau.
Khususnya di daerah yang agak pelosok, terlihat kedai kopi menghiasi bagian depan rumah. Kebanyakan sebagai usaha, namun beberapa menyediakan kedai untuk “bersosialisasi” . Menginap semalam di rumah teman di Lubuk Basung, selalu mengingatkan saya tentang kuatnya peran dan pentingnya kedai kopi dimasyarakat Minang.
Perjalanan melewati 44 kelok yang mengerikan di Maninjau pun tak luput dari kedai-kedai kopi yang memenuhi setiap kelokan. Disana disediakan kopi telur itik, teh telor, jus pinang muda, dan minuman eksotik lainnya.

Arah Padang ke Bukittinggi, selain kedai kopi, dihiasi banyak warung yang menyiapkan duren (saat musimnya) + ketupat santennya.

Tak lupa restoran sate Pak Syukur yang terkenal juga menyediakan teh dan kopi telor..


Disana, di warung-warung itu, khususnya di kedai kopi, diobrolkan banyak hal, termasuk pengalaman merantau, pengalaman hidup, atau sekedar menghabiskan pagi dengan camilan ketan yang dilengkapi dengan segelas kopi.
Khususnya di daerah yang agak pelosok, terlihat kedai kopi menghiasi bagian depan rumah. Kebanyakan sebagai usaha, namun beberapa menyediakan kedai untuk “bersosialisasi” . Menginap semalam di rumah teman di Lubuk Basung, selalu mengingatkan saya tentang kuatnya peran dan pentingnya kedai kopi dimasyarakat Minang.
Perjalanan melewati 44 kelok yang mengerikan di Maninjau pun tak luput dari kedai-kedai kopi yang memenuhi setiap kelokan. Disana disediakan kopi telur itik, teh telor, jus pinang muda, dan minuman eksotik lainnya.

Arah Padang ke Bukittinggi, selain kedai kopi, dihiasi banyak warung yang menyiapkan duren (saat musimnya) + ketupat santennya.

Tak lupa restoran sate Pak Syukur yang terkenal juga menyediakan teh dan kopi telor..


Disana, di warung-warung itu, khususnya di kedai kopi, diobrolkan banyak hal, termasuk pengalaman merantau, pengalaman hidup, atau sekedar menghabiskan pagi dengan camilan ketan yang dilengkapi dengan segelas kopi.
Jan 14, 2011
Hidup adalah Belajar
Hidup adalah belajar,
belajar diam dari banyaknya bicara,
belajar sabar dari sebuah kemarahan,
belajar mengalah dari suatu keegoisan,
belajar menangis dalam kebahagiaan,
belajar tegar dari kehilangan,
belajar bersyukur meski tak cukup,
belajar ikhlas meski tak rela,
belajar taat meski berat,
belajar memahami meski tak sehati,
belajar mengalah meski terjajah,
belajar bijak meski tak adil,
belajar tertawa meski terluka,
belajar sabar meski terbebani,
belajar setia meski tergoda,
belajar memberi dan berbagi meski tak cukup,
belajar mengasihi meski disakiti,
belajar tenang meski gelisah,
belajar percaya meski khawatir,
belajar dan terus belajar.....
bersyukur atas apa yg telah dilewati, menerima dengan ikhlas atas apa yang dimiliki,
siap menghadapi apapun dg ketaqwaan..
(kiriman dari seorang teman)
Nov 15, 2010
Pengorbanan yang Sesungguhnya
Setelah sekian puluh tahun menikah dengan Sarah, Nabi Ibrahim tetap belum dikarunia seorang putra. Hingga akhirnya sang Istri mengijinkan sang suami tercinta untuk menikahi sahayanya yang berasal dari benua hitam.
Atas Rahmat Nya, dari rahim Siti Hajar, Ibrahim mendapatkan kebahagiaan dengan lahirnya seorang putra, yang kelak dikenal dengan nama Ismail. Bisakah anda membayangkan rasa sayang Ibrahim kepada putra yang telah dinanti-nanti sejak sekian lama? Kelihatannya akan susah untuk dilukiskan, kebahagiaan Nabi Ibrahim atas karunia ini.
Sayang dan bahagia semakin mendalam manakala sang putra adalah anak yang sholeh, yang kelak bergelar Nabi, yang merupakan nenek moyang bangsa Arab saat ini.
Namun, kebahagiaan ini harus mulai ditebus oleh Nabi Ibrahim, dengan permintaan Siti Sarah agar menjauhkan sang putra dan Ibunya darinya. Saya takut untuk mengatakan bahwa kebahagiaan Ibrahim berbuah kepedihan seorang wanita, yang tidak bisa memberikan seorang putra terkasih kepada sang suami tercinta.
Dengan ketabahan seorang Nabi, dipindahkanlah keluarganya ke sebuah padang tandus, yang sekarang dikenal dengan nama Mekah.
Waktu berjalan, hingga pada suatu saat datanglah Ibrahim menyambangi Ismail dan Ibunya. Bukan kabar gembira kalau memakai ukuran kita, karena kedatangannya adalah untuk mengabarkan sebuah mimpi.
Mimpi untuk menyembelih sang putra terkasih!
Jika anda berada diposisi Ibrahim, sanggupkah anda mengabarkan mimpi itu? Kelihatannya berat!
Tidak demikian dengan Ibrahim, karena dia sadar bahwa mimpi seorang Nabi adalah wahyu.
Saking sayangnya kepada putranya, tidak langsung dia sembelih putranya seperti Perintah. Namun masih dengan kehalusan hati, ditanyakannya perihal Perintah itu kepada Ismail. Dan saat ditanyakannya mimpi tersebut kepada putra nya, sang terkasih hanya menjawab, “ Jika memang hal itu perintah Allah, maka lakukanlah. Insya Allah saya termasuk golongan orang yang sabar”. Betapa semakin hancur hati seorang Bapak dengan ketulusan sang putra.
Membaca hal diatas, lantas saya sekarang ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada pembaca sekalian. “Siapakah diantara 2 orang ini, Ayah dan Anak, yang berkorban paling besar?” Apakah Ibrahim atau Ismail sang putra terkasih?
Mampukah anda sebagai ayah yang sangat berbahagia atas hadirnya sang putra setelah menunggunya sekian lama, melakukan penyembelihan kepada anaknya.
Atau jika anda di posisi Ismail, mampukah anda menjawab seperti itu. Saya takut kita akan menjawab dalam hati “Kenapa tidak Bapak saja yang disembelih, kan Bapak sudah tua!”
Sebuah pengorbanan yang tiada tara! Sebuah pengorbanan yang sesungguhnya!
Flash back ini selalu membuat saya rendah diri saat berkorban 1 ekor kambing atau 1/7 sapi. Karena belum ada apa-apanya dibanding pengorbanan sang Ayah Ibrahim dan pengorbanan sang Putra Ismail.
(disadur dari cerita P. NU saat santap siang di Kyoto)
Atas Rahmat Nya, dari rahim Siti Hajar, Ibrahim mendapatkan kebahagiaan dengan lahirnya seorang putra, yang kelak dikenal dengan nama Ismail. Bisakah anda membayangkan rasa sayang Ibrahim kepada putra yang telah dinanti-nanti sejak sekian lama? Kelihatannya akan susah untuk dilukiskan, kebahagiaan Nabi Ibrahim atas karunia ini.
Sayang dan bahagia semakin mendalam manakala sang putra adalah anak yang sholeh, yang kelak bergelar Nabi, yang merupakan nenek moyang bangsa Arab saat ini.
Namun, kebahagiaan ini harus mulai ditebus oleh Nabi Ibrahim, dengan permintaan Siti Sarah agar menjauhkan sang putra dan Ibunya darinya. Saya takut untuk mengatakan bahwa kebahagiaan Ibrahim berbuah kepedihan seorang wanita, yang tidak bisa memberikan seorang putra terkasih kepada sang suami tercinta.
Dengan ketabahan seorang Nabi, dipindahkanlah keluarganya ke sebuah padang tandus, yang sekarang dikenal dengan nama Mekah.
Waktu berjalan, hingga pada suatu saat datanglah Ibrahim menyambangi Ismail dan Ibunya. Bukan kabar gembira kalau memakai ukuran kita, karena kedatangannya adalah untuk mengabarkan sebuah mimpi.
Mimpi untuk menyembelih sang putra terkasih!
Jika anda berada diposisi Ibrahim, sanggupkah anda mengabarkan mimpi itu? Kelihatannya berat!
Tidak demikian dengan Ibrahim, karena dia sadar bahwa mimpi seorang Nabi adalah wahyu.
Saking sayangnya kepada putranya, tidak langsung dia sembelih putranya seperti Perintah. Namun masih dengan kehalusan hati, ditanyakannya perihal Perintah itu kepada Ismail. Dan saat ditanyakannya mimpi tersebut kepada putra nya, sang terkasih hanya menjawab, “ Jika memang hal itu perintah Allah, maka lakukanlah. Insya Allah saya termasuk golongan orang yang sabar”. Betapa semakin hancur hati seorang Bapak dengan ketulusan sang putra.
Membaca hal diatas, lantas saya sekarang ingin mengajukan sebuah pertanyaan kepada pembaca sekalian. “Siapakah diantara 2 orang ini, Ayah dan Anak, yang berkorban paling besar?” Apakah Ibrahim atau Ismail sang putra terkasih?
Mampukah anda sebagai ayah yang sangat berbahagia atas hadirnya sang putra setelah menunggunya sekian lama, melakukan penyembelihan kepada anaknya.
Atau jika anda di posisi Ismail, mampukah anda menjawab seperti itu. Saya takut kita akan menjawab dalam hati “Kenapa tidak Bapak saja yang disembelih, kan Bapak sudah tua!”
Sebuah pengorbanan yang tiada tara! Sebuah pengorbanan yang sesungguhnya!
Flash back ini selalu membuat saya rendah diri saat berkorban 1 ekor kambing atau 1/7 sapi. Karena belum ada apa-apanya dibanding pengorbanan sang Ayah Ibrahim dan pengorbanan sang Putra Ismail.
(disadur dari cerita P. NU saat santap siang di Kyoto)
Nov 13, 2010
Antara Tokyo, Nagoya, Osaka dan Kyoto / 東京、名古屋、大阪、京都の間
Tokyo, Nagoya, Osaka, Kyoto no ma.
東京、名古屋、大阪、京都の間
3 Nopember,
Memulai perjalanan panjang, kami sudah dihadang oleh ketidaklancaran pesawat yang terpaksa ditunda 1 jam, menjadi jam 12.50 pagi, karena connecting flight dari Hongkong yang tertunda.
Kesabaran kami akhirnya berbuah lega saat sekitar jam 1 pagi, kami berangkat. Tentunya setelah menyelesaikan semua formalitas, mulai dari check in, pembayaran fiskal, yang untungnya karena membawa kartu NPWP akhirnya dibebaskan. Masuk pemeriksaan imigrasi, visa dan lain-lain, dan akhirnya lolos.
Kecapekan karena telah tinggal di Jakarta selama tiga hari untuk presentasi yang menegangkan, dan karena tidak mungkin untuk melihat pemandangan di gulitanya malam, saya; seperti biasa langsung tertidur pulas, di kursi 11 C. Rekan kerja di kursi 11 A, terlihat tidak bisa menikmati perjalanan, entah karena kurang fit atau tangisan si bayi di depan kami, atau karena memikirkan presentasi di Chita Terminal.

