“The Traveller--Two roads diverged in a wood and I – I took the one less traveled by.” – Robert Frost! Catatan Perjalanan.: CREATING SHARED VALUE (MENCIPTAKAN NILAI/MANFAAT BERSAMA)

Catatan Perjalanan.

Jan 4, 2013

CREATING SHARED VALUE (MENCIPTAKAN NILAI/MANFAAT BERSAMA)

“.. sebenarnya perusahaan-perusahaan yang kali ini mendapatkan peringkat emas sudah mengarah ke CSV. PT Badak NGL sebagai contoh, dalam upayanya merehabilitasi hutan mangrove telah mengembangkan pembibitan mangrove bekerja sama dengan kelompok tani setempat.”(Agnes Aristiarini, PROPER yang memberdayakan Masyarakat, KOMPAS, 7 Desember 2011)


Creating Shared Value (CSV) adalah sebuah konsep dalam strategi bisnis yang menekankan pentingnya memasukkan masalah dan kebutuhan sosial dalam perancangan strategi perusahaan. CSV merupakan pengembangan dari konsep tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate social responsibility, CSR). Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh Michael Porter dan Mark Kramer pada tahun 2006 dalam artikel Harvard Business Review. Artikel tersebut berisi pemahaman dan contoh relevan perusahaan yang telah mengembangkan hubungan mendalam antara strategi perusahaan dengan tanggung jawab sosial. Konsep ini kemudian dibahas lagi secara mendalam pada artikel "Creating Share Value" pada tahun 2011.


Konsep CSV didasari pada ide adanya hubungan interdependen antara bisnis dan kesejahteraan sosial. Porter mengkritik bahwa selama ini bisnis dan kesejahteraan sosial selalu ditempatkan berseberangan. Pebisnis pun rela mengorbankan kesejahteraan sosial demi keuntungan semata, misalnya dengan melakukan proses produksi yang tidak memperhatikan lingkungan atau menciptakan polusi. CSV menekankan adanya peluang untuk membangun keunggulan kompetitif dengan cara memasukan masalah sosial sebagai bahan pertimbangan utama dalam merancang strategi perusahaan.

Konsep CSV menempatkan masyarakat termasuk pemangku kepentingan ( dan pemasok) sebagai mitra, sesama subyek. Sementara konsep CSR cenderung menempatkan pemangku kepentingan sebagai obyek.

Menurut Porter, perusahaan seyogyanya lebih menerapkan CSV dibanding CSR. CSR tidak sama dengan CSV, meski keduanya mempunyai landasan yang sama yaitu "doing well by doing good." Perbedaan utama antara keduanya adalah bahwa CSR berbicara tentang “responsibility”, sedangkan CSV sudah menapak pada penciptaan nilai bersama/ creating value. CSV adalah transformasi atau pengembangan dari CSR. Dalam artikelnya, The Big Idea: Creating Shared Value, Porter dari Harvard University mengingatkan bahwa implementasi CSV jauh di atas CSR yang umumnya berfokus pada reputasi. “Penciptaan nilai bersama adalah bagian integral dari keuntungan dan daya saing perusahaan. Namun, mengubah nilai sosial menjadi nilai ekonomi memang tidak mudah,” kata Poter.

Lebih jauh bisa disimpulkan perbedaan antara CSR dan CSV sbb:

1. Value
CSR: berbuat baik
CSV: keuntungan sosial-ekonomi berbanding penghematan

2. Konsep
CSR: citizenship, philanthropy, keberlangsungan
CSV: penciptaan value/value creation secara bersama antara perusahaan & komunitas

3. Sifat
CSR: kebijakan atau respon atas tekanan luar
CSV: terintegrasi dengan daya saing usaha

4. Hasil
CSR: terpisah dari pencapaian keuntungan
CSV: terintegrasi dengan pencapaian keuntungan

5. Agenda
CSR: ditentukan oleh laporan dari pihak luar atau reaktif
CSV: dibuat dan ditentukan secara spesifik dari dalam organisasi

6. Dampak
CSR: dampak terbatas hanya pada anggaran CSR & peninggalan nama perusahaan
CSV: terintegrasi dengan keseluruhan anggaran perusahaan

Perusahaan dapat mewujudkan atau menciptakan shared value (CSV) dengan 3 cara:

1. Perusahaan perlu meredefinisi pasar dan produk. Apakah produk kita benar-benar diperlukan oleh pasar dan apakah produk kita tersebut benar-benar bernilai untuk pasar yang kita tuju, atau apakah produk kita ini bermanfaat serta bisa diakses oleh sebanyak-banyaknya konsumen.

