“The Traveller--Two roads diverged in a wood and I – I took the one less traveled by.” – Robert Frost! Catatan Perjalanan.: Yogyakarta yang Sangat "Merdeka"

Catatan Perjalanan.

Dec 30, 2012

Yogyakarta yang Sangat "Merdeka"

Berkunjung ke Yogya pada saat libur menghadirkan 2 pengalaman yang mungkin bertolak belakang. Satu sisi menyajikan penampilan Yogya sebagai kota turis yang maksimum, sedangkan disisi satunya menghadirkan berbagai "antrian" baik dalam arti fisik maupun psikis. Salah satu contohnya adalah susahnya mencari hotel.

Tanggal 24 sampai 29 Desember lalu, saya berkesempatan melakukan kegiatan ke kota yang terkenal dengan "kemerdekaan" berekspresinya. Dan hampir kebanyakan hotel disisi Malioboro, mulai hotel Mutiara, Garuda, Ibis dimana kami seharusnya berkegiatan, sudah sejak jauh hari di booking. Kalaupun ada hotel berbintang diseputaran pusat keramaian, yang masih adapun tinggal kelas tertinggi diatas 1,8 jutaan per malam.

Karena putus asa mencari hotel dengan jawaban reseptionis yang selalu penuh, akhirnya kami minta tolong rekanan kami di sono untuk membookingkan hotel yang setempat dengan kegiatan kami. Dan akhirnya dapatlah kami sebuah hotel yang mungkin baru ditelinga kita, Grand Dafam Merapi Merbabu, di jalan Suteran Raya, Sleman. Hanya karena acara kami dipindah ke hotel itu, maka akhirnya kami mengokekan untuk tinggal disana.

Bayangan jauh dipusat kota terus manghantui, apalagi ketika kami melihat di Google Map, ternyata lokasi tersebut jauh dari pusat kota.Rekan saya sempat nyeletuk, kok yo ada hotel di sini ya, sambil melihat google map???. Sesampai di hotel, belum sempat hilang bayangan miring kami, sudah  ada sedikit masalah dengan kamar kami, karena tidak sesuai dengan pesanan, dan terpaksa upgrade!.

Kami agak sedikit terhibur manakala, ketika sesampai disana sekitar jam 21.00, ternyata di sepanjang jalan di  hotel tersedia berbagai warung, restauran dan toko-toko swalayan, tidak kalah dengan Malioboro, bahkan mungkin lebih tenang dan masih "murni". Padahal selepas turun dari Lion yang sempat tertunda satu jam menjadi jam 19.15 terbang menuju Yogya, segala jenis restauran di Bandara sudah tutup atau kalaupun masih ada satu nasi padang yang buka tinggal ikan sama ayam saja lauknya....

Malam pertama, kami nikmati jalan suteran dengan makan penyetan tempe, dan bebek penyet, serta burung penyet dengan suguhan sambal yang belum pernah kami coba yaitu sambal "Dancuk". Dancuk adalah kata makian, yang di Jawa Timur tidak berarti makian. Namun sampai selesai makan saya belum paham kenapa sambalnya dinamai dengan Dancuk. Sempat saya katakan kepada penjualnya, bahwa kalau nanti sambalnya nggak enak, anda bisa saya maki-maki... hehehehe.. . Hmmm, Yogyakarta yang sangat "Merdeka"

Mengunjungi Yogya untuk yang kesekian kalinya, tidak menunjukkan adanya perubahan yang berarti. Ya seperti itu, perasaan sejak dulu. Jalanan masih mengakomodir becak, dokar. Sepanjang trotoar, selepas maghrib disulap menjadi tempat berjualan yang asyik. Baik makanan, maupun jualan hiburan lain semacam sepeda lampu diseputaran alun-alun. Beberapa kali saya lihat halaman warung diubah menjadi panggung menyanyi, selain satu yang saya lihat di Malioboro. Sebuah Yogya yang sangat "Merdeka".