Saat bangun, semburat merah sang surya terlihat dari jendela, mengingatkan bahwa saya belum sholat subuh. Pagi terasa cepat menjadi siang, membuat bertanya-tanya.. Kok aneh???
Ternyata terjawab saat pramugari mengumumkan bahwa waktu Tokyo lebih cepat 2 jam dari Jakarta.
Teringat sebuah buku tentang time travelling, bahwa ternyata perjalanan ini melampaui kecepatan waktu sebesar 2 jam. Hmmm… umurku berkurang 2 jam!!!
4 Nopember,
Perjalanan kurang lebih 7 jam tersebut berakhir sekitar jam 9.45 waktu Narita. Sekilas kupandangi bandara internasional tersebut dari ketinggian Airbus Garuda yang mulai menurun, tampak tak beda dengan pemandangan bandara-bandara lain di Indonesia.
Touch down!
Keluar dari terminal kedatangan Narita, langsung naik train menuju main building. Sebelum mengambil bagasi, kami harus lolos dari petugas Imigrasi. Setelah antri beberapa saat, tiba giliran saya menghadap si petugas yang kurang fasih berbahasa Inggris, dengan beberapa pertanyaan ringan, cap jari dan clearance. Sambil memesan karcis Narita express yang berharga 2,740 yen, kami sempatkan menukar uang ke money changer yang berada di sekitar pengambilan bagasi.
Waktu yang sangat mepet dengan jadwal kereta membuat kami ketar-ketir. Naik di car 9, kereta datang tepat waktu dan tepat berhenti sesuai nomor car, tidak meleset sedikitpun dan segera berjalan mengantarkan kami ke stasiun Tokyo. Bersihnya kereta dan sepinya penumpang mengingatkan saya dengan suasana kontradiktif saat beberapa tahun lalu, sewaktu masih menjadi mahasiswa, naik kereta dari stasiun Malang ke Pasar Senin, yang berjubel, dengan lorong-lorong yang terisi penumpang. Bagaimana ya sekarang keadaannya? Apa masih seperti itu? Mudah-mudahan sudah berbenah...:(
Satu jam, kami sampai di stasiun Tokyo, dan langsung pindah kendaraan untuk acara yang telah disiapkan. Business Lunch!!!. Selesai dari sana, kami masih ditunggu untuk courtesy call lain. Dan karena dibatasi jadwal kereta peluru atau yang dikenal dengan Shinkasen ke Nagoya, maka kami pun harus bergegas.
Di Jepang terkesan semua serba cepat dan terburu-buru. Disepanjang jalan dan ketika sampai di stasiun, ritme hidup yang serba tergesa-gesa terlihat dari cara berjalannya orang-orang Jepang yang sedikit berlari seperti olah raga jalan cepat. Waktu yang mepet, sekali lagi sebenarnya menakutkan saya, dan menimbulkan pertanyaan kenapa ya mereka kok tidak terlalu khawatir dengan connecting schedule yang serba mepet?.
Perlahan jawabannya terkuak, saat melihat kedatangan kereta Shinkasen yang sangat tepat waktu bahkan by minutes. Bahkan car nya (gerbong) berhenti tepat di depan nomor car yang yang tertulis di lantai pinggir jalur kereta, tanpa meleset sedikitpun. Mereka confident dengan ketatnya jadwal karena semua on time!!!!!

Naik Shinkasen pertama kalinya memberi sensasi yang mengagumkan. Smooth, kencang, spasi yang business/executive-like, pelayanan yang ramah dan yang tidak kalah pentingnya toilet yang bersih sekali….:)
Tiba di Nagoya, kami langsung menuju Hotel Tokyu Nagoya. Tidak seperti hotel-hotel di Indonesia dengan kelas yang sama yang mempunyai luas ruangan berlebih, ruang hotel ini meski terkesan modern, namun agak sumpek, khususnya untuk saya yang orang Indonesia. Cerminan rumah orang jepang yang minimalis dari segi luasnya.

Malam menjelang, dan kami sempatkan berjalan-jalan disekeliling hotel, untuk makan malam. Dengan menu khusus, sabu-sabu yang tentunya original Jepang.
Sama seperti yang saya alami saat makan sabu-sabu di Jakarta, kali ini pun demi menghormati tuan rumah, saya harus menghabiskan sabu-sabu, yang katanya mahal tersebut diringi dengan 1 teko penuh teh Jepang untuk menetralisir mual-mual. Terlihat ekspresi aneh pelayan restoran saat melihat beberapa daging segar dipiring saya masih tersisa.
“Dasar Ndeso!”, mungkin itu pikirnya…
Saat yang saya tunggu pun datang, ketika daging-daging merah tersebut akhirnya dicelupkan ke air panas sehingga matang… HMMMMM Alhamdulillah. Ditambah dengan keluarnya sayur, nasi, yang berbeda dengan nasi Indonesia, dimana nasi jepang sangat punel (sticky) dan gurih sehingga di gado pun akan terasa nikmat.
Sekitar jam 9 waktu setempat kami pulang dengan perut kenyang.
Suhu terasa seperti saat di ruangan ber AC. Mungkin sudah 15 derajat Celcius. Ya memang sebelum berangkat saya sempat diingatkan bahwa musim dingin sudah mulai menjelang, sehingga suhu kemungkinan akan drop.
Bagi saya yang tidak sering merasakan suhu sedingin ini, rasanya selalu mendapat sensasi yang luar biasa manakala terterpa angin sepoi-sepoi yang terasa sampai ke tulang. Susahnya mengungkapkan rasa dingin yang dingin ini, tiba-tiba menjadikan saya agak puitis, "Seandainya rasa ini bisa dituliskan dengan kata-kata, sungguh bahagia sekali bisa menikmatinya lain waktu dari membacanya"!!! Hmmmmm...
Di sepanjang jalan, berjejer tidak terlalu jauh satu sama lain, vending machine, yang menjual mulai dari minuman sampai camilan. Mencoba memasukkan 10 yen untuk sebotol fresh water, membuat saya semakin merenungi bahwa hidup disini terasa dikelilingi robot. Semua serba dibantu mesin.