2. Redefinisi Produktifitas sepanjang value chain. Apakah usaha yang kita jalankan benar-benar bermanfaat untuk produktivitas dari value chain perusahaan? Karena value chain perusahaan pasti dipengaruhi baik langsung maupun tidak langsung oleh lingkungannya, misalnya: isu sosial, lingkungan, kesehatan karyawan dan lain-lain. Seharusnya terdapat kesamaan tujuan antara produktifitas value chain perusahaan dan perkembangan lingkungan sekitarnya. Sinergi akan terjadi manakala perusahaan melakukan pendekatan sosial dari perspektif shared value & menciptakan cara-cara baru dalam menjalankan usahanya untuk mengakomodir isu-isu sosial tersebut.

Porter dan Kramer menyatakan ada beberapa komponen value chain yang dapat di improve, misalnya logistic, pemanfaatan sumber daya atau pengadaan (procurement). Hal ini dilakukan Nestle, salah satu produsen kopi instan, dengan aktif membantu petani kopi yang menjadi pemasoknya untuk meningkatkan kualitas produk. Unilever juga melakukan hal ini, dengan cara membina petani kedelai hitam yang memberikan kelasngusngan pasokan untuk produk kecap bango.

3. Mengembangkan Klaster Industri Pendukung di sekitar lokasi Perusahaan. Produktivitas & inovasi dari suatu perusahaan bergantung juga kepada tempat dimana perusahaan tersebut berada, suppliernya, penyedia jasa, dan lokasi infrastruktur logistiknya.Vendor untuk mendukung operasi perusahaan besar bisa diperoleh dari pengembangan industri disekitar perusahaan. PT Badak NGL misalnya melakukan program Local Business Development, dengan memberdayakan pedagang lokal dalam memenuhi kebutuhan. Tentunya diperlukan pembinaan dan pendampingan sehingga kualitas layanan yang diperlukan bisa kompetetif dengan vendor luar.

=================

Tak sedikit yang berpendapat bahwa istilah CSV tak lebih dari “akrobat” peristilahan yang sering terjadi di wilayah konseptualisasi CSR. Hingga saat ini tidak ada konsensus teoritis tentang konsep CSR yang tunggal dan absolute. Ada banyak perspesktif dan pemahaman.

Apa yang sesungguhnya menarik dari konsep CSV nya Porter dan Krammer adalah fakta bahwa CSV memberikan kerangka yang menyeluruh untuk mengembangkan integrasi antara masyarakat dan bisnis dalam menciptakan shared value. Kerangka CSV yang disampaikannya secara menyeluruh ini tidak mengulangi paradigma sektoral yang menyebabkan aktifitas CSR “jaman dulu” tidak bisa berkembang penuh.


Dari berbagai sumber









5 Comments:

At February 6, 2013 at 11:29 AM , Anonymous Anonymous said...

Hi! Do you use Twitter? I'd like to follow you if that would be okay. I'm definitely
enjoying your blog and look forward to new updates.
my webpage :: perfumes baratos

 
At May 26, 2013 at 5:02 AM , Anonymous Anonymous said...

Never mind. Pοur уourself a glаsѕ
of milκ ωhen youre hοme, гun a bath
and unwinԁ.

Herе is my web page: fast cash loan today

 
At May 29, 2013 at 5:18 AM , Anonymous Anonymous said...

I am wonԁеrіng ωhat age wе bеgіn
tο beсome wiser аnd tаke no nоtiсe of
all this rubbish.

my page: fast cash loan today

 
At May 30, 2013 at 5:20 AM , Anonymous Anonymous said...

So much for attempting this myself, I won't be able to manage it. I think I'll just learn about it іnstеad.



Check out my weblog - cash loan fast

 
At June 2, 2013 at 10:34 AM , Anonymous Anonymous said...

Thеre's always a new problem waiting to be solved as soon as you've solveԁ the first.
Neνеr ԁone еh.

Also viѕit my ωеblog; loans fast cash

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home