Anda ke Yogya tanpa jalan ke Malioboro, terasa belum sah. Makanya saya sempatkan beberapa kali menyusuri jalanan Malioboro, termasuk Mirota nya Mbok Raminten. Dari ingatan tua saya, sejak pertama kali ke Yogya ya jalanannya Malioboro  tetap seperti itu. Termasuk gedung BNI nya ya sama. Jalanan yang memberi banyak saya kenangan, termasuk sepatu baru saya yang pernah hilang saat saya tinggal sholat di musholla stasiun... hehehehe.

Disana saya sempatkan masuk ke Mall Malioboro untuk mencari pesanan, dan ngopi di Excelso. Terus terang saya lebih marem ngopi di mall daripada di warung sepanjang Malioboro. Mungkin karena saya termakan oleh isu, bahwa pedagang disana kadang sembarangan dengan harga.

Bersama salah satu adik mahasiswa yang pernah PKL di Bontang, kami dipandu untuk mengeksplore lebih dalam tentang Yogya. Kami mulai dari gudeg Yu Jum ujung yang dikatakan favorit. Untuk memenuhi rasa penasaran kami tidak lupa untuk mencicipi Kopi Joss Lek No, diseberang rel kereta api. Klaimnya, ini adalah kopi joss pertama sebelum dicontrek oleh kopi joss yang lain. Wallahu alam. Yang jelas, kopi yang diisi arang ini betul-betul mengusir kantuk saya akibat kekenyangan setelah makan mie nyemek-nyemek Bu Giyo. Kopi joss, dari rasanya,  tidak berbeda jauh dengan kopi normalnya orang jawa yang cenderung kamanisan. Mungkin ada sedikit sensasi rasa karena ada arangnya, dan juga karena sekali-kali kita akan ngremus arang kecil yang ikut termakan. Anggap saja pil nurid untuk sakit perut... hahaha..

Lain halnya dengan mie nyemek2 Bu Giyo yang karena campuran telur bebeknya memberi rasa lain. Meski mejanya miring karena ternyata lantainya juga nggak rata, soalnya kalau siang ternyata warung tersebut adalah bengkel, namun rasanya kondisi tersebut malah membuatnya makin membikin penasaran pelanggan.. hehehehe. Saya betul betul merasakan enaknya mie tersebut.

Yang tak kalah "merdeka" nya adalah sate klatak ke arah Bantul. Awalnya saya ragu mau memesan sate ini, karena menurut pembelinya, sate klatak adalah sate tanpa bumbu, hanya dengan garam semata. Tapi kapan lagi mau nyoba, dan ternyata tenan ueeennnnaakkkkk. Mungkin karena nggak pernah merasakans ate model ini, karena sate yang saya kenal selama ini adalah sate Padang, Sate Madura, Sate Jawa yang semuanya berbumbu tebal. Disuguhi sate klatak, yang sederhana dan telanjang, membuat lidah terasa merasakan dunia lain... Lagi-lagi sebuah Yogya yang "Merdeka"..

Kesan keseluruhan kunjungan saya ke Yogya kali ini, benar-benar sangat mendalam. Kesan terbesar bahwa Yogya adalah sebuah kota yang berbeda dari kota sejenis. Dia hampir sama dengan Malang atau Bandung yang merupakan kota tujuan mahasiswa. Namun satu hal yang membedakan Yogya dengan mereka adalah kemerdekaannya dalam mengekspresikan ide-ide nakalnya. Seakan apapun yang ada dibenak kawula Yogya semuanya bebas merdeka untuk diungkapkan, diwujudkan dalam bentuk sate klatak, kopi joss, mie nyemek-nyemek Bu Giyo, bakpia Raminten; dimana saat pertama turun bandara foto Raminten yang agak aneh sudah menyedot komentar, Gudeg Yu Jum atau gudeg lainnya, sambal Dancuk, sepeda berlampu dan lain-lainnya.

Sebuah "Kemerdekaan" yang patut terus dipelihara!!!. Yogya, kulo badhe balik maleh, kapan-kapan! hehehehe.

1 Comments:

At May 26, 2013 at 5:02 AM , Anonymous Anonymous said...

Definіtely waѕnt the soгt of thing Ι ωas thinκing of.


my site ... fast payout loans

 

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

Links to this post:

Create a Link

<< Home