Setiba di hotel, sholat jamak Maghrib dan Isya. Dan tanpa menunggu lama, kesadaran seakan sudah tak tertahan…
Nyenyak sekali setelah sehari sebelumnya tidur duduk di kelas Ekonomi Garuda, airliner kebanggaan Indonesia, dan langsung seharian dihadang aktifitas resmi.
5 Nopember,
Pagi jam 9.45 kami sudah dijemput semacam mobil alphard, yang disebut 'bus' oleh pendamping kami dari Jepang. Beda dengan mobil Indonesia yang semakin dingin semakin nyaman, saat masuk ke mobil jemputan ini, badan terasa gerah karena adanya heater. Ah dasar orang Indonesia…..
Sesampai di ruang meeting, para peserta sudah lengkap. Ups.. untuk reminder, jangan lupa membawa kartu nama untuk kegiatan seperti ini, karena sangat penting untuk sosialisasi.
Meeting dimulai, dan presentasi serba diisi dengan bahasa Jepang. Untuk menghormati tuan rumah (lagi), dan sekaligus belajar bahasa Jepang, saya berusaha keras memelototkan mata, agar tidak tergoda untuk ngantuk.
Satu keunikan lain adalah dari sekian puluh presentasi, hampir tidak ada satupun peserta yang bertanya. Apakah memang budaya atau karena sungkan karena ada kami ya…? Diakhir acara, setelah welcome speech dari leader delegasi Indonesia, acara ditutup dengan souvenir presentation.
Acara belum langsung berakhir, karena kami masuk ke dalam kompleks LNG Receiving Terminal Chita untuk plant tour. Hampir sama dengan yang ada di Bontang, meski disini fungsinya lebih pada terminal penerima.
Hampir sama… kecuali dinner party nya, yang dilakukan disebuah restoran masakan Jepang terkenal, meski disana sulit membedakan mana restoran dan rumah kecuali dilengkapi dengan tiga buah kain dengan tulisan Jepangnya.
Lagi-lagi demi kesopanan, saya usahakan menikmati menu ikan dan daging mentah…dan orange juice beserta cokenya, ditengah toast sake dan bir yang oleh adat setempat adalah sebuah hal yang biasa. Sempat terdengar sebuah pertanyaan, “ You never drink alcoholic drink?” dengan mimik heran.
Sempat saya putar 1 piring berisi daging segar ke arah rekan yang kebetulan bisa menikmati masakan Jepang.
Nasib saya tertolong saat tempura muncul, jamur muncul, sup muncul, nasi muncul dan ice cream muncul.
Sesampai jam 9 waktu setempat kami selesaikan acara, karena esok harinya dilanjutkan dengan golf tournament bagi pegolf dan city tour/social gathering bagi non-golfer.
Sesampai di hotel, sekali lagi saya tidak bisa menahan kantuk yang susah terkontrol. Jatuh tertidur….
6 Nopember (hari ke 2 di Nagoya),
Setelah mengantar para pemain golf berangkat sekitar jam 6.20, saya, seperti sehari sebelumnya pergi untuk makan pagi di restoran bawah, karena ternyata restoran atas yang mau kami coba, full booked. Menunya variatif dan yang paling penting ada nasi punel kesukaan saya. Ditambah chicken wings yang dibumbui wijen, membuat saya lupa bahwa kolesterol telah mulai meninggi. Menu lainnya, tipikal western dan Japanesse food.
Sambil menunggu city tour jam 10 local time, saya masih sempatkan packing karena kami harus check out langsung untuk nanti sore melanjutkan perjalanan ke Osaka.
Setelah puas berkeliling dan berfoto dan melihat performance semacam sandiwara di kompleks castle, kami lanjutkan ke Nagoya TV Tower yang tingginya sekitar 100 meter. Kami coba naik ke puncak dengan lift.
Contoh baiknya tentang pengelolaan tempat wisata di sini, bahwa setiap tempat wisata dikelola dengan baik dan dikomersiilkan. Tak heran semua lokasi wisata terawat dengan baik.
Sebelum meninggalkan lokasi, kami sempatkan makan siang. Kali ini menunya friendly dengan lidah kami. Unagi (belut). Hmmm luar biasa…
Waktu yang semakin mepet dengan jadwal shinkasen kami jam 16.02 ke Osaka, tidak menghalangi langkah untuk melanjutkan mengeksplorasi Nagoya, dengan mengunjungi Toyota Automotive Museum. Yang mengagumkan, bahasa Indonesia digunakan juga dalam brosur selain bahasa Jepang. Setelah saya tanya kenapa, rekan kami menjawab, “Karena Indonesia salah satu big customer Toyota”.

Disana tidak hanya ditemui contoh mobil Toyota yang pertama, namun juga mobil eropa yang dipajang dengan rapi.
Sebelum mengakhiri aktifitas city tour karena sudah ditelpon bahwa tim golf telah selesai, kami masih menyempatkan diri berkunjung ke Old City of Nagoya, tempat second hand market, termasuk souvenir.
Didalamnya termasuk kuil yang indah dan serba merah yang mengingatkan saya akan Masjid Cheng Ho di Surabaya.

Sekali lagi, kami akhirnya berangkat menuju stasiun Shinkasen untuk melanjutkan perjalanan. Datang lebih awal, kami tunggu tim Golfer di sebuah Coffee Café diseberang stasiun Nagoya. Tak lama beliau-beliau datang, dan kami ditransfer ke rekan lain yang bertugas di Osaka.
Good by Nagoya. Will always miss you.
Seperti sebelumnya, Shinkasen datang tepat waktu, pas di jam 16.02, di depan pintu masuk nomor 8, tidak meleset sedikitpun! Sesuai dengan karcisnya.
Kami lanjutkan ke Osaka, sekitar 1 jam. Saking nyamannya, lagi-lagi saya tertidur dengan nyenyak. Turun di stasiun, kami ambil dua taksi ke hotel. Yang menarik dari taksi di Jepang adalah:
1. Argonya yang sangat mahal.
2. Mobilnya yang agak high class dan antik semacam Cressida dan Prius.
3. Drivernya yang selalu pakai suit lengkap (jas, dasi dan sarung tangan). Plus tissue basah seperti disebuah airline.
Sesampai dihotel, kami hanya diberi waktu untuk menyimpan luggage, karena sudah ditunggu makan malam di sebuah restoran semacam hoka-hoka bento jam 6.
Sebelum pergi saya sempatkan ke receptionist untuk pinjam plug versi Indonesia untuk charge HP dan kamera. Karena di Jepang, rata-rata plug yang digunakan adalah yang pipih, berbeda dengan plug bundar yang umum kita gunakan.

Makan malam ini, meski hampir sama menunya, yaitu ikan dan daging mentah, namun lebih lumayan karena disiapin pemanggang. Beberapa porsi daging lidah saya lahap, tentunya setelah saya masukkan ke pemanggang. Kali ini nasi sesegera mungkin dikeluarkan, mungkin karena rekan Jepang kami beberapa kali melihat saya dan teman yang tersiksa dengan makanan yang serba mentah dan tanpa nasi.
Selesai makan malam, sebelum ke hotel kami sempatkan ke downtown of Osaka; Shinsai Bashi. Sebuah tempat yang ramai padat yang menjajakan segala macam komoditi, mulai makanan, cindera mata, sampai teman karaoke.
Tak lama, kami beranjak ke Hotel Rihga Osaka. Tidur, dan……
7 Nopember,
Jam 8.15, kami naik Shinkasen regular non reserved menuju Kyoto. Berbeda dengan yang reserved, kereta ini lebih padat penumpang, sehingga bagasi saya yang besar terpaksa membuat repot pendamping kami, karena tidak bisa dibawa masuk. Untungnya hanya sekitar 15 menit, kami sampai di Kyoto, ibukota Jepang sebelum Tokyo (Kyoto kalau dibolak-balik = Tokyo). Acara hari Minggu ini memang dikhususkan untuk city tour sebelum kami menyelesaikan acara resmi.
Tempat pertama kunjungan kami adalah Golden Temple, sebuah tempat peristirahatan Kaisar Jepang tempo dulu. Disebut Golden temple karena temple tersebut berwarna kuning emas (atau mungkin memang dilapisi emas).
Di golden temple, kami membuktikan bahwa dunia ini memang tidak terlalu besar. Serombongan dosen Indonesia yang sedang mengikuti acara, kami temui ditempat yang sama dengan aktifitas yang sama pula. Foto-Foto!

Setelah beberapa jam berkeliling, kami lanjutkan menuju sebuah Shrine yang serba merah, yang banyak dipenuhi anak kecil berkimono. Disini nasib sial dibuang melalui kertas dan nasib baik dipajang melalui kayu. Saya sempatkan berpikir, kira-kira jika dimintai sebuah wish, apa ya….. yang akan saya minta? Sayangnya saya sudah tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau takhyul...

Acara diakhiri di Sanmon, sebuah kuil kayu jaman dulu dengan arsitektur yang menakjubkan, dengan tangga yang hampir 45 derajat.


Setelah itu, akhirnya kami dilepas di stasiun Kyoto untuk a night-stay di Tokyo. Dengan Shinkasen selama sekitar 2 jam, kami susuri perjalanan yang mengasyikkan dengan pemandangan sepanjang rel yang hampir sama dengan di Indonesia.

Sesampai dihotel Villa Fontaine, lagi-lagi kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan langsung keluar, ke kota untuk makan malam sekaligus sight-seeing.
Keunikan lain dengan orang jepang adalah lamanya waktu makan. Siang sebelumnya saat di Kyoto, kami menghabiskan waktu hampir 2 jam, hanya untuk menghabiskan makan siang yang dikeluarkan sepiring demi sepiring, sambil bincang bisnis dan sosialisasi.
Waktu yang semakin sempit dan dibatasi jadual kereta tidak memprovokasi pendamping kami untuk tergesa-gesa menghabiskan makanan. Menurutnya, makan memang harus santai, rileks dan bisa digunakan untuk mempererat hubungan.
Demikian juga untuk business dinner malam ini. Sepiring-demi sepiring yang dikeluarkan memang efisien membuat kami duduk tak bergerak hingga sekitar jam 9.30 malam, saat hampir sebagian besar toko sudah mulai bertutupan. Hingga akhirnya saat keluar restoran tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali ke hotel dan tidur.
Sebelum tidur, saya sempatkan untuk menset acara meeting besok pagi, agar tidak terkendala. Setelah agenda terset dengan pasti, saya paksa mata untuk stand by guna menemani packing karena besok pagi jam 7 kami harus sudah siap untuk acara meeting lagi, sebelum kembali pulang ke Indonesia dengan penerbangan jam 12 Garuda.
8 Nopember,
Jam 06.30 kami sudah siap check out sambil menunggu dijemput untuk meeting sekaligus makan pagi. Sebutan kerennya 'breakfast meeting'. Sebelum berangkat saya coba ingatkan kepada rekan kami dari Jepang, bahwa jam 9 paling lambat kami harus berangkat ke Bandara Narita. Karena melihat gelagat lamanya waktu makan kami sebelumnya, kuatirnya bisa-bisa 2 jam atau lebih hanya untuk makan!
Ternyata, setelah melewati 1,5 jam makan pagi yang padat diisi dengan agenda meeting, akhirnya kami dikembalikan ke hotel. Agar cepat dan mencari suasana baru dibanding saat kami berangkat ke Tokyo yang memakai Narita Express, kami putuskan naik taksi dari Tokyo ke Narita.

Dan seperti yang saya katakan di cerita awal, bahwa tarif taksi Jepang memang terbukti mahal.
Perjalanan 1 jam yang kami tempuh, hampir setara dengan perjalanan taksi saya dari pusat kota Jakarta jln. M.H. Thamrin ke Bandara Soekarno- Hatta.
Bedanya, kalau ke Bandara Soekarno-Hatta, rata-rata tarifnya sekitar 100-150 ribu rupiah, namun perjalanan kami dari Tokyo ke bandara Narita memakan tarif sebesar 25,000 yen (setara 2 juta setengah rupiah).
Sesampai di Narita, dan setelah menyelesaikan urusan imigrasi, kami sempatkan ke Akirabara, sebuah duty free shop, untuk sekedar oleh-oleh. Setelah puas, kami tukarkan sisa-sisa Yen ke money changer yang tersedia sangat banyak di Narita.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 saat kami sadar bahwa kami masih ada diluar waiting room, yang harus ditempuh dengan naik train. Berlarian, takut ketinggalan pesawat, kami dag-dig-dug, menunggu transport, yang akhirnya muncul….
Hmmmm, kelihatannya kami sudah menyerupai penduduk Jepang. Jalan kecil-kecil setengah berlari dan dengan waktu yang serba mepet…!.
Terima kasih. Khususnya kepada rekan-rekan kami di Jepang yang telah mendampingi selama perjalanan kali ini. Arigatogozaimasu. Tokuni konkai no ryoko no ma ni doko sa rete iru Nippon de no doryo ni.
Sayonara Nippon. Mata jikai o shanso shite kudasai.
東京、名古屋、大阪、京都の間
3 Nopember,
Memulai perjalanan panjang, kami sudah dihadang oleh ketidaklancaran pesawat yang terpaksa ditunda 1 jam, menjadi jam 12.50 pagi, karena connecting flight dari Hongkong yang tertunda.
Kesabaran kami akhirnya berbuah lega saat sekitar jam 1 pagi, kami berangkat. Tentunya setelah menyelesaikan semua formalitas, mulai dari check in, pembayaran fiskal, yang untungnya karena membawa kartu NPWP akhirnya dibebaskan. Masuk pemeriksaan imigrasi, visa dan lain-lain, dan akhirnya lolos.
Kecapekan karena telah tinggal di Jakarta selama tiga hari untuk presentasi yang menegangkan, dan karena tidak mungkin untuk melihat pemandangan di gulitanya malam, saya; seperti biasa langsung tertidur pulas, di kursi 11 C. Rekan kerja di kursi 11 A, terlihat tidak bisa menikmati perjalanan, entah karena kurang fit atau tangisan si bayi di depan kami, atau karena memikirkan presentasi di Chita Terminal.

Saat bangun, semburat merah sang surya terlihat dari jendela, mengingatkan bahwa saya belum sholat subuh. Pagi terasa cepat menjadi siang, membuat bertanya-tanya.. Kok aneh???
Ternyata terjawab saat pramugari mengumumkan bahwa waktu Tokyo lebih cepat 2 jam dari Jakarta.
Teringat sebuah buku tentang time travelling, bahwa ternyata perjalanan ini melampaui kecepatan waktu sebesar 2 jam. Hmmm… umurku berkurang 2 jam!!!
4 Nopember,
Perjalanan kurang lebih 7 jam tersebut berakhir sekitar jam 9.45 waktu Narita. Sekilas kupandangi bandara internasional tersebut dari ketinggian Airbus Garuda yang mulai menurun, tampak tak beda dengan pemandangan bandara-bandara lain di Indonesia.
Touch down!
Keluar dari terminal kedatangan Narita, langsung naik train menuju main building. Sebelum mengambil bagasi, kami harus lolos dari petugas Imigrasi. Setelah antri beberapa saat, tiba giliran saya menghadap si petugas yang kurang fasih berbahasa Inggris, dengan beberapa pertanyaan ringan, cap jari dan clearance. Sambil memesan karcis Narita express yang berharga 2,740 yen, kami sempatkan menukar uang ke money changer yang berada di sekitar pengambilan bagasi.
Waktu yang sangat mepet dengan jadwal kereta membuat kami ketar-ketir. Naik di car 9, kereta datang tepat waktu dan tepat berhenti sesuai nomor car, tidak meleset sedikitpun dan segera berjalan mengantarkan kami ke stasiun Tokyo. Bersihnya kereta dan sepinya penumpang mengingatkan saya dengan suasana kontradiktif saat beberapa tahun lalu, sewaktu masih menjadi mahasiswa, naik kereta dari stasiun Malang ke Pasar Senin, yang berjubel, dengan lorong-lorong yang terisi penumpang. Bagaimana ya sekarang keadaannya? Apa masih seperti itu? Mudah-mudahan sudah berbenah...:(
Satu jam, kami sampai di stasiun Tokyo, dan langsung pindah kendaraan untuk acara yang telah disiapkan. Business Lunch!!!. Selesai dari sana, kami masih ditunggu untuk courtesy call lain. Dan karena dibatasi jadwal kereta peluru atau yang dikenal dengan Shinkasen ke Nagoya, maka kami pun harus bergegas.
Di Jepang terkesan semua serba cepat dan terburu-buru. Disepanjang jalan dan ketika sampai di stasiun, ritme hidup yang serba tergesa-gesa terlihat dari cara berjalannya orang-orang Jepang yang sedikit berlari seperti olah raga jalan cepat. Waktu yang mepet, sekali lagi sebenarnya menakutkan saya, dan menimbulkan pertanyaan kenapa ya mereka kok tidak terlalu khawatir dengan connecting schedule yang serba mepet?.
Perlahan jawabannya terkuak, saat melihat kedatangan kereta Shinkasen yang sangat tepat waktu bahkan by minutes. Bahkan car nya (gerbong) berhenti tepat di depan nomor car yang yang tertulis di lantai pinggir jalur kereta, tanpa meleset sedikitpun. Mereka confident dengan ketatnya jadwal karena semua on time!!!!!

Naik Shinkasen pertama kalinya memberi sensasi yang mengagumkan. Smooth, kencang, spasi yang business/executive-like, pelayanan yang ramah dan yang tidak kalah pentingnya toilet yang bersih sekali….:)
Tiba di Nagoya, kami langsung menuju Hotel Tokyu Nagoya. Tidak seperti hotel-hotel di Indonesia dengan kelas yang sama yang mempunyai luas ruangan berlebih, ruang hotel ini meski terkesan modern, namun agak sumpek, khususnya untuk saya yang orang Indonesia. Cerminan rumah orang jepang yang minimalis dari segi luasnya.

Malam menjelang, dan kami sempatkan berjalan-jalan disekeliling hotel, untuk makan malam. Dengan menu khusus, sabu-sabu yang tentunya original Jepang.
Sama seperti yang saya alami saat makan sabu-sabu di Jakarta, kali ini pun demi menghormati tuan rumah, saya harus menghabiskan sabu-sabu, yang katanya mahal tersebut diringi dengan 1 teko penuh teh Jepang untuk menetralisir mual-mual. Terlihat ekspresi aneh pelayan restoran saat melihat beberapa daging segar dipiring saya masih tersisa. “Dasar Ndeso!”, mungkin itu pikirnya…
Saat yang saya tunggu pun datang, ketika daging-daging merah tersebut akhirnya dicelupkan ke air panas sehingga matang… HMMMMM Alhamdulillah. Ditambah dengan keluarnya sayur, nasi, yang berbeda dengan nasi Indonesia, dimana nasi jepang sangat punel (sticky) dan gurih sehingga di gado pun akan terasa nikmat.
Sekitar jam 9 waktu setempat kami pulang dengan perut kenyang.
Suhu terasa seperti saat di ruangan ber AC. Mungkin sudah 15 derajat Celcius. Ya memang sebelum berangkat saya sempat diingatkan bahwa musim dingin sudah mulai menjelang, sehingga suhu kemungkinan akan drop.
Bagi saya yang tidak sering merasakan suhu sedingin ini, rasanya selalu mendapat sensasi yang luar biasa manakala terterpa angin sepoi-sepoi yang terasa sampai ke tulang. Susahnya mengungkapkan rasa dingin yang dingin ini, tiba-tiba menjadikan saya agak puitis, "Seandainya rasa ini bisa dituliskan dengan kata-kata, sungguh bahagia sekali bisa menikmatinya lain waktu dari membacanya"!!! Hmmmmm...
Di sepanjang jalan, berjejer tidak terlalu jauh satu sama lain, vending machine, yang menjual mulai dari minuman sampai camilan. Mencoba memasukkan 10 yen untuk sebotol fresh water, membuat saya semakin merenungi bahwa hidup disini terasa dikelilingi robot. Semua serba dibantu mesin.

Setiba di hotel, sholat jamak Maghrib dan Isya. Dan tanpa menunggu lama, kesadaran seakan sudah tak tertahan…
Nyenyak sekali setelah sehari sebelumnya tidur duduk di kelas Ekonomi Garuda, airliner kebanggaan Indonesia, dan langsung seharian dihadang aktifitas resmi.
5 Nopember,
Pagi jam 9.45 kami sudah dijemput semacam mobil alphard, yang disebut 'bus' oleh pendamping kami dari Jepang. Beda dengan mobil Indonesia yang semakin dingin semakin nyaman, saat masuk ke mobil jemputan ini, badan terasa gerah karena adanya heater. Ah dasar orang Indonesia…..
Sesampai di ruang meeting, para peserta sudah lengkap. Ups.. untuk reminder, jangan lupa membawa kartu nama untuk kegiatan seperti ini, karena sangat penting untuk sosialisasi.
Meeting dimulai, dan presentasi serba diisi dengan bahasa Jepang. Untuk menghormati tuan rumah (lagi), dan sekaligus belajar bahasa Jepang, saya berusaha keras memelototkan mata, agar tidak tergoda untuk ngantuk.
Satu keunikan lain adalah dari sekian puluh presentasi, hampir tidak ada satupun peserta yang bertanya. Apakah memang budaya atau karena sungkan karena ada kami ya…? Diakhir acara, setelah welcome speech dari leader delegasi Indonesia, acara ditutup dengan souvenir presentation.
Acara belum langsung berakhir, karena kami masuk ke dalam kompleks LNG Receiving Terminal Chita untuk plant tour. Hampir sama dengan yang ada di Bontang, meski disini fungsinya lebih pada terminal penerima.
Hampir sama… kecuali dinner party nya, yang dilakukan disebuah restoran masakan Jepang terkenal, meski disana sulit membedakan mana restoran dan rumah kecuali dilengkapi dengan tiga buah kain dengan tulisan Jepangnya.
Lagi-lagi demi kesopanan, saya usahakan menikmati menu ikan dan daging mentah…dan orange juice beserta cokenya, ditengah toast sake dan bir yang oleh adat setempat adalah sebuah hal yang biasa. Sempat terdengar sebuah pertanyaan, “ You never drink alcoholic drink?” dengan mimik heran.
Sempat saya putar 1 piring berisi daging segar ke arah rekan yang kebetulan bisa menikmati masakan Jepang.
Nasib saya tertolong saat tempura muncul, jamur muncul, sup muncul, nasi muncul dan ice cream muncul.
Sesampai jam 9 waktu setempat kami selesaikan acara, karena esok harinya dilanjutkan dengan golf tournament bagi pegolf dan city tour/social gathering bagi non-golfer.Sesampai di hotel, sekali lagi saya tidak bisa menahan kantuk yang susah terkontrol. Jatuh tertidur….
6 Nopember (hari ke 2 di Nagoya),
Setelah mengantar para pemain golf berangkat sekitar jam 6.20, saya, seperti sehari sebelumnya pergi untuk makan pagi di restoran bawah, karena ternyata restoran atas yang mau kami coba, full booked. Menunya variatif dan yang paling penting ada nasi punel kesukaan saya. Ditambah chicken wings yang dibumbui wijen, membuat saya lupa bahwa kolesterol telah mulai meninggi. Menu lainnya, tipikal western dan Japanesse food.
Sambil menunggu city tour jam 10 local time, saya masih sempatkan packing karena kami harus check out langsung untuk nanti sore melanjutkan perjalanan ke Osaka.
Setelah check out kami sempatkan berjalan di sepanjang jalan sekitar hotel sekalian untuk berfoto ria. Jam 10, jemputan bus datang. Kami beruntung sekali ditemani oleh pendamping yang friendly dan talkactive.
Tour pertama untuk para non-golfer adalah Nagoya Castle, yang sehari sebelumnya saya lihat dibahas di In-Flight Magazine Garuda edisi Oktober. Hmm what a coincidence!
Tour pertama untuk para non-golfer adalah Nagoya Castle, yang sehari sebelumnya saya lihat dibahas di In-Flight Magazine Garuda edisi Oktober. Hmm what a coincidence!
Setelah puas berkeliling dan berfoto dan melihat performance semacam sandiwara di kompleks castle, kami lanjutkan ke Nagoya TV Tower yang tingginya sekitar 100 meter. Kami coba naik ke puncak dengan lift.Contoh baiknya tentang pengelolaan tempat wisata di sini, bahwa setiap tempat wisata dikelola dengan baik dan dikomersiilkan. Tak heran semua lokasi wisata terawat dengan baik.
Sebelum meninggalkan lokasi, kami sempatkan makan siang. Kali ini menunya friendly dengan lidah kami. Unagi (belut). Hmmm luar biasa…
Waktu yang semakin mepet dengan jadwal shinkasen kami jam 16.02 ke Osaka, tidak menghalangi langkah untuk melanjutkan mengeksplorasi Nagoya, dengan mengunjungi Toyota Automotive Museum. Yang mengagumkan, bahasa Indonesia digunakan juga dalam brosur selain bahasa Jepang. Setelah saya tanya kenapa, rekan kami menjawab, “Karena Indonesia salah satu big customer Toyota”.

Disana tidak hanya ditemui contoh mobil Toyota yang pertama, namun juga mobil eropa yang dipajang dengan rapi.
Sebelum mengakhiri aktifitas city tour karena sudah ditelpon bahwa tim golf telah selesai, kami masih menyempatkan diri berkunjung ke Old City of Nagoya, tempat second hand market, termasuk souvenir.
Didalamnya termasuk kuil yang indah dan serba merah yang mengingatkan saya akan Masjid Cheng Ho di Surabaya.

Sekali lagi, kami akhirnya berangkat menuju stasiun Shinkasen untuk melanjutkan perjalanan. Datang lebih awal, kami tunggu tim Golfer di sebuah Coffee Café diseberang stasiun Nagoya. Tak lama beliau-beliau datang, dan kami ditransfer ke rekan lain yang bertugas di Osaka.
Good by Nagoya. Will always miss you.
Seperti sebelumnya, Shinkasen datang tepat waktu, pas di jam 16.02, di depan pintu masuk nomor 8, tidak meleset sedikitpun! Sesuai dengan karcisnya.

Kami lanjutkan ke Osaka, sekitar 1 jam. Saking nyamannya, lagi-lagi saya tertidur dengan nyenyak. Turun di stasiun, kami ambil dua taksi ke hotel. Yang menarik dari taksi di Jepang adalah:1. Argonya yang sangat mahal.
2. Mobilnya yang agak high class dan antik semacam Cressida dan Prius.
3. Drivernya yang selalu pakai suit lengkap (jas, dasi dan sarung tangan). Plus tissue basah seperti disebuah airline.
Sesampai dihotel, kami hanya diberi waktu untuk menyimpan luggage, karena sudah ditunggu makan malam di sebuah restoran semacam hoka-hoka bento jam 6.
Sebelum pergi saya sempatkan ke receptionist untuk pinjam plug versi Indonesia untuk charge HP dan kamera. Karena di Jepang, rata-rata plug yang digunakan adalah yang pipih, berbeda dengan plug bundar yang umum kita gunakan.

Makan malam ini, meski hampir sama menunya, yaitu ikan dan daging mentah, namun lebih lumayan karena disiapin pemanggang. Beberapa porsi daging lidah saya lahap, tentunya setelah saya masukkan ke pemanggang. Kali ini nasi sesegera mungkin dikeluarkan, mungkin karena rekan Jepang kami beberapa kali melihat saya dan teman yang tersiksa dengan makanan yang serba mentah dan tanpa nasi.
Selesai makan malam, sebelum ke hotel kami sempatkan ke downtown of Osaka; Shinsai Bashi. Sebuah tempat yang ramai padat yang menjajakan segala macam komoditi, mulai makanan, cindera mata, sampai teman karaoke.Tak lama, kami beranjak ke Hotel Rihga Osaka. Tidur, dan……
7 Nopember,
Jam 8.15, kami naik Shinkasen regular non reserved menuju Kyoto. Berbeda dengan yang reserved, kereta ini lebih padat penumpang, sehingga bagasi saya yang besar terpaksa membuat repot pendamping kami, karena tidak bisa dibawa masuk. Untungnya hanya sekitar 15 menit, kami sampai di Kyoto, ibukota Jepang sebelum Tokyo (Kyoto kalau dibolak-balik = Tokyo). Acara hari Minggu ini memang dikhususkan untuk city tour sebelum kami menyelesaikan acara resmi.
Tempat pertama kunjungan kami adalah Golden Temple, sebuah tempat peristirahatan Kaisar Jepang tempo dulu. Disebut Golden temple karena temple tersebut berwarna kuning emas (atau mungkin memang dilapisi emas).
Di golden temple, kami membuktikan bahwa dunia ini memang tidak terlalu besar. Serombongan dosen Indonesia yang sedang mengikuti acara, kami temui ditempat yang sama dengan aktifitas yang sama pula. Foto-Foto!
Setelah beberapa jam berkeliling, kami lanjutkan menuju sebuah Shrine yang serba merah, yang banyak dipenuhi anak kecil berkimono. Disini nasib sial dibuang melalui kertas dan nasib baik dipajang melalui kayu. Saya sempatkan berpikir, kira-kira jika dimintai sebuah wish, apa ya….. yang akan saya minta? Sayangnya saya sudah tidak terlalu percaya dengan hal-hal berbau takhyul...

Acara diakhiri di Sanmon, sebuah kuil kayu jaman dulu dengan arsitektur yang menakjubkan, dengan tangga yang hampir 45 derajat.


Setelah itu, akhirnya kami dilepas di stasiun Kyoto untuk a night-stay di Tokyo. Dengan Shinkasen selama sekitar 2 jam, kami susuri perjalanan yang mengasyikkan dengan pemandangan sepanjang rel yang hampir sama dengan di Indonesia.

Sesampai dihotel Villa Fontaine, lagi-lagi kami tidak ingin menyia-nyiakan waktu dengan langsung keluar, ke kota untuk makan malam sekaligus sight-seeing.
Keunikan lain dengan orang jepang adalah lamanya waktu makan. Siang sebelumnya saat di Kyoto, kami menghabiskan waktu hampir 2 jam, hanya untuk menghabiskan makan siang yang dikeluarkan sepiring demi sepiring, sambil bincang bisnis dan sosialisasi.
Waktu yang semakin sempit dan dibatasi jadual kereta tidak memprovokasi pendamping kami untuk tergesa-gesa menghabiskan makanan. Menurutnya, makan memang harus santai, rileks dan bisa digunakan untuk mempererat hubungan.
Demikian juga untuk business dinner malam ini. Sepiring-demi sepiring yang dikeluarkan memang efisien membuat kami duduk tak bergerak hingga sekitar jam 9.30 malam, saat hampir sebagian besar toko sudah mulai bertutupan. Hingga akhirnya saat keluar restoran tidak ada lagi yang bisa dilakukan kecuali ke hotel dan tidur.
Sebelum tidur, saya sempatkan untuk menset acara meeting besok pagi, agar tidak terkendala. Setelah agenda terset dengan pasti, saya paksa mata untuk stand by guna menemani packing karena besok pagi jam 7 kami harus sudah siap untuk acara meeting lagi, sebelum kembali pulang ke Indonesia dengan penerbangan jam 12 Garuda.
8 Nopember,
Jam 06.30 kami sudah siap check out sambil menunggu dijemput untuk meeting sekaligus makan pagi. Sebutan kerennya 'breakfast meeting'. Sebelum berangkat saya coba ingatkan kepada rekan kami dari Jepang, bahwa jam 9 paling lambat kami harus berangkat ke Bandara Narita. Karena melihat gelagat lamanya waktu makan kami sebelumnya, kuatirnya bisa-bisa 2 jam atau lebih hanya untuk makan!
Ternyata, setelah melewati 1,5 jam makan pagi yang padat diisi dengan agenda meeting, akhirnya kami dikembalikan ke hotel. Agar cepat dan mencari suasana baru dibanding saat kami berangkat ke Tokyo yang memakai Narita Express, kami putuskan naik taksi dari Tokyo ke Narita.

Dan seperti yang saya katakan di cerita awal, bahwa tarif taksi Jepang memang terbukti mahal.
Perjalanan 1 jam yang kami tempuh, hampir setara dengan perjalanan taksi saya dari pusat kota Jakarta jln. M.H. Thamrin ke Bandara Soekarno- Hatta.
Bedanya, kalau ke Bandara Soekarno-Hatta, rata-rata tarifnya sekitar 100-150 ribu rupiah, namun perjalanan kami dari Tokyo ke bandara Narita memakan tarif sebesar 25,000 yen (setara 2 juta setengah rupiah).
Sesampai di Narita, dan setelah menyelesaikan urusan imigrasi, kami sempatkan ke Akirabara, sebuah duty free shop, untuk sekedar oleh-oleh. Setelah puas, kami tukarkan sisa-sisa Yen ke money changer yang tersedia sangat banyak di Narita.
Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.15 saat kami sadar bahwa kami masih ada diluar waiting room, yang harus ditempuh dengan naik train. Berlarian, takut ketinggalan pesawat, kami dag-dig-dug, menunggu transport, yang akhirnya muncul….
Hmmmm, kelihatannya kami sudah menyerupai penduduk Jepang. Jalan kecil-kecil setengah berlari dan dengan waktu yang serba mepet…!.
Terima kasih. Khususnya kepada rekan-rekan kami di Jepang yang telah mendampingi selama perjalanan kali ini. Arigatogozaimasu. Tokuni konkai no ryoko no ma ni doko sa rete iru Nippon de no doryo ni.
Sayonara Nippon. Mata jikai o shanso shite kudasai.
Oct 22, 2010
Corporate Social Activities
Beberapa tahun lalu, setelah sekian lama tidak menjenguk kampung halaman, saya dikejutkan dengan banyaknya lalat beterbangan. Selidik punya selidik, ternyata sedikit ke arah utara dari perkampungan, terdapat kandang ayam potong, dimana pada musim tertentu menyebabkan bermunculannya lalat. Meski disana-sini beberapa tetangga banyak yang komplain, namun untungnya tidak sampai memunculkan respon yang radikal atas keberadaan kandang. Anda tahu kenapa? Salah satunya karena pendekatan yang dilaksanakan oleh pemilik kandang.
Pada setiap musim panen ayam, pemilik kandang tidak segan berbagi kebahagiaan, entah berupa ayam, atau dalam bentuk in-kind lainnya misalnya beras, kain dan sebagainya.
Pendekatan ini dilakukan juga oleh para peternak burung wallet di sebuah kota pesisir Kalimantan Timur kepada para tetangga dekat yang sering kejatuhan kotoran burung penghasil dolar ini. Mereka tak lupa berbagi dengan tetangga-tetangga sekitar sarang waletnya saat panen tiba.
=========
Flash back ke dekade70-80-an, di sebuah pesisir pantai timur Kalimantan, sebuah proyek raksasa dibangun. Disekelilingnya tidak ada kegiatan komunitas yang signifikan, kecuali sebuah perkampungan nelayan dengan jumlah penduduk sekitar 10 ribuan yang sebagian besar tinggal diatas laut.
Tercatat dalam buku sejarah bahwa kota yang sebelumnya hanya sebuah desa nelayan tersebut , sekarang menjadi salah satu kota terkaya di Indonesia, kota teraman dengan hubungan antar penduduk dan perusahaan yang harmonis, serta prestasi membanggakan lainnya.
Lantas bagaimana bisa terjadi seperti itu?
Banyaknya pekerja pendatang baik nasional maupun asing, mendorong kebutuhan lainnya yang diperlukan untuk hidup normal dalam bermasyarakat. Para pekerja proyek butuh keluarga, butuh pasar, butuh sekolahan, butuh perumahan, butuh keamanan, butuh pemerintahan lengkap, butuh transportasi, dan lain-lain.
Maka dibangunlah jalan perintis, barak, pasar, sekolahan, dan sarana lain, tidak hanya didalam kompleks namun juga di luar kompleks…. Kenapa perusahaan ini bersusah payah melakukan hal tersebut. Karena dia dan komunitasnya membutuhkan komunitas lain, untuk memenuhi syaratnya sebagai makhluk sosial.
=======
Peternak sarang burung wallet dan ayam potong yang tersebut dalam narasi saya diatas mungkin tidak pernah mendengar istilah Corporate Social Responsibility (CSR) atau COMDEV. Apalagi membaca buku Cannibals with Forks: Triple Bottom Line of 21st Century Business: karya John Elkington yang mendasari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Mereka juga belum tentu pernah membaca KEPMEN BUMN No. 236 /2003 yang mengatur PK dan BL. Atau UU Perseroan Terbatas dan Investasi, yang salah satu ayatnya mengatur tentang perlunya pelaksanaan tanggung jawab sosial.
Demikian juga dengan Perusahaan yang saya ceritakan diatas. Di era itu; 70-an, konsep CSR dan COMDEV mungkin belum pernah dibicarakan secara fokus. Alih-alih mengenal ISO 26000 yang baru saja disiapkan untuk mengatur pengelolaan CSR.
Yang luar biasa, mereka bertiga dengan caranya masing-masing telah melakukan sebuah kegiatan sosial dengan spirit tanggung jawab sosial terhadap tetangga (baca = masyarakat) sekitarnya. Sekarang konsep ini gencar dikenal sebagai Corporate Social RESPONSIBILITY.
Tanpa harus diatur UU, PP, KEPMEN, ISO, mereka melakukan suatu kegiatan sosial dengan tujuan yang paling mendasar, yaitu karena KEBUTUHAN, bukan sekedar TANGGUNG JAWAB. Kebutuhan karena sang pemilik ternak ayam butuh tetangga yang suportif dengan usahanya. Kebutuhan karena sang peternak sarang burung wallet sadar bahwa kotoran burungnya tentunya mempunyai efek terhadap tetangganya. Kebutuhan karena perusahaan ingin melihat komunitas yang lengkap, mandiri dan saling melengkapi satu sama lain. Mereka telah melakukan kegiatan-kegiatan yang didasari pada dasar saling membutuhkan, menguntungkan dan tidak merugikan satu sama lain.
Kini CSR/COMDEV bukan lagi konsep asing. Hampir semua perusahaan besar terikat untuk melakukan peran sosialnya, selain harus berjuang untuk tujuan utamanya yaitu tujuan Ekonomi.
Dalam perjalanannya, peran sosial ini tak lepas “ditunggangi” juga dengan tujuan-tujuan lain, yang sampai kini masih sering kita temui pada pelaksanaan CSR perusahaan modern. Misalnya sebagai media publikasi, menjaga hubungan, dan lain-lain, yang muncul dari naluri sebuah badan usaha dimana jika memungkinkan segala macam kegiatannya hendaknya memberi keuntungan langsung.
Evolusi
Kesadaran untuk berbagi dengan lingkungannya, berevolusi mengambil bentuk yang bermacam-macam.
Metode paling mendasar dan sederhana mengambil bentuk charity. Model ini yang paling banyak ditemui di berbagai perusahaan, dengan cara memberikan bantuan langsung baik berupa dana maupun sarana untuk menunjukkan tanggung jawab sosialnya pada tetangganya. Tentunya banyak hal positif yang didapat dari model ini, meski menurut beberapa pengamatan model ini akan kurang memandirikan masyarakat.
Modenya terus berevolusi seiring kesadaran sang pemberi bantuan, bahwa kemandirian adalah yang perlu ditumbuhkan, sehingga pada waktunya nanti perusahaanpun tidak akan terlalu direpoti. Maka muncullah berbagai konsep, teori dan lain-lain untuk mencari bentuk pemberian bantuan yang paling pas, sustainable dan memandirikan serta “canggih”.
Termasuk penciptaan policy perusahaan yang mendorong kemandirian pengusaha lokal, dengan membuat aturan pembelian yang berpihak pada vendor local. Ketenagakerjaan, penumbuhan ekonomi riil. Semakin melebar ke lingkungan hidup, atau yang terakhir dengan dialignkannya program-program COMDEV perusahaan dengan Millenium Development Goals (MDGs).
Hingga akhirnya, CSR atau COMDEV atau PKBL atau entah istilah apa lagi, semakin hiruk pikuk mencari bentuk, mengembangkan konsep dan melakukan praktiknya. Semua berasal dari sebuah kesadaran sederhana,sesuai kondisi kemanusiaan kita, bahwa berbagi adalah baik meski kecil sekalipun. Sama halnya dengan ucapan Nabi Muhammad SAW sekitar 14 abad lalu yang kurang lebih demikian, “Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka daripadanya dengan baik”.
Ya CSR or COMDEV is not really as complicated as it is that discussed in the thick books, it is merely as simple as the last line of my last paragraph.
Pada setiap musim panen ayam, pemilik kandang tidak segan berbagi kebahagiaan, entah berupa ayam, atau dalam bentuk in-kind lainnya misalnya beras, kain dan sebagainya.
Pendekatan ini dilakukan juga oleh para peternak burung wallet di sebuah kota pesisir Kalimantan Timur kepada para tetangga dekat yang sering kejatuhan kotoran burung penghasil dolar ini. Mereka tak lupa berbagi dengan tetangga-tetangga sekitar sarang waletnya saat panen tiba.
=========
Flash back ke dekade70-80-an, di sebuah pesisir pantai timur Kalimantan, sebuah proyek raksasa dibangun. Disekelilingnya tidak ada kegiatan komunitas yang signifikan, kecuali sebuah perkampungan nelayan dengan jumlah penduduk sekitar 10 ribuan yang sebagian besar tinggal diatas laut.
Tercatat dalam buku sejarah bahwa kota yang sebelumnya hanya sebuah desa nelayan tersebut , sekarang menjadi salah satu kota terkaya di Indonesia, kota teraman dengan hubungan antar penduduk dan perusahaan yang harmonis, serta prestasi membanggakan lainnya.
Lantas bagaimana bisa terjadi seperti itu?
Banyaknya pekerja pendatang baik nasional maupun asing, mendorong kebutuhan lainnya yang diperlukan untuk hidup normal dalam bermasyarakat. Para pekerja proyek butuh keluarga, butuh pasar, butuh sekolahan, butuh perumahan, butuh keamanan, butuh pemerintahan lengkap, butuh transportasi, dan lain-lain.
Maka dibangunlah jalan perintis, barak, pasar, sekolahan, dan sarana lain, tidak hanya didalam kompleks namun juga di luar kompleks…. Kenapa perusahaan ini bersusah payah melakukan hal tersebut. Karena dia dan komunitasnya membutuhkan komunitas lain, untuk memenuhi syaratnya sebagai makhluk sosial.
=======
Peternak sarang burung wallet dan ayam potong yang tersebut dalam narasi saya diatas mungkin tidak pernah mendengar istilah Corporate Social Responsibility (CSR) atau COMDEV. Apalagi membaca buku Cannibals with Forks: Triple Bottom Line of 21st Century Business: karya John Elkington yang mendasari Tanggung Jawab Sosial Perusahaan. Mereka juga belum tentu pernah membaca KEPMEN BUMN No. 236 /2003 yang mengatur PK dan BL. Atau UU Perseroan Terbatas dan Investasi, yang salah satu ayatnya mengatur tentang perlunya pelaksanaan tanggung jawab sosial.
Demikian juga dengan Perusahaan yang saya ceritakan diatas. Di era itu; 70-an, konsep CSR dan COMDEV mungkin belum pernah dibicarakan secara fokus. Alih-alih mengenal ISO 26000 yang baru saja disiapkan untuk mengatur pengelolaan CSR.
Yang luar biasa, mereka bertiga dengan caranya masing-masing telah melakukan sebuah kegiatan sosial dengan spirit tanggung jawab sosial terhadap tetangga (baca = masyarakat) sekitarnya. Sekarang konsep ini gencar dikenal sebagai Corporate Social RESPONSIBILITY.
Tanpa harus diatur UU, PP, KEPMEN, ISO, mereka melakukan suatu kegiatan sosial dengan tujuan yang paling mendasar, yaitu karena KEBUTUHAN, bukan sekedar TANGGUNG JAWAB. Kebutuhan karena sang pemilik ternak ayam butuh tetangga yang suportif dengan usahanya. Kebutuhan karena sang peternak sarang burung wallet sadar bahwa kotoran burungnya tentunya mempunyai efek terhadap tetangganya. Kebutuhan karena perusahaan ingin melihat komunitas yang lengkap, mandiri dan saling melengkapi satu sama lain. Mereka telah melakukan kegiatan-kegiatan yang didasari pada dasar saling membutuhkan, menguntungkan dan tidak merugikan satu sama lain.
Kini CSR/COMDEV bukan lagi konsep asing. Hampir semua perusahaan besar terikat untuk melakukan peran sosialnya, selain harus berjuang untuk tujuan utamanya yaitu tujuan Ekonomi.
Dalam perjalanannya, peran sosial ini tak lepas “ditunggangi” juga dengan tujuan-tujuan lain, yang sampai kini masih sering kita temui pada pelaksanaan CSR perusahaan modern. Misalnya sebagai media publikasi, menjaga hubungan, dan lain-lain, yang muncul dari naluri sebuah badan usaha dimana jika memungkinkan segala macam kegiatannya hendaknya memberi keuntungan langsung.
Evolusi
Kesadaran untuk berbagi dengan lingkungannya, berevolusi mengambil bentuk yang bermacam-macam.
Metode paling mendasar dan sederhana mengambil bentuk charity. Model ini yang paling banyak ditemui di berbagai perusahaan, dengan cara memberikan bantuan langsung baik berupa dana maupun sarana untuk menunjukkan tanggung jawab sosialnya pada tetangganya. Tentunya banyak hal positif yang didapat dari model ini, meski menurut beberapa pengamatan model ini akan kurang memandirikan masyarakat.
Modenya terus berevolusi seiring kesadaran sang pemberi bantuan, bahwa kemandirian adalah yang perlu ditumbuhkan, sehingga pada waktunya nanti perusahaanpun tidak akan terlalu direpoti. Maka muncullah berbagai konsep, teori dan lain-lain untuk mencari bentuk pemberian bantuan yang paling pas, sustainable dan memandirikan serta “canggih”.
Termasuk penciptaan policy perusahaan yang mendorong kemandirian pengusaha lokal, dengan membuat aturan pembelian yang berpihak pada vendor local. Ketenagakerjaan, penumbuhan ekonomi riil. Semakin melebar ke lingkungan hidup, atau yang terakhir dengan dialignkannya program-program COMDEV perusahaan dengan Millenium Development Goals (MDGs).
Hingga akhirnya, CSR atau COMDEV atau PKBL atau entah istilah apa lagi, semakin hiruk pikuk mencari bentuk, mengembangkan konsep dan melakukan praktiknya. Semua berasal dari sebuah kesadaran sederhana,sesuai kondisi kemanusiaan kita, bahwa berbagi adalah baik meski kecil sekalipun. Sama halnya dengan ucapan Nabi Muhammad SAW sekitar 14 abad lalu yang kurang lebih demikian, “Kalau kamu memasak sayur, maka perbanyaklah kuahnya. Kemudian lihatlah keluarga dari tetanggamu. Dan berilah mereka daripadanya dengan baik”.
Ya CSR or COMDEV is not really as complicated as it is that discussed in the thick books, it is merely as simple as the last line of my last paragraph.
Sep 27, 2010
Storm 2: Sebuah Keajaiban Berkomunikasi
Sejak kemunculan generasi pertamanya, hp touch screen selalu menjadi langganan. Bukan anti qwerty, tapi agak kurang nyaman dipegang. Mungkin karena jempol jari yang semakin gemuk, atau karena kesan seksi dan terasa praktis pengoperasiaannya.
Sampai saat ini, SE M600i dengan OS Symbian UIQ3, yang merupakan salah satu resistive touch screen generasi pertama masih terawat, meski harus sudah ganti screen. Disusul dengan HTC Touch Diamond, dimana seperti HTC yang lain, ber OS WM, dan merupakan salah satu very SMART phone tak terkalahkan, juga masih mulus 3D swipe screennya.
Tidak ada ketertarikan sama sekali untuk memakai BlackBerry, saat itu, meski saya sangat keranjingan internet. Dengan satu alasan simple. Karena belum ada BB touch screen. Hingga beberapa tahun lalu sebuah Blackberry dengan tag name Storm muncul. Masih belum tergerak. Sampai akhirnya saat ke Bandung setengah tahun lalu, saya menyerah untuk beralih ke BlackBerry… Dengan alasan yang simple. Ada blackberry Touch Screen… STORM 2 a.k.a Odin 9550.
Setengah tahun saya bereksplorasi dengan berpindah-pindah provider untuk menjajal layanan BIS nya (Blackberry Internet Services). Hingga akhirnya, karena rekomendasi kantor, sekarang saya lengket dengan layanan BES (Blackberry Enterprises Services).
Bagi saya pribadi, kesempatan beralih dan bereksplorasi dengan berbagai HP dengan berbagai OS (atau bahkan mulai dari yang tidak ber OS) member beberapa kesimpulan ttg segmentasi HP. Secara umum seluler akhirnya saya kategorikan menjadi tiga besar:
1. Segmen untuk komunikasi
2. Segmen untuk multimedia
3. Segmen untuk bisnis
Saya masukkan HP untuk segmen komunikasi antara lain Nokia, SE, LG, Samsung, HTC dan hp local lainnya. Dengan kecanggihannya alat ini sangat mendukung komunikasi kita.
Semakin kesini, muncul focus lebih dari beberapa seluler untuk menjadi alat Multi Media. Saya kategorikan IPhone, SE tertentu, Nokia tertentu ke dalam kategori ini.
Dan akhirnya saya kategorikan BB sebagai alat Bisnis, karena ternyata fungsi komunikasi selama ini menjadi nomor 2. Email, Instant Messaging dan Browsing menjadi fungsi nomor 1. Hal ini didukung kemampuan BB untuk selalu online 24 jam tanpa terputus, dengan daya tahan baterai seperti HP lain. Tekhnologi push email yang real time, adalah sebuah keajaiban bagi saya, yang memang sejak awal mengenal internet sudah menjajal wasantara net. Kemampuan standby untuk instant messaging dg YM, BBM, FB, dll memberi sebuah rasa addicted dan aman, karena yakin selalu bisa terhubung. Kemampuannya untuk bisa browsing kapanpun dibutuhkan, membuat hidup serasa mempunyai asisten.
Sebuah revolusi yang radikal dalam berkomunikasi!!! Atau sebuah revolusi yang semakin membuat ras manusia tergantung pada sebuah gadget…..!!!!
Sampai saat ini, SE M600i dengan OS Symbian UIQ3, yang merupakan salah satu resistive touch screen generasi pertama masih terawat, meski harus sudah ganti screen. Disusul dengan HTC Touch Diamond, dimana seperti HTC yang lain, ber OS WM, dan merupakan salah satu very SMART phone tak terkalahkan, juga masih mulus 3D swipe screennya.
Tidak ada ketertarikan sama sekali untuk memakai BlackBerry, saat itu, meski saya sangat keranjingan internet. Dengan satu alasan simple. Karena belum ada BB touch screen. Hingga beberapa tahun lalu sebuah Blackberry dengan tag name Storm muncul. Masih belum tergerak. Sampai akhirnya saat ke Bandung setengah tahun lalu, saya menyerah untuk beralih ke BlackBerry… Dengan alasan yang simple. Ada blackberry Touch Screen… STORM 2 a.k.a Odin 9550.
Setengah tahun saya bereksplorasi dengan berpindah-pindah provider untuk menjajal layanan BIS nya (Blackberry Internet Services). Hingga akhirnya, karena rekomendasi kantor, sekarang saya lengket dengan layanan BES (Blackberry Enterprises Services).
Bagi saya pribadi, kesempatan beralih dan bereksplorasi dengan berbagai HP dengan berbagai OS (atau bahkan mulai dari yang tidak ber OS) member beberapa kesimpulan ttg segmentasi HP. Secara umum seluler akhirnya saya kategorikan menjadi tiga besar:
1. Segmen untuk komunikasi
2. Segmen untuk multimedia
3. Segmen untuk bisnis
Saya masukkan HP untuk segmen komunikasi antara lain Nokia, SE, LG, Samsung, HTC dan hp local lainnya. Dengan kecanggihannya alat ini sangat mendukung komunikasi kita.
Semakin kesini, muncul focus lebih dari beberapa seluler untuk menjadi alat Multi Media. Saya kategorikan IPhone, SE tertentu, Nokia tertentu ke dalam kategori ini.
Dan akhirnya saya kategorikan BB sebagai alat Bisnis, karena ternyata fungsi komunikasi selama ini menjadi nomor 2. Email, Instant Messaging dan Browsing menjadi fungsi nomor 1. Hal ini didukung kemampuan BB untuk selalu online 24 jam tanpa terputus, dengan daya tahan baterai seperti HP lain. Tekhnologi push email yang real time, adalah sebuah keajaiban bagi saya, yang memang sejak awal mengenal internet sudah menjajal wasantara net. Kemampuan standby untuk instant messaging dg YM, BBM, FB, dll memberi sebuah rasa addicted dan aman, karena yakin selalu bisa terhubung. Kemampuannya untuk bisa browsing kapanpun dibutuhkan, membuat hidup serasa mempunyai asisten.
Sebuah revolusi yang radikal dalam berkomunikasi!!! Atau sebuah revolusi yang semakin membuat ras manusia tergantung pada sebuah gadget…..!!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